Lelaki yang memakai anting di kuping kanan

Kau yang merangkak mengejar detak-detak.
Auramu tak lagi sama.
Kukira waktulah yang mencuri ingatan tentang kejar-kejaran, bola kasti dan lompat tali dari halaman bukumu.
dan kau berevolusi jadi begini.
Aku putus mengira.
Kusangka kau masih menyimpan kerling cahaya yang pernah mengangkasa memenuhi rongga dada kita.
Terlalu kabur dan suram bagimu. Mungkin.
Kau butuh sepuluh matahari untuk melihat jelas.
Atau kau hanya perlu membuka matamu lebar-lebar.
Saput itu mungkin terlalu tebal.

Ah!
Akulah itu gambar berdebu yang sekarang minta pulang.
Setelah kau karduskan bersama pigura yang pernah membingkai tiap kisah.

Kau siapa?
Siapa kau?

Haruskah kusampaikan kaulah itu pahatan marmer yang sempurna tapi tetaplah batu.

Mungkin,
Aku memang tak pernah menandaimu rupa dan jiwamu dengan sempurna.
Seperti aku tak kenal kuping kananmu yang beranting.

I, 300110

pajangan rumah dari Wisanggeni: edisi ceriwis : Za, dan planet planet asing (berkatan untuk duniauchi)

edisi ceriwis : Za, dan planet planet asing (berkatan untuk duniauchi) Jan 28, ’10 3:47 AM
for everyone

Raksasa kelabu selalu berhasil melahap sandikala dengan sempurna.
Dia kunyah merahnya, sampai lumat nila dan lebur jingga.
Dan muntahannya menjelma menjadi langit dengan gaun hitam.
kau pasti merasa bagaimana anggunnya!

dan disana kau menancap.
pada pusar
an planet kata dimana orbitnya adalah puisi.
kau kunyah lariknya sampai mabuk!!
kau lumat makna sampai gila.
kau lebur dalam puisi sampai mati.
dan muntahannya pasti kurasa anggunnya!!

Owh!! baiklah!!
itu kepala tak usah mengalien.
Tuhan yang murah hati menempel bait-bait puisi di DNA mu,
hingga alirannya menggenangi tiap incimu.

______________________________________________________________

Oke saya sudah siapin kuping plus mata besi buat nerima koment mau (t) darimu Yip!!
sumpah saya sedang mati ide….yo ngene iki jadine………
silakan deh klau mau mencaci, cincang, atau apapun itu…
saya terima dengan hati seluas lapangan bola!!! ahahahh

Oia yipp……….udah setahun rek…kapan bukune iki????
tuh…file-file yang sejenis dikumpulin terus dibukuin gitu loh!!
oke bos!!!
sekian terima kasih!!

________________________________________________

: kau sebut puisi

Itu mungkin bukan aku

aku paronoia

sekedar tubuh kerdil kata-kata.

takut jatuh sakit ketika ingin jadi soneta.

aku bom waktu.

pekik yang siap meledakkan.

ambisius hendak mengejar kapan.

aku opium

keseimbangan beragam jenis sifat jahat kimia.

bereaksi diantara kegaduhan abjad di buku.

aku jembatan.

selalu angguk mengantar tiap jejak keinginan.

enggan peduli ia lenggang atau lintang pukang

aku apa saja,

yang bebas engkau simsalabimkan dalam kejamakan rupa

tapi tidak puisi.

Dear uchi yang galak,

Yang selalu sembunyi di gugusan planet-planetnya, ada apa denganmu, apa kesehatan imajinasimu jadi rentan lantaran serangan cacar air kemarin itu ? selalu saja banyak alasan untuk vakum, yang mati ide lah, yang lagi kejar tayanglah, padahal menulis itu menyehatkan !

Kenapa ? kamu gentar aku jadi korektor atas karya-karyamu, yang kadang memang berantakan, yang kadang memang keterlaluan menornya,kelewat lebay berdandan dengan kata kata mutakhir. seperti yang sempat aku sampaikan suatu waktu itu ? tapi itu kadang, chi. Artinya tidak semua. Poin yang ingin kusampaikan cuma satu, aku tak mau kamu berhenti di titik yang statis itu, karena adakalanya, puisi yang jeniuspun tak perlu dimiripkan dengan ruang pameran kata-kata penuh intelegensia.

Telingamu sudah mulai panas ?

