HYMNE KEBEBASANKU!!!!!!!


HYMNE KEBEBASANKU!!!!!!!

Yeee!!!!!!!!!

Aku bebas!!!!! Aku Merdeka!!!!!!!!!!!!!

Akhirnya!!! Setelah lebih dari 2 minggu bergumul dengan buku super membosankan bertitle KIMIA DASAR, BIOLOGI DASAR, FALSAFAH KEFARMASIAN, PKN, FISIKA, dan ehem!!! MATEMATIKA.

Aku bebas!!!! Aku bebas kawand!!! Aku bebas saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Kompeni-kompeni UAS telah musnah, simpuh, kandas!!!!! Hahahaha!!! Ini saatnya aku mengepakkan sayap-sayap kebebasanku, menghirup udara surgaku, menyambut duniaku kembali. Aku datang dunia!!!! Aku telah datang!!! Rentangkan tanganmu dunia!!!

Hahahaha!!!! Novelku!!! Multiplyku!!!, friendsterku!!!!!! Diaryku!!!! Tiviku!!! Aku kembali!!!! Pasti kalian menggenggam rindu Bimasakti sepertiku. Iyakan? Maaf!!! Telah kucampakan kalian, sahabat sejatiku berhari-hari demi sebuah tuntutan kuliah. UAS!!! Arghhh!! Aku muak harus mengucapkannya. Sudahlah!!! Kawand, mari kita bersenang-senang sekarang, mari kita melepas rindu bak dua sejoli yang kasmaran, mari kita menyanyikan hymne kebebasan kita!!! Mari kawand!! Tak perlu sungkan-sungkan.

Hymne kebebasan

Selamat tinggal UAS enyahlah dari hidupku!!!

Pergi saja UAS aku sebal padamu!!!

Aku akan kembali pada kebebasanku!!!

Dunia!!! Sambutlah anakmu!!

Created by: Dunia_Uchi

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang!!!

Sekarang adalah saatnya untuk menulis………….menulis………dan menulis……….melahirkan —hehe meminjam istilahnya mbak Dewi ’Dee’ Lestari—anak-anak ide yang telah lama terpendam dalam rahim dan tak sabar dikeluarkanmenuangkan seember rasa yang mendidih dan bergejolak dalam dada, merekam dan membingkai peristiwa yang terjadi agar tak terbawa oleh angin waktu. Menulis………..!!!!!!! menulis……….!!! Dan menulis……………!!!!!!!

Sekarang saatnya lebih jelas melihat sekitar, setelah sebelumnya begitu buram ditutupi kabut ketertekanan. Saatnya merasakan kembali mesranya desir angin menciumi kulit coklatku setelah beberapa hari mengabaikannya, saatnya menyelami kembali permadani langit yang memukau, saatnya bercengkrama kembali dengan Sirius, Canopus, Vega (Hehehe…sok-sokan nih padahal gtw yang sebelah mana tu Bintang).

Aku harus menjadi ‘manusia’ kembali, yah…..Saat-saat UAS begitu kejam hingga menyulapku seperti robot atau mayat hidup(Hiperbola nih). Terserahlah apa istilah yang pas.

Aku akan menikmati momentum kebebasan ini dengan penuh energi, penuh semangat. Sebelum ’Ujian Perbaikan’ kembali merenggut duniaku. Aghhhh!!!

Gresik, 090109 19:55

SOE HOK GIE DAN CATATAN HARIAN

SOE HOK GIE DAN CATATAN HARIAN

Kamis, 25 Desember 2008

Catatan Seorang Demonstran. Sebuah buku yang merupakan kumpulan catatan harian Soe Hok Gie. Catatan ini dibukukan dan diterbitkan setelah Soe Hok Gie meninggal. CSD ini berisi tentang pemikiran, perasaan, idealisme dan kejadian-kejadian dalam hidup Gie.

