karna,qt haruz!

Dan akhirnya qt memang musti berlayar
meninggalkan indah daratan
mengucapkan selamat tinggal pada semilir angin yang setia menyematkan kesejukan

Dan qt musti berlayar
menunjuk kompas qt kemana
berteman,lalu bermusuhan dg ombak
menapaki badai

Dan qt musti berlayar
menggapai pulau impian

untuk tman2 SMA 1

Di bawah langit warna-warni planet Kalanda

By lucia DE

Armela menunggu dengan gelisah sambil memilin-milin rambut ungunya. Hari ini adalah prosesi penyerahan Cincin Kard. Cincin yang berisi seluruh kekuatan jahat bangsa Cindra hitam. Cincin Kard selalu diturunkan disetiap generasi sejak nenek moyang Cindra putih berhasil melumpuhkan kekuatan Cindra hitam dalam cincin itu. Menurut cerita yang didengar Armela dari Nenek Key, setiap prosesi penyerahan berlangsung Cincin Kard itu akan semakin kuat. Dan generasi ke 100 bangsa Cindra putih harus mengalahkan satu-satunya Cindra hitam yang tersisa di planet Kalanda, yang tidak seorangpun tahu dimana dia sekarang. Lalu generasi ke seratus itu harus memusnahkan Cincin Kard itu selamanya sebelum Matahari tenggelam sempurna pada hari ke 15 bulan 5 sebelum kekuatan Cindra hitam dalam Cincin Kard bertambah besar dan mencapai titik sempurna.

Armela selalu saja begidik setiap nenek Key bercerita. Di kepalanya terbayang betapa berat tugas yang harus diemban oleh generasi ke 100 itu. Dan sekarang Armela baru menyadari kalau orang yang selama ini dikasihaninya itu tidak lain adalah dirinya sendiri. Armela tahu sejak awal bahwa dirinya Istimewa. Bila Cindra yang lain hanya punya satu kekuatan Alandra, seperti adiknya yang punya Alandra air atau Ibunya yang punya Alandra api maka Armela mempunyai 4 jenis Alandra. Keempat jenis Alandra yang dimiliki Armela adalah jenis Alandra yang merupakan elemen dasar di Planet Kalanda yaitu air, tanah, api dan udara. Sewaktu kecilpun banyak sekali kejadian aneh yang dialami gadis 16 tahun itu, banyak sekali orang yang tidak dikenal Armela tiba-tiba menyalaminya dengan tatapan aneh yang tidak dimengerti Armela. Lalu kelakuan aneh peramal tua Sherita yang bersikap tidak ramah dan menolak ketika Armela minta diramal.

“Armela, ayo segera ke lapangan. Semua orang sudah berkumpul dan menunggumu.” Crenia, satu-satunya sahabat Armela menyadarkannya dari lamunan. Crenia adalah seorang Cisonia, Cindra yang tidak punya kekuatan Alandra. Mama menemukan Crenia terluka di jalan saat usianya 5 tahun, karena kasihan mamapun membawanya untuk tinggal di rumah. Armela menghembuskan napas panjang, gadis cantik itu berjalan gontai ke lapangan. Armela tidak habis pikir kenapa harus dia yang menerima Cincin Kard itu. Kenapa harus dia yang harus memegang nyawa semua Cindra putih. Armela hanya ingin menjadi seperti gadis 16 tahun lainnya yang bisa bersenang-senang menikmati bunga di taman Ganita yang indah bersama pasangannya. Armela hanya ingin hidup normal tanpa beban. Tapi bagaimanapun dia tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya sebagai generasi ke 100 Cindra putih.

Prosesi penyerahan segera di mulai. Armela melihat sekeliling lapangan. Kursi-kursi sudah dipenuhi semua Cindra yang ingin menyaksikan prosesi ini. Kakek Qe sebagai pemegang Cincin Kard sudah berdiri di tengah lapangan. Armela merasakan kulitnya merinding dan tangannya gemetaran. Armela merasa takut yang luar biasa. Setelah ini dia akan menanggung hidup seluruh banga Cindra putih. Sedangkan bagaimana cara memusnahkan cincin itu saja Armela tidak tahu. Tidak ada yang tahu caranya.

