Za: patah

Za, kau bilang kau terluka, sayapmu patah berdarah-darah. Kau ingin berteriak sekera-kerasnya dihadapannya, kau ingin menamparnya seribu kali, kau ingin mengguncangnya bagai gempa. Tapi aku tahu Za, kau takkan pernah bisa melakukannya.

Za, tiba-tiba kau tertawa. Aku tahu benar tak ada yang lucu. Kau pasti sedang menertawakan kebodohanmu sendiri Za. Kau bilang kau berterima kasih padanya.

“terima kasih karma telah membuat riak dan gelombang, terima kasih telah membuatku jatuh dan patah. Karena darimu aku belajar untuk berdiri dan tersenyum.

Za, dapat kulihat bara di matamu. Tekadmu membaja.

“aku akan menguburnya di palung terdalam, pada inti bumi.”

Sudah sering kau katakan itu Za. Berulang kau ucap.

Tapi apa Za? Kau tak pernah benar-benar melakukannya. Aku kira saat inipun sama.

gambar diambil disini

Tapi segera aku tahu. Aku salah. Saat ku membakar beribu puisi yang kau cipta untuknya. Saat kau memasang palang ‘stop!’ di jalan rumahnya.

Aku tahu kau tidak main-main.

Dia yang kau puja telah membuatmu kecewa. Dan disini, kau menutup kisahmu………

Aku mengerti Za. Karena kita satu tubuh yang mengutuh…………

Janji mati

Sungguh keterlaluan!!

Muluk-muluk dia menyuapiku dengan janji…..

Gundukan angan yang meninggi

Uh!! Mimpi-mimpi kosong

Lenyap!! Dimakan jarum yang merayap!

gambar diambil disini

Bagaimana bisa?!

Tak ada peluh…

Usaha tak beranjak dari angka nihil….

Mana?!

Kau tak pernah bersungguh-sungguh

dengan segala janji dan mimpi yang kaulahapkan padaku

nanar kutatap sosokmu

yang seolah malaikat

wajah lugu seolah tak ada apa-apa

santai saja!!

Pasti itu kau bilang!!

Dasar!!

Ingin kucambuk dan kucabik….

Hei!! Wajah lugu itu……

Sungguh tak asing…..

Diriku……..

pada diri, janji di hati mati.

PR Untukmu yang tersayang: [bukan] firasat

Kemarin kulihat awan membentuk wajahmu

Entah mimpi atau imaji, langit sepakat meramu diri menjadi detail rautmu, mata yang kusuka, alis yang melengkung sempurna, dan rambutmu yang sengaja kau acak membuat waktu sejenak tak berdetak

Desau angin meniupkan namamu

Angin berisik berbisik. Tanpa nada. Tanpa suara. Tapi ia menggema…memantul-mantul dalam dinding jiwa. Melantun…menyebut satu nama. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi berkali-kali pada setiap apa yang terhela. Namamu.

Tubuhku terpaku

Membeku. Mengaku. Lepas!! Hilang segala daya untuk berkata. Tiap atom, tiap sel tubuhku telah menyimpanmu.

Semalam, bulan sabit melengkungkan senyummu

Aku tak tau, kenapa semesta seolah menyerupaimu? Lihatlah bulan disana yang sabit, mengingatkanku pada lengkungmu yang menawan….aku tertawan…ijinkan kukristalkan senyummu. Agar dapat kulihat sewaktu-waktu.

Tabur bintang serupa kilau auramu

Mereka bicara padaku, tentangmu….dirimu yang cuma sebatas asa. Menggantung di belakang masa…..kau sudah berlalu. Jauh sekali. Bahkan tak lagi bisa kutatap punggungmu.

Akupun sadari, kusegera berlari.

Tak tentu arah..aku tersesat di jalanmu. Kau ada jauh di belakang. Aku tak pernah bisa berbalik pun tak dapat berlari mundur.

Cepat pulang cepat kembali jangan pergi lagi. Firasatku ingin kau tuk cepat pulang cepat kembali jangan pergi lagi.

Ini bukan sekedar firasat. Tapi tumpukan harap yang telah merekat. Hey! Dapatkah kau dengar sebuah pinta? Berkali telah kuteriakkan padamu….keras sekali kuteriakkan….

“cepatlah kau pulang…cepatlah kau kembali dan jangan pergi lagi”

Telah kuteriakkan itu dalam hatiku….tak dapatkah kau dengar!!

Akhirnya bagai sungai yang mendamba samudra. Kutahu pasti kemanakan ku bermuara.

Haruskah aku terus bermimpi. Tentangmu yang tak pernah bisa mengutuh. Aliran ini kutahu pasti hanya akan membawaku dalam samudra airmata yang kan menguap sia-sia di sisi kala.

Semoga ada waktu sayangku

Untuk kita saling bertatap tanpa sekat, saling bicara dengan rasa. Semoga ada.

Kupercaya alampun berbahasa. Ada makna di balik semua pertanda.

Barangkali angin bisa menyampaikan padamu. Barangkali langit bisa bicara padamu.

Barangkali hujan bisa menyadarkanmu. Aku..kau..harus membuka semua Indra untuk membaca semua gerak dan isyarat.

Firasat ini rasa rindukah atau tanda bahaya? Aku tak peduli kuterus berlari.

Ini bukan sekedar firasat. Tapi tumpukan harap yang telah merekat. Rindu memeluk dari segala penjuru. Tak jugakah kau tahu!

Dan lihatlah sayang hujan turun membasahi seolah kuberair mata

Lihatlah!! Alampun mengerti. Menyamarkan segala gundah dan airmata.

Akupun sadari

Kau takkan kembali lagi

Tapi aku masih menyimpan harap

*yang tulisannya tercetak miring adalah lirik lagu Firasat- Dewi Dee Lestari-

* postingan ini untuk memenuhi PR dari bang Deddy….(udah lunas ya bang PR nya..hahah)

pisau

kau salah memegang pisau itu!
bukan begitu!
kenapa kau tak juga mengerti!
bukan ujung yg tajam yang harusnya kau pegang!
apa kau ingin luka dan berdarah-darah!
apa kau ingin melukai diri-sendiri!
dasar bodoh!