bukan alunan biasa

jadi, apakah alunan ini hanya akan jatuh berserak, lalu diterbangkan angin jadi debu yang disapu nenek pikun?
hey! ataukah berakhir disana tong sampah sepi, menyendiri, dan sunyi. tak berarti.

tragis sungguh!
ah!
biar mengalun!
biar menyanyi!
biar mendendang!
biar bersenandung!
karna ini bukan alunan biasa!
ini alunan hati, alunan rasa

Advertisements

sebuah tanya: kenapa ada orang jahat

setelah membaca blog seorang tmand yg dijahati orang. Aq mulai bertanya-tanya, kenapa ada orang jahat? kenapa orang bisa jahat? kenapa mereka tega sekali? apa mereka punya perasaan? masih adakah hati dan jiwa yg bersemayam dalam diri mereka?

aq tak hbiz pkir bgaimana hngga seorang anak mnghabisi ibunya krna uang 20rbu, bgaimna org smena-mena mgambil hak org lain, bgaimna org mnyakiti raga dan jiwa org lain

kenapa?
kenapa ada orang jahat?

tak lagy diam

gitar itu telah berbunyi, senar-senarnya telah tersambung lagi dg sempurna.
maka mengalirlah kembali nada-nada yang menghiasi jiwa. mengalunlah melodi indah yang harus qt nikmati bersama.
mari menyanyi lagy dalam tawa.

(untuk sahabat yg tak lagy diam,untuk sahabat yg tlah kembali)

kepada surya

Surya,
Ada yang aneh kawan dengan panorama yang disuguhkan dunia.
saat waktu bertambah lelah.
Dan zaman telah renta.
Saat kau ajak aku menelusuri ruang kota ini.

Orang-orang sibuk membangun sebuah tembok.
Bukan tembok biasa.
Tersusun bukan dari bongkahan bata.
Tapi es!!
Ya!! Tembok es!!!

Surya,
Kau bisa melihat sendiri kan?
Bagaimana tembok-tembok itu berdiri dengan megahnya.
Kuat, tinggi dan menjulang.
Tapi es adalah pasangan abadi kata dingin.
Dan dingin adalah penyakit yang melinukan persendian, membuatku menggigil demam
Aku tak suka!!!

“Biar kucairkan es ini!! kuhancurkan temboknya untukmu.” Kau membusungkan dada.
Mencoba meniru gaya Superman atau Batman. Mencoba menjadi pahlawan.
Kau berusaha kuat untuk mencairkan tembok es itu.
Kau kerahkan semua energimu.
Tapi nihil!! Sia-sia!!!
Tembok es itu tak mencair sedikitpun.
Orang-orang tembok es pun bergeming malah mengirim senyum sinis.

“ini bukan es biasa!!” katamu pada akhirnya. Putus asa dan terengah lelah
“Lalu apa?” aku tak mengerti.
“Entahlah!”

Aku dan kaupun terbenam dalam lautan tanya.
Menerka……….
Mengira……….
“tembok apakah itu?”
Tapi jawaban seperti tak tahan bersembunyi di ketiak sunyi.
Ia tiba-tiba muncul pada papan yang terpancang pada muka tembok.
Papan itu bertuliskan,
“Keangkuhan diri”

010509

aku tak tahu

Menyedihkan sekali bukan? Saat orang-orang seusiaku sibuk mencari tujuan, berusaha meraih mimpi-mimpi mereka. Menjadi dokter, menjadi insinyur, menjadi polisi. Saat mereka tahu ingin jadi apa. Aku masih disini. Terpuruk, merenungi diri dan masih saja bertanya-tanya. Siapa aku? Orang seperti apa aku ini?Bagaimana aku harus bersikap? Bagaimana aku harus mejalani hidupku? Apa yang harus kulakukan?Aku terus saja berpikir dengan hal remeh temeh menyangkut perasaan, menyangkut ini baik atau tidak, menyangkut hal-hal yang mungkin harusnya tak perlu dipikirkan. Mungkin kini aku telah tertinggal berpuluh-puluh kilometer di belakang. Masih bingung menentukan jalan mana yang harus kupilih, belokan mana aku harus melangkah, dan apa kendaraan yang harus kupakai.