“Armela!! Suara kakek Qe menggelegar di seluruh lapangan. Keringat dingin semakin mengucur deras di seluruh tubuh Armela.

“Armela, kemarilah sayang!! Jangan takut.” Suara Kakek Qe kembali terdengar memanggilnya. Dengan langkah berat Armela segera menuju ke tengah lapangan.

“Armela… kaulah generasi ke 100 bangsa Cindra putih dan kau yang akan memusnahkan cincin ini nanti. Jangan takut!! Karena kaulah orang yang terpilih itu. kami semua bangsa Cindra mengandalkanmu Armela.”

“Sekarang, berilah hormat pada nenek moyang bangsa Cindra putih, Hisogria Cindra.” Armelapun memberi penghormatan pada patung seorang wanita yang merupakan nenek moyang yang disembah bangsa Cindra Putih. Gemuruh sorak-sorai penoton yang memenuhi lapangan dan ucapan Kakek Qe membuat Armela yakin untuk mengemban tugasnya. Kakek Qe segera mengenakan Cincin Kard itu ke jari Armela. Aneh!! Begitu cincin itu melekat di jarinya, Armela merasa kekuatan Alandranya semakin berlipat ganda. Darahnya semakin mengalir deras. Armela merasakan api semangat yang semakin membuncah dalam dirinya.

* * *

Sudah 2 bulan sejak prosesi itu yang artinya ini bulan keempat tapi Armela masih belum tahu cara memusnahkan Cincin Kard itu. kakek Qe pernah berkata bila sampai matahari telah tenggelam sempurna tapi cincin itu masih belum musnah maka semua Cindra putih akan mati dan Cindra hitam akan bangkit dan menghancurkan dunia.

“tok….tok….tok……” Crenia datang membawa dua cangkir moze, minuman semacam teh yang terbuat dari daun moza.

“Armela, aku lihat akhir-akhir ini kau sering melamun. Sebenarnya ada apa?” tanya Crenia, gadis berambut hitam yang manis.

“Aku tidak apa-apa Cre, aku hanya……….”

“hanya apa? Katakan Armela. Bukankah selama ini kita tidak punya rahasia.” Memang benar, selama ini Crenia adalah sahabat terbaik Armela.

“Aku bingung sekali. Aku masih belum tahu cara memusnahkan cincin ini, padahal waktunya tinggal satu bulan lagi.” Kataku sambil memandangi Cincin Kard. Cincin itu cukup indah. Di tengahnya terukir lambang Cindra putih.

“Aku juga akan bingung sepertimu bila menerima tugas yang sangat berat itu. bahkan mungkin aku akan melarikan diri.”

“Lari??”

“Ya..lari.” jawab Crenia sambil meneguk mozenya. Armela mulai goyah. Lari?? Itu jalan paling mudah. Lagi pula sebenarnya bukan hanya aku generasi ke 100 bangsa Cindra. Kata nenek Key, sebenarnya ada 2 Cindra yang merupakan generasi ke 100 yaitu aku dan Fizara. pikir Armela. Tapi Fizara, gadis yang sebaya dengan Armela itu sekarang diasingkan di bukit Samara bersama pengikutnya, mereka dianggap menjadi gila setelah berkelana ke planet bernama bumi. Kata orang Fizara dan pengikutnya terkena guna-guna di planet biru itu. Armela juga tidak tahu apakah perkataan orang-orang itu benar sebab selama ini Armela tidak pernah bertemu dengan Fizara.

* * *

Armela menyusuri jalanan planet Kalanda. Planet ini cukup indah, di setiap tanahnya tumbuh bunga-bunga dengan daun yang berwarna-warni. Bahkan langitnyapun juga berwarna-warni. Merah, kuning, hijau, biru, ungu, putih. Planet Kalanda adalah planet terindah di dunia. Armela sudah memutuskan dia akan menemui Fizara di tempat pengasingannya. Tak peduli betapa berat medan yang harus di tempuh untuk sampai ke bukit Samara, Armela tetap pergi seorang diri. Dirinya tidak peduli bagaimana reaksi Papa, Mama, Nenek Key, kakek Qu atau Crenia mengetahui kepergiannya yang tiba-tiba ini. Keputusan Armela sudah bulat, Armela akan menyerahkan Cincin Kard bersama seluruh tanggung jawab pada Fizara, generasi ke 100 Cindra putih yang sama seperti dirinya.

