DUNIA UCHI

Deru jiwaku berbicara, berdenting-denting tanpa nada
Untuk itu sebuah kata lahir dan harus dibaringkan dalam damai yang membingkainya
Nestapa yang membawa air mata, senyum yang menggandeng bahagia, segala tumpah
Ingatan bersemayam….kurekam…tiap detik…tiap gerik….
Alam raya dan semesta dari mataku, dari pikirku dan dari hatiku

Udara, tanah, air, api………………….kugengam tiap unsur dari berbagai penjuru
Cerita yang aku tahu pasti akan jadi sejarah
Hidup yang tak pasti yang harus kucari.
Ijinkan aku mencatat diriku. Agar aku ada

Advertisements

cerpen: Rangrang dan Sang Bidadari

...Seekor semut merambati kotak ajaib itu,seperti sedang menaiki gedung bercat hitam yang amat tinggi dengan bentuk semikotak. Menengok ke kanan kiri setelah sampai pada ruang yang datar dan bidang seperti lantai kaca,sementara sebagian lagi ruang terbukanya bergaris garis mirip pematang sawah.Aneh,tak ada sesiapa selain dirinya serta rasa panas dari udara siang yang terik.Tiba tiba…,benda yang ia pijak bergetar,bervibrasi,gempa bumi! Gempa bumi !
Berurut terdengar lengking nada dari entah bagian mananya lagi serentetan bebunyi nada lagu milik mozzart ,memekak lama,sampai sebentuk mahkluk bernama tangan mengangkat gedung yang semut rangkaki , menempelkanya pada gua besar yang mungkin saja bernama telinga.
Terdengar lagi suara ultrasonik : sayang,nanti kita ketemu di tempat biasa! selanjutnya terdengar bunyi klik lalu tiba-tiba gedung yang semut pijaki meluncur cepat, terbolak-balik, dan untung saja mendarat di tempat yang empuk.
“Fuhh………..hampir saja diriku mati tergencet gedung itu. Untung saja!!!! Aku merinding…. bagiku mati dalam keadaan seperti itu sangat tidak elegan. Badan jadi gepeng dan jelek. Tidak bisa!! sampai kapanpun aku harus mati sebagai semut tampan. titik.” Si semutpun bangkit perlahan. Hatinya membara. kepalanya mengepul-ngepulkan asap panas. Tinggal hitungan detik saja bakal meledak.
“Raksasa macam apa yang tak tau diri!! Berani-beraninya dengan Rangrang Si semut tampan.” Si Rangrang menelusur ruangan maha luas itu mencari jejak si raksasa yang belum dia lihat bagaimana rupanya. Pandangannya terhenti pada sosok seperti bidadari yang sedang meringkuk di sudut ruangan. Si Rangrang mengucek-ucek matanya.
“Bidadarikah itu….? kenapa Bapak dan Ibu tak pernah bercerita padaku?” Bara itupun mereda. Siapa yang bisa marah pada seorang bidadari yang sedang terisak-isak itu? Semutpun tidak.

Rangrang melangkah perlahan mendekati Sang Bidadari. Ada apakah gerangan? kenapa makhluk cantik ini tersedu-sedan dan mengalirkan hujan?
“Kenapa kau berkata seolah tak ada apa-apa Ndra? hiks…hiks….hiks….apa kamu gak tau kalau aku sayang banget sama kamu. hiks…hiks…..” sang Bidadari bermonolog sendirian sambil memegang sebuah benda segiempat. kalau tidak salah namanya pigura. hujan di matanya belum reda. Rangrang melangkah semakin mendekat. sekarang jarak dirinya dan sang Bidadari hanya tinggal beberapa senti, diintipnya pigura itu. terlihat sebuah gambar. Gambar bidadari dan seorang laki-laki. Tiba-tiba Sang bidadari bangkit, hampir saja si semut diinjaknya untung saja Rangrang langsung berlari menghindar.
“Kita harus menyelesaikan ini secepatnya Ndra.” setelah menghapus jejak hujan dan mengoles sedikit bedak di pipinya, sang Bidadaripun melangkah pergi. Dengan sigap Rangrang melompat ke tas yang ada di meja.