Menurut saya, karena Catatan Hariannyalah Gie bisa dikenang. Apalah arti seorang Gie tanpa catatan hariannya. Dia akan hilang dalam arus pusara sejarah. Banyak nama-nama mahasiswa yang juga aktif bersama Gie. Sebut saja Gani, Arief, Jopie, Boeli, Herman mereka juga pemikir dan mahasiswa yang aktif menyarakan aspirasi mereka tapi semua nama itu seolah tertelan dalam sejarah. Mengapa? Karena mereka tidak meninggalkan Jejak.

“Menulislah!! Karena selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dalam arus pusara sejarah.”

Benar!! Sangat benar!!! Mulai hari ni kuharus terus menulis.

Terima kasih Gie. Catatan Harianmu banyak memberikan inspirasi padaku. Kecuali soal kau yang Atheis. Aku tak setuju denganmu!!!

SOE HOK GIE DAN MAHASISWA SAAT INI

SOE HOK GIE DAN MAHASISWA SAAT INI

Kamis, 25 Desember 2008

Membaca Catatan Harian seorang Demonstran rasanya menohok hatiku, catatan harian yang ditulis Soe Hok Gie itu berisi tentang perjalanan, pemikiran, perasaan, idealisme Gie sebagai mahasiswa, sebagai warga negara dan sebagai seorang manusia. Catatan harian Gie menunjukkan betapa mahasiswa jaman 60an dahulu sangat peduli dengan keadaan bangsanya. Saat itu keadaan politik memang kacau, karena masalah PKI, Demokrasi terpimpin, mentri-mentri bermasalah ataupun pro kontra Bung Karno. Mahasiswa sebagai kaum intelek saat itu cukup banyak berpengaruh, mereka melakukan diskusi-diskusi mengenai masalah bangsa, berdemonstrasi untuk membela kebenaran dan menentang ketidakadilan. Mahasiswa terlibat, mengambil peran dan berguna bagi masyarakat.

Catatan-catatan Gie membuatku tersindir sebagai mahasiswa. Mahasiswa saat ini–termasuk aku- -tak begitu peduli dengan masalah bangsa dan negara. Mahasiswa sekarang adalah tipe-tipe mahasiswa yang kupu-kupu, kuliah-pulang kuliah-pulang. Yah!! Sangat berbeda!! Sekarang mahasiswa lebih banyak mengunjungi mall-mall, nonton Bioskop, Gaya hidup hedonis telah merasuk ke sum-sum tulang mahasiswa. Kuliah hanya sebagai sarana untuk mendapatkan sarjana, lulus lalu mendapat pekerjaan. Mahasiswa tak lagi merasa bahwa dirinya adalah kaum yang terpilih, kaum intelektual yang memegang tugas suci sebagai agen of change.

Jika dibandingkan catatan harian Gie dan catatan harian mahasiswa sekarang pasti jauh berbeda. Catatan Gie lebih bayak mengupas mengenai permasalahan bangsa, baik politik, ekonomi ataupun sosial sedangkan catatan harian mahasiswa sekarang pasti lebih banyak didominasi oleh masalah cinta dan persahabatan.

Mungkin ini karna jaman. Jaman yang berubah diikuti pula oleh manusia yang berubah. Selain itu mungkin karena masalah situsi politik indonesia saat ini yang jauh berbeda dari tahun 60an. Saat itu keadaan bangsa dan negara masih kacau balau. Semoga para mahasiswa, para pemuda (termasuk aku) akhirnya sadar dan bisa memberikan kontribusi bagi negara ini. Semoga!!!

DARI CATATAN SEORANG DEMONSTRAN

CATATAN SEORANG DEMONSTRAN

SOE HOK GIE

Minggu, 12 Juni 1960

Tiga orang berjalan

Maut semain mendekat

Dan sebuah jalan buntu di muka

Maut main mendekat

Ia mengems minta hidup

Tapi “beliau” menolaknya

^^puisi tentang kritikan Gie kepada Soekarno yang pada waktu itu menghukum mati Sa’adon, Tasrif dan Jusuf Ismail yang Gie anggap sebagai kaum intelegensia. Bahkan Gie menulis “Aku kira moral Presiden Soekarno itu tidak lebih dari moral tukang becak”^^