Baguslah kalau begitu……

Jauh dari itu semua chi, bahwa apa yang aku lakukan cuma agar kamu beserta apa yang kamu karyakan tumbuh, karena apa yang kamu capai sekarang belum apa-apa, belum kemana-mana. Kamu tau, seekor pupa, harus mengalami kesakitan luarbiasa saat berjuang mendapatkan sepasang sayap kupu-kupunya…

Tak terasa hampir satu tahun juga kamu jadi teman bertengkar yang baik. Dan aku salut, atas candaan, atas celotehan, masukan, eh iya, masih aku ingat ketika kamu bilang tulisanku ; Hilangnya lampion dari mata Naomi. Kamu bilang, ah, kalau ini awalan novel, kayaknya kurang bikin penasaran deh yipp,…., ha ha. Aku ketawa ketika lihat komenmu, memang sih, dari dulu aku tak pernah sedikitpun memasukkan “membuat novel” dalam daftar keinginan, tapi sejak saat itu, aku mulai mengasah diriku, mempertajam tiap inderaku, aku berbenah.

Pernah juga kamu ungkapin terimakasihmu, sudah ikut mengajari bagaimana menulis dengan liar, padahal kamu memang sudah liar dari duluuuuu

Satu hal yang membuat aku tertegun, ketika kamu seperti petir yang jingkrak jingrak diantara hujan, kamu bilang ,

ini serius yipp, kamu harus bikin buku ! ! aku mendukungmu !

bagitu trenyuh, karena kalimat itu kudapatkan dari teman yang gemar kuajak bertengkar, teman yang sering aku olok-olok. Teman yang selalu jadi korban cibiran bibir. Aku memang memimpikan itu chi, tapi bukan sekarang, karena seperti juga kamu tau, aku sama sepertimu, yang aku capai sekarang belum apa-apa, belum kemana-mana. Aku masih butuh banyak rasa sakit dulu. Tapi yang perlu di catat, dari kecil chi, seberat apapun proses yang akan aku jalani, aku akan terus mengejar apa yang aku inginkan. Aku memang gila, chi. Karena dengan gila tersebut, aku mampu tiba pada titik kilometer tempat berdiriku sekarang.

Nyaris pagi ketika kutulis ini, hujan rintik-rintik kulihat dari singkapan kelambu jendela. Aku pingin tidur, aku pingin mimpi. Semoga aku bisa mimpi mengunjungi planet-planetmu.


Oh iya, sebelum pergi ke planet-planetmu sana, aku mau tanya,

Selain jadi Za, kamu mau aku jadi apa ?

salamsayangselalu,

–pucukpenawisanggeni–

nb : jangan lupa ditempel…

gambar planet diambil dari sini

Za: tutup buku

Za, lama tak berbincang denganmu. Apa kabar? Semoga kau baik-baik saja. Ya…aku selalu berharap demikian.
Maaf Za, kadang aku lupa menyapamu. Ya seperti aku juga kadang lupa menyapa diriku sendiri. Diriku yang paling asli.

Kisah-kisah berloncatan datang seperti tetes hujan yang menghujam. Dan kini, aku sudah tutup buku. Aku selesai Za. Ya! Aku sudah mentalak tiga kebodohan bertahun-tahun. aku sudah putus dari kesalahan yang selama ini dengan bahagia aku sembah sujud. Sekarang aku bertobat Za. Untunglah! Semua sudah menjadi terang sekarang. Jelas sudah semua Za. Jelas sudah akulah itu air susu yang dibalas air tuba. Gula yang dibalas pahit kopi. Lengkung pelangi yang dibalas gelegar petir.

Aku tak menyangka Za. Bertahun-tahun yang ditanamnya adalah bibit dendam. Mana aku tahu Za. Bibit itu menumbuh menjadi pohon raksasa yang liar dan menyeramkan.

Tapi biarlah Za, semua orang punya pilihan dan alasan. Dia juga. Biarlah dia tenggelam dalam rasa bencinya. Itu pilihannya sendiri.
Dan pilihanku adalah mengakhiri segala kebodohan ini.

Kau tak bosan kan Za mendengar kisahku yang membosankan ini. Terima kasih untuk selalu menjadi teman yang selalu ada. Teman yang selalu mendengarkan.

I,290110

Silakan saja membenci!

Api amarah yang kau sembah sujud.
Kau kelilingi dengan tari menghentak yang membuat mata harus berkedip muak.
Kau tambahkan lagu yang tak sopan untuk ditangkap corong telinga.
Terus saja kau berhalakan…
Kau sulut sampai kau larut selarut-larutnya.

Silakan saja!!!
Nyalakan saja!!!
Kobarkan saja!!!
Biar kudulang apimu untuk membakar ilalang yang semakin jalang di halaman tanah biru.
Biar kugunakan apimu untuk menghanguskan sampah-sampah dengan aroma tahi kucing yang terus saja kusimpan.

Ayo!
Silakan saja sulut yang lebih besar!
Dan aku akan tersenyum dan berterima kasih.