Akhirnya Armela sampai di bukit Samara setelah 9 hari berjalan kaki. Armela pangling dengan bukit itu sekarang. 2 tahun lalu saat dia melintas bersama papanya rasanya bukit ini sangat gersang, tapi sekarang sungguh berbeda. Bukit Samara berubah menjadi bukit yang sangat subur dengan bunga Eppo warna-warni yang indah. Apa yang terjadi dengan bukit ini? Armela tidak habis pikir.

Armela disambut ramah oleh para Cindra ketika dia sampai di perkampungan. Cindra-Cindra di bukit Samara sangat aneh menurut Armela. Semua Cindra wanita menutupi kepala mereka dengan sehelai kain lebar. Begitupun dengan pakaiannya, mereka semua memakai baju panjang yang menutupi seluruh badan. Sedangkan kaum Pria memakai semacam topi yang berwarna hitam. Armela mebandingkan Cindra-Cindra itu dengan dirinya. Sungguh berbeda! Armela memakai rok kuning tanpa lengan yang panjangnya selutut, pakaian yang sama dipakai para Cindra pada umumnya.. Yang paling membuat Armela heran dan curiga adalah setiap bertemu mereka selalu mengucapkan semacam kode yang artinya tidak diketahui oleh Armela.

“Saya ingin bertemu dengan Fizara, apakah kamu tahu dimana dia tinggal?” Armela bertanya pada salah satu wanita yang sedang menyirami bunga Eppo.

“oh..kamu mencari Fizara, baiklah akan saya antar. Rumahnya tidak jauh dari sini.” Armelapun melangkah mengikuti wanita itu. di sebuah rumah kecil yang indah dan dipenuhi dengan Eppo biru.

“Assalamualaikum.” Ah! Wanita itupun mengucapkan kode itu, kata Armela dalam hati.

“Alaikumsalam.” Seorang gadis dengan anggun keluar dari rumah. Kain di kepalanya berkibar-kibar di belai angin.

“Leiza, ada perlu apa kemari? Dan siapa yang ada di sampingmu itu Lei?” tanya gadis itu tak kalah ramahnya dengan Cindra yang tadi ditemui Armela.

“Fizara, Gadis ini ingin bertemu denganmu. Saya hanya mengantarnya. Kalau begitu saya sekarang permisi dulu ya Za.”Gadis yang teernyata bernama Leiza itupun beranjak pergi. Armela berdiri mematung menatap sosok cantik di depannya. Oh…jadi ini Fizara. Kenapa dia tidak seperti gadis gila? Justru penampilannya sangat rapi. Armela bertanya-tanya dalam hati.

“Silakan masuk!” Armela tersadar dari lamunannya dan segera mengikuti Fizara.

“Perkenalkan, namaku Armela.” Fizara terlihat tersentak ketika mendengar namanya.

“Ar…mela..bukankah kau adalah generasi ke 100 bangsa Cindra.” Ucap Fizara tidak percaya.

“Ya….tapi kau tahu bukan hanya aku yang merupakan generasi ke 100 itu. Tapi kau juga.”

“Apa maksudmu Armela? Aku dengar kau telah menerima Cincin Kard itu dalam prosesi resmi.” Fizara sama sekali tidak mengerti perihal kedat
angan Armela.

“Aku…aku tidak sanggup menahan beban berat itu Fiz!!” Armela terisak, butiran air mata turun dari mata birunya. Fizara mencoba menenangkan dengan menggosok-gosok punggung Armela.

“Aku ingin kau yang memegang Cincin Kard ini Fizara. Kau ingin kau yang memegang tanggung jawab mengalahkan satu Cindra hitam yang tersisa itu. aku ingin kau yang memusnahkan cincin itu.” Perkataan Armela yang bertubi-tubi ini membuat Fizara terkejut.