Lalu apakah aku akan terus seperti ini. berhenti pada satu titik. Menoleh ke segala arah dalam bimbang. Sedang di sekitarku orang-orang berlari cepat sekali. Apa aku akan tetap seperti ini.
Sekarang aku kuliah di jurusan farmasi. Jurusan yang memberi tekanan batin tersendiri. Lalu kenapa dulu aku memilihnya? Pertama adalah karena anjuran orang tua yang berkata bahwa jurusan ini akan memberikan masa depan yang baik. Ya! Itulah kenapa aku memilih farmasi. Masa depan yang baik dan mudah untuk bekerja, lalu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Dan aku tak merasa nyaman di dalamnya. Tapi kembali lagi soal masa depan.
Andaikan aku bisa memilih dengan bebas ingin masuk jurusan apa. Tanpa embel-embel masa depan, jaminan pekerjaan dan rupiah. Tapi berlandaskan atas kesenangan, atas kenikmatan, atas pilihan yang berasal dari hati. maka, aku akan lantang memilih jurusan sastra indonesia.
Dalam ketidaktahuanku pada banyak hal. Hanya satu yang aku tahu. Yaitu aku suka menulis. Aku tak peduli aku berbakat atau tidak dalam hal ini. yang terpenting bagiku adalah aku bisa menyalurkan semua gelombang perasaan yang datang, merekam semuanya dalam kata, membatukan memori agar tak menguap bersama penyakit lupa. Aku hanya tahu aku suka menulis. Titik. 
Lalu sekarang apa? Aku sudah terlanjur masuk di jurusan farmasi ini. lalu bagaimana? Tetap melanjutkannya atau berhenti di tengah jalan?
Jawabanku adalah aku akan tetap terus. Demi orang tuaku, demi masa depan, demi diriku sendiri.
“berbuat yang terbaik pada titik dimana kita berdiri.” Mungkin aku harus memegang kata-kata bang Andrea Hirata ini. ya!! Berbuat yang terbaik.
Mengenai menulis, aku akan tetap melakukannya. Karena menulis adalah hidupku. Berlebihan? Ya sudah!!

aku ingin jatuh dari ketinggian

Entahlah!! Aku tak tau apa yang terjadi padaku. Tapi sekarang ini aku benar-benar ingin jatuh dari ketinggian, merasakan sensasi ketakutan, kepuasan, dan kebebasan saat tubuh melayang di udara.
Rasanya aku ingin sekali memanjat menara-menara komunikasi yang berdiri menjulang. Aku ingin sampai dipuncak.merasakan ketin
ggian. Merasakan angin yang semakin kencang, langit yang semakin dekat, dan ketakutan yang pasti membayang. Lalu aku ingin melompat. Merasakan kenikmatan, kebebasan, merasakan jantung yang berdegup, dan jiwa yang mendadak banyak bicara. Tapi aku bukan ingin bunuh diri. Sekali lagi, aku hanya ingin merasakan sensasi-sensasi itu. tapi tidak untuk mati. Aku masih belum ingin mati. Tepatnya aku masih belum siap mati. Kantong amalku belum penuh, sedang dosaku mungkin telah menggunung. Aku belum siap disiksa malaikat. Aku belum siap dicambuk.
Aku ingin sekali mencoba olah raga extrim, mungkin paralayang, terjun payung, bunji jumping, paraceling atau apapun iu yang memacu adrenalin. Entahlah!! Ada apa denganku?? Ingin sekali aku merasakan detak-detak jantung yang cepat, teriakan yang bebas, gejolak, dan sedikit kedamaian mungkin.
Tapi tak bisa sekarang. Karena aku masih terbelenggu pada sebuah kata menjemukan bernama rutinitas. Kesibukan yang tak kusukai. Aku ingin secepatnya bebas!! Aku ingin terbang!! Aku ingin jadi angin!!!