Puisi GIE 1

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi.

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.

apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta

Dari catatan harian GIE

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Puisi GIE

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang berbicara tentang kemerdekaaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka

yang tanpa tentara

mau berperang melawan diktator

dan yang tanpa uang

mau memberantas korupsi

Kawan-kawan

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

Teman Sejati

TEMAN SEJATI . . . mengerti ketika kamu berkata ” A k u l u p a . . “
Menunggu selamanya ketika kamu berkata ” T u n g g u s e b e n t a r “
Tetap tinggal ketika kamu berkata ” T i n g g a l k a n a k u s e n d i r i “
Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata
” B o l e h k a h s a y a m a s u k ? “

(unknow)

Hatimu telah mati

Langit menghadiahkan hujan sebagai tanda dukaku

matahari enggan muncul karena berkabung

dan iring-iringan yang membawa dalam kubur

telah larut dalam isak pedih

hatimu telah mati

di bunuh waktu

udara yang kau anggap teman

telah mencekikmu hingga pedih

dengan kerudung airmata

bening luka

kusaksikan jiwamu melayang menghadap kelam

tanpa bis akumemanggilmu

tanpa bisa kau unutk kembali

karena sungguh

hatimu telah mati

gresik,2007

pernah dimuat di horison sastra