“Aku tidak bisa Armela, Aku telah memusnahkan seluruh Alandra yang kumiliki, sama sepeti yang dilakukan seluruh Cindra di bukit Samara ini.”

“Apa??? Kau telah memusnahkan seluruh kekuatanmu?? Kenapa Fizara? Kenapa?? Bukankah hidupmu akan lebih mudah dengan kekuatan itu? kenapa Fizara?” Armela tidak meengerti jalan pikiran gadis di depannya. Alandra adalah hal yang paling berharga yang dimiliki seorang Cindra. Dan Fizara dengan mudah memusnahkan kekuatan itu….

“Karena aku punya Tuhan Armela. Aku memutuskan untuk tidak ikut campur dalam dunia itu. Dunia yang selalu mempertaruhkan kekuatan, dunia yang dengan mudah menumpahkan darah. Aku ingin lebih mendekatkan diri pada Dia, Sang Pencipta Semesta.” Ucap Fizara dengan lantang. Armela semakin tidak mengerti.

“Tuhan? Bukankah semua bangsa Cindra lahir dari Hisogria Cindra? Apa maksudmu?”

“Hisogria Cindra memang melahirkan keturunan Cindra, termasuk aku dan kamu. Tapi dia bukan Tuhan. Dia hanya seorang Cindra sama seperti kita. Bukan dia yang menciptakan planet kalanda ini, bahkan sebatang Eppo pun tidak.”

“Tidak!!! Aku pasti bohong!! Semua orang menyembahnya. Kakek Qe, nenek, papa, mama, semua Cindra menyembahnya. Dia yang menciptakan planet ini. Dia yang membuat planet ini subur.” Armela masih tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Fuhh!! Fizara mencoba bersabar menghadapi gadis keras ini.

“Jika Hisogria memang Tuhan, kenapa dia bisa tua? Kenapa dia bisa mati? Lalu siapa yang akan mengatur kehidupan di planet ini juga di planet-planet lain? Hanya Allah, Tuhan semesta alam yang tidak pernah tidur dan tidak akan mati.”

“Cukup!!! Cukup!!! Kau pembohong!! Pantas saja mereka menyebutmu gila!! Kau memang gila Fizara!!” Armela berlari keluar sambil menutup telinganya. Dia berlari secepat mungkin ke utara berharap segera meninggalkan perkampungan aneh itu. Semua sia-sia, semua yang diilakukan Armela tidak ada gunanya. Melarikan diri dari rumah, berjalan berhari-hari. Semuanya sia-sia!! Ternyata Fizara memang gila, dia sudah tidak waras. Sekarang Armela harus menerima kenyataan bahwa dialah satu-satunya yang bisa menyelamatkan Cindra putih.

* * *

Dan saat ini adalah saat yang ditakuti Armela. Beberapa jam lagi matahari akan tenggelam sempurna. Semua Cindra putih keluar dengan perasaan cemas dan hati berdebar-debar menunggu kedatangan Cindra hitam yang tersisa. Tapi yang paling cemas tentu saja Armela meskipun dia sudah berusaha keras melatih Alandranya bersama Kakek Qe.

Detik-detik terasa semakin lambat dan mencekam di bawah pekat langit Kalanda. Grrr!!! Tiba-tiba petir menggelegar membelah langit. Bersamaan dengan percikan api muncul sesosok wanita berjubah hitam. “Crenia!!!” Armela menjerit. Dia tidak menyangka sama sekali kalau Cindra hitam itu adalah Crenia, sahabatnya.

“Ha…ha…..ha…..ya Armela, aku Crenia satu-satunya Cindra hitam yang tersisa. Kalian memang benar-benar bodoh mau merawat seorang Cindra hitam di rumah kalian. Ha…..ha….ha……sekarang, kita akan bertarung Armela.” Armela benar-benar tidak mengira kejadiaanya akan seperti ini Crenia itu sahabatnya. Tapi….