* * *
Rangrang tergoncang-goncang di dalam tas. Pasti Sang Bidadari pujaannya itu sedang berlari-lari. Beberapa saat kemudian Sang Bidadari berhenti, membuka tasnya.
“fuih………………akhirnya bisa bernapas dengan lega juga.” cepat-cepat si semut keluar dari ruangan gelap itu. merangkak menuju bagian atas kursi taman.
“Ku tunggu di bangku sebelah pohon cemara ya….” sang Bidadari berbicara dengan gedung menempel di telingannya. Sambil menunggu dia melihat sekeliling. Pandangannya terhenti tepat di tempat semut berdiri. Rangrang gemetaran. Entah kenapa timbul getar-getar di dadanya. Rangrang, Si semut sedang jatuh cinta??? lama. Sang Bidadari belum juga melepaskan pandangannya dari Rangrang.Rangrang semakin ge-er plus nervous plus deg-degan.
” Za………..” seorang laki-laki muda datang. Sang bidadari segera mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu.
“Indra………” Entah kenapa hujan itu kembali turun di pipi Bidadari.
“Za, kau ini kenapa? kenapa kau tiba-tiba menangis saat melihatku.”
“Aku sudah tau semua Ndra. Aku tahu…………..” hujan itu semakin deras.
“Za…maafkan aku Za. Aku tak bisa menolak ketika cinta datang kepadaku. Akupun tak dapat berbuat apa-apa ketika cinta itu pergi. Dan kenyataannya, cintaku padamu telah pergi Za. Maafkan aku.”
“Kau jahat Ndra!!! kau Jahat!!!” Sang Bidadari segera meraih tasnya dan pergi, dengan sigap si semut langsung terjun masuk ke tas itu. Rangrang sekali lagim elihat ke wajah lelaki itu. Rangrang telah menyimpan dendam sedalam samudra padanya. Tak ada yang boleh menyakiti Bidadarinya!!

* * *
“Ayah…aku ingin ayah menyiapakan seribu pasukan untukku sekarang!!” kata Rangrang kepada ayahnya yang merupakan raja koloni.
“Tapi untuk apa pangeran Rangrang?” suara sang ayah terdengar bijak.
“Aku..akan menuntut keadilan.” jawab Rangrang matap.
“Keadilaan macam apa yang akan kau tuntut.” tanya Sang ayah
“Sudahlah!! aku hanya butuh seribu pasukan. Itu saja ayah!! Ayah hanya tinggal menyiapkannya.” kata Rangrang gusar
“Baiklah kalau begitu. Jendral!! siapkan seribu pasukan terbaik untuk menemani Pangeran Rangrang.

* * *
Indra kaget bukan main. Pagi-pagi sekali saat ia baru saja menamatkan mimpi-mimpinya dia dikejutkan oleh ribuan semut yang memenuhi kamarnya. musim apa sekarang?? kenapa semut-semut memenuhi kamarnya? Dengan cepat Indra beranjak, dengan berjingkat-jingkat dia menuju lemari.
“huh!! untung obat antiserangga ini masih ada.”

_______________________________________________________________________________

memenuhi PR dari Arifsibijak alias Arifsi Ingus[an] hehehe. peace…..akhirnya selesai juga. jadi qt dikasih paragraf pertama….yang warna ijo itu…truz suruh nerusin dengan format sembarang. boleh cerpen, flashfiction atau apa ajalah……hampir 2 jam- an nih aku berkutat dengan semut. hahaha.
mengikuti jejak neng metty….mbak Arin…..ayo mbak………….
yang laen mau ikutan…………ayuk………..tapi gag berhadiah lho….hehe

Pasti Masalah cuaca

Pasti masalah cuaca,
sinyal tersangkut awan hitam
gelombang terhempas hujan
frekuensi tamat dibunuh angin

Pesan itu pasti tak sampai padamu
jembatan media telah musnah
penghantar antara telah tiada

Harusnya kuikatkan pada merpati
Biar dia mengepak dan datang menggigit suratku
datang padamu
Hey!!
aku lupa merpati bisa basah
kedinginan lalu ditarik gravitasi ke tanah

pesanku tak sampai padamu……….
pasti masalah cuaca…………………….