Masyarakat Borjuis

Buat LBS^^ Aq gtw siapa yang dimaksud LBS disini)^^

Ada suatu yang patut ditangisi

Aku kira kau pun tahu

Masyarakatmu, masyarakat borjuis

Tiada kebenaran disana

Dan kalian selalu menghindarinya

Aku selalu serukan(dalam hati tentu)

“wahai, kaum proletar sedunia”

Berdoalah untuk masyarakat borjuis

Ada golongan yang tercampak dari kebenaran

Dan berdiri atas nilai kepalsuan

Aku kira, tiada bahagia disana

Sebab tiada kasih, kebenaran dan keindahan dalam kepalsuan

Aku akan selau berdoa baginya

(aku sendiri tak percaya doa, maaf)

Aku kira anda tiada kenal kasih

(nafsu tentu ada)

Apakah bernilai dengan uang padamu kawan

Semua adalah uang, perhitungan saldo

Tiada yang indah dalam kepalsuan

(engkau tentu yakin?)

Di sinilah amoral ditutup dengan amoral

Disinilah tabir-tabir yang terlihat

Dan sering kali kau bersepeda sore-sore

Bertemu dengan gadismu( borjuis pula)

Aku begitu sedih dan kasih

Aku begitu sedih dan kasih

Ya Tuhan( aku tak percaya Tuhan)

Berilah mereka kebenaran

Aku tabu

Gadis cantik di mobil, bergaun abu-abu

Tapi bagiku tiada apa

Minggu, 17 Desember 1961

Pada suatu saat dimana kita berhenti

Memandang ke belakang

Dan memberi salam

(mesra tapi sayu)

Masa lampau adalah seperti mimpi

Terlupa dan berat menarik ke belakang

Terkadang kecewa

Yang hilang, semua hilang

Seperti usus yang lenyap kelemasan

Dan kecewa seperti Asvius yang patah hati

Kemasakan, dan juga kenaifan

Keberanian dan penghianatan

Apakah kita bisa bicara tentang nilai-nilai?

Sebelum dewasa?

Jum’at 5 Januari 1962

HIDUP

Terasa pendeknya hidup memandang sejarah

Terasa panjangnya karena derita

Maut, tempat perhentian terakhir

Nikmatnya datang dan selalu diberi salam

Senin, 22 Januari 1962

Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersialadalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda

Makhluk kecil kembalilah

Dari tiada ke tiada

Berbahagialah dalam ketiadaanmu

Jumat, 30 Mqret 1962

The thing that had been is that shall be –Herodotus—

Selasa, 29 Oktober 1968

Saya bermimpi tentang sebuah dunia

Dimana ulama, buruh dan pemuda,

Bangkit dan berkata –stop kemunafikan

Stop semua pembunuhan atas nama apapun

Dan para politisi di PBB

Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu, dan beras

Buat anak-anak yang lapar di tiga benua

Dan lupa akan diplomasi

Tak ada lagi rasa benci pada siapapun

Agama apapun, rasa apapun, dan bangsa apapun,

Dan melupakan perang dan kebencian

Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik

Tuhan—Saya mimpi tentang dunia tadi

Yag tak pernah akan datang

Selasa, 1 April 1969

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba

Pada suatu hari yang biasa

Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui

Apakah kau masih akan berbicara selembut dahulu

Memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

Sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipispun turun pelan-pelan

di lembah kasih, lembah mandalawangi

kau dan aku tegak berdiri

melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

apakah kau masih membelaiku semesra dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat

(lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi

Kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya

Kau dan aku berbicara

Tanpa kata, tanpa suara

Ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)

Apakah kau masih akan berkata

Kudengar derap jantungmu

Kita begitu berbeda dalam semua

Kecuali dalam cinta

( haripun menjadi malam

Kulihat semuanya menjadi muram

Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

Dalam bahasa yang kita tidak mengerti

Seperti kabut pagi itu)

Manisku, aku akan jalan terus

Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan

Bersama hidup yang begitu biru