“Keselamatan semua Cindra putih lebih penting.” Armela segera menyerang Crenia dengan Alandra apinya, dengan mudah Crenia menghalaunya dengan mengeluarkan Alandra air. Armela tidak putus asa dia mengerahkan Alandra air miliknya, dengan gampang Crenia membekukan air yang dikerahkan Armela. “Cuma segini kemampuanmu Armela!” ejek Crenia. Crenia balas menyerang dengan Alandra angin, Armelapun mengeluarkan angin miliknya. Unsur yang sama ini menyebabkan ledakan hebat. Tapi Cincin Kard yang menempel di jari Armela membuatnya mempunyai kekuatan lebih. Crenia terlempar ke belakang, dan tak bergerak. Perasaan Armela menjadi tidak menentu di satu sisi dia bahagia karena bisa mengalahkan Crenia, tapi di sisi lain dia sangat sedih melihat sahabatnya terkapar tidak berdaya di hadapannya. Dengan langkah gontai Armela mendekati tubuh Crenia yang tak berdaya. Tiba-tiba…Wuss!!! Crenia merebut Cincin Kard di jari Armela dan menyerang Armela dengan Alandra anginnya. Armela yang tidak sempat menghindar terluka dan terkapar di tanah dengan darah hijau merembesi gaun putihnya. “Ha….ha….ha…kau memang bodoh Armela. Kau sangat mudah di kelabui. Inilah saat kebangkitan Cindra Hitam. Ha…ha…ha……..” Semua Cindra putih terdiam ketakutan. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kekuatan Crenia akan berlipat-lipat dengan Cincin Kard itu. Matahari Semakin tenggelam meninggalkan langit Planet Kalanda, semua Cindra putih seolah tinggal menunggu malaikat maut menjemput mereka. Tiba…tiba…….terdengar suara.

“Hentikan semua itu Crenia. Aku tidak akan membiarkan Cindra hitam berkuasa di planet ini.” Sesosok wanita dengan kain putih menghiasi kepalanya tiba-tiba muncul.

“Fi….zara….” desis Armela lemah. Tangannya masih memegang dada kirinya yang terluka. Semua Cindra putih terkejut dengan kedatangan Fizara.

“Ha…ha…ha…..ternyata kau Fizara. Berani-beraninya kau kemari tanpa punya kekuatan apapun!” suara Crenia menggelegar mengejek Fizara. Mendapat perlakuan seperti itu Fizara hanya diam. Dia menunduk dan mengadahkan tangannya. “Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qay-yuumu” Allah tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Seperti sihir, tiba-tiba saja Crenia terlihat sangat kesakitan seolah-olah tubuhnya terbakar api, sedangkan Fizara tetap melanjutkan bacaannya dengan khusyu’, semua Cindra putih tidak tahu apa yang sedang terjadi. Armela menatap Fizara dengan takjub. Wasi’a kursiyyuhus samaa waati wal ardla wa laa ya-uuduhu hifzhuhumaa wa huwal ‘aliyyul azhim. Kursi Allah meliputi langit dan Bumi. Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah maha Tinggi lagi Maha Besar. Fizara menghentikan bacaannya, bersamaan dengan itu tubuh Crenia dan Cincin Kard itu berubah menjadi asap.

“Armela!! Kau baik-baik aja?” dengan cemas Fizara mendekati tubuh Armela.

“Aku tidak pernah tahu kau belajar sihir. Mantra apa itu yang kau gunakan?” Fizara hanya tersenyum.

“itu bukan mantra tapi itu ayat dari kitab suciku, Al Quran. Dan aku tidak melakukan apa-apa Allahlah yang menolongku.”

Armela terdiam, dia merenungkan kembali percakapannya dengan Armela beberapa waktu yang lalu. Benarkah yang dikatakan Armela? Siapa sebenarnya Tuhan itu? Dimana dia? Tiba-tiba saja Armela merasakan secercah cahaya yang menerobos masuk dalam keremangan hatinya.

“Fizara, bolehkah aku mengenal Tuhanmu itu?”

Air mata merembesi mata hitam Fizara. Ia tidak pernah sebahagia ini sebelumnya.

“Alhamdulillah, tentu saja Armela.”

SELESAI