[flash fiction] perspektif

Gadis itu terbaring di rerumputan taman kota. Gaun putihnya tampak kontras dengan rerumputan. Gadis menatap langit, seolah meminta jawaban. Kenapa?! Apa?! Bagaimana?! Langit tak menjawab. Dia tetap diam dan biru. Air mata yang sejak tadi berembunpun meleleh. “kenapa manusia?”

Dari tempat tersembunyi, seorang pria berbaju hitam dari tadi mengamati gadis itu. penasaran dengan tingkah aneh gadis berbaju putih.

Tiba-tiba gadis bangkit. Terduduk. Ditatapnya pemandangan kota. Tiba-tiba saja pandangan matanya berubah. Seperti gambar splash. Langit tetap biru, pohon tetap hijau, melati tetap putih. Tak ada yang aneh dalam pandangannya, kecuali manusia. Tiba-tiba semua manusia yang dilihatnya menjadi hitam. Gadis itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak tanpa sebab.

Gadis itu dengan cepat berdiri, langkahnya ringan. Tapi secara mengejutkan sesuatu dilakukannya. Gadis itu menampar setiap orang yang ditemuinya. Tanpa rasa bersalah. Bahkan senyum tersungging di bibirnya. Dia terlihat begitu puas. Gadis ini gila?

Orang-orang yang tertampar begitu terkejut hingga terdiam selama beberapa detik untuk mencerna apa yang terjadi. Setelah sadar orang-orang itupun mulai mengejar gadis itu. tak terima ditampar begitu saja.

Gadis itu tetap menampar siapa saja yang ditemuinya. Orang-orang yang mengejar di belakangnyapun semakin banyak. Setelah lelah gadis itupun terduduk dijalanan. Orang-orang yang ditamparnya tadi ramai mengelilinginya. Puluhan mata garang menghakimi. Meminta pertanggungjawaban. Hampir saja dia dipukuli ramai-ramai kalau Pria berbaju hitam itu tak muncul.

Maafkan, adik saya ini. Dia tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Dia terganggu jiwanya sejak orang tua saya meninggal.” Pria itu berbohong. Dia bahkan tak mengenal gadis itu. Tapi kali ini kebohongannya menyelamatkan seorang gadis dari amukan masa. Orang-orang itupun bubar.

Gadis itu membisu. Tanpa ekspresi. Matanya kosong. Pria berbaju hitam segera menggandeng gadis itu dan membawanya ke taman.

Kau salah melihat manusia. Tak semua manusia hitam seperti yang ada dalam matamu.” Kata pria itu. Gadis itu tercengang dan menatap tajam kearah pria itu. Bagaimana dia bisa tau yang aku pikirkan?

Mereka semua jahat. Manusia-manusia itu egois. Mereka telah kehilangan hati dan rasa. aku benci manusia.” Gadis itu berkata ketus.

Kau masih buta. Kamu terlalu skeptis. Tak semua manusia seperti itu. ayo kutunjukkan.”

Pria itupun menggandeng tangan gadis bergaun putih itu. Menunjukkan seorang kakek nenek yang bergandengan tangan dan saling tersenyum. Betapa cinta masih merasuki mereka walau wajah telah tertutup keriput. Menunjukkan bagaimana seorang pria menolong ibu tua mengangkat barang dengan sukarela.

Pria itu menunjukkan bahwa manusia masih memiliki cinta, rasa dan hati.

Gadis itu terdiam lalu tersenyum. Pandangan matanya berubah lagi. Kini bukan gambar splash lagi. Manusia tak lagi hitam. Semua telah berwarna. Semua tergantung perspektif kita memandang.

Advertisements

20 thoughts on “[flash fiction] perspektif

  1. nengmetty said: Kira-kira, kalau aku mulai menampari semua orang yang aku temui, pria berbaju hitam ini akan muncul ngga ya…….?

    khakakaha. silakan dicoba sendiri neng. ntar kalau udah beritahu aq yah………(^0^)v

  2. nengmetty said: Takutnya malah pada menampar balik, ada yang berbaju hitam malah bilang” syukurin deh, macem-macem aja siyyyyyyyy……………..”hiks

    hahahha. tapikalau blum dicoba mana tau. hahah. teutep…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s