Benci yang kau bentuk sedemikian rupa, kau ukir dengan gambar yang berkilometer dari kata indah.
Dan kau masih merasa menjadi seniman paling mahir!!
Lihatlah! Apa yang kau lahirkan tak lebih dari barang rongsokan yang harusnya segera dienyahkan!

sini!
Teruskan saja!!
Lanjutkan!!
Biar kujadikan pasak bencimu pagar-pagar rumahku.
Kudesain sedemikian rupa hingga kau berhenti menelan ludah saking indahnya.
sekali lagi itu bila matamu melek terbuka!!

Dendammu yang menyempurna!
Mengutuh entah bagaimana awalnya.

Silakan!!
Silakan kobarkan api amarahmu sebesar-besanya.
Silakan membenciku sebenci-bencinya.
Silakan mendendam padaku sekesumat-kesumatnya.

Sini!!
Akan kuterima dengan wajah senyum dan hati selapang langit.

I,280110

Curhat Setan: Hidangan Spesial ala ‘koki’ Fahd

Judul : Curhat Setan
Penulis : Fahd Djibran
Editor : Windy Ariestanty & Gita Romadhona
Penerbit : Gagasmedia
Tebal : 172 halaman
Terbit : 2009
ISBN : 978-979-780-373-5

Nanti? Kata “nanti” bila kau sudah di posisi sepertiku, seperti bayang-bayang yang tak pernah pasti. Tak usah menunda. Hidup menunggumu. Apakah kelak bila badai Tsunami datang dan gelombangnya sudah di depan matamu kau masih bisa menunda dan berkata, “nanti, deh!” atau “tunggu dulu!”? Bila sudah sepertiku, kau tak bisa berkata “nanti”. Nanti tak menjanjikan apa-apa. Biar kuberitahu padamu, seperti sering kubilang, sesuatu yang kau tunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun!

[hal 100]

Entah kenapa Za, Aku merasa kata-kata itu diramu dan diracik sedemikian rupa lalu diberi bumbu makna-makna dan jeng! jeng! Jadilah masakan spesial yang dihidangkan spesial untukku. Ya!! Hanya untukku Za!! Fahd Djibran, nama ‘koki’ itu. Aku tak tahu bagaimana dia tahu seleraku. Hmm! Dia pastilah seorang ‘koki’ yang hebat dan profesional. Yah! Kukira begitu Za! Dan aku yakin kaupun setuju. Bukankah kita seperti donat dibelah dua? Hihi. Ya sudah Za, kembali lagi soal ‘koki’ Fahd dan masakan spesialnya untukku.Ya ya ya!! Aku begitu mencintai kata “nanti”, kubelai layaknya kekasih hati. Ya ya ya!! Nanti! Nanti! Nanti! Aku suka sekali mengucapkannya keras-keras pada Ibuku, pada ayahku, pada sahabatku, padamu, juga pada diriku sendiri. Nanti! Nanti! Nanti! Aku tidak tahu[atau pura-pura tidak tahu] bahwa kata ‘nanti’ seperti kue bolu yang manis dan lihai merayuku. Untunglah!! ‘koki’ Fahd meramukan masakan special ini untukku. Bahwa ‘nanti’ tidak boleh dipelihara layaknya lemak tubuh. Dia harus dibakar dengan olah raga agar tidak menyebabkan penyakit. Tentu saja. Ya ya ya!! Aku kira begitu!!

Za, sepertinya kita dan semua orang-orang diluar sana harus merasakan menu-menu racikan koki ‘Fahd’. Ya!! Mereka harus mencicipi semuanya, maka mereka dapat merasakan sendiri bagaimana tidak hanya lidah saja yang digoyang, melainkan juga hati, pikiran, dan nurani. Dan bagaimana kita akan lebih dari sekedar bergumam “Hmmm!!” tapi akan keluar teriakan “Wow!”. Dan lebih dari itu semua, menu-menu yang disajikan ‘koki’ Fahd bisa membuat kita meledak. Jadi waspadalah! Waspadalah!!

Baiklah Za, agar kau dan mereka semakin penasaran ingin mencicipi masakan ‘koki’ Fahd maka akan kubagi sensasi cita rasanya…..

Oke!! Cita rasa yang pertama adalah pedas. Apa kau sudah langsung membayangkan rasanya Za? Jangan buru-buru! Biar aku uraikan. Di menu berjudul ironi[hal 99], Fahd menyuguhkan dengan pedas bagaimana rasa kemanusiaan kita yang semakin meredup saja. Yah! Bayangkan saja Za, ketika masyarakat miskin butuh sana $ 6 miliar untuk pendidikan, $ 8 miliar dihabiskan untuk keperluan kosmetik di AS saja. Betapa pedasnya Ironi! Betapa mirisnya! Lalu dengan rasa pahit lewat menu Dendam Sejarah[hal 31], Fahd berhasil mengaduk emosi dan kesadaran kita. Betapa rasa pahit bila anak cucu kita lebih mengenal Einstein dari kakeknya sendiri membuat kita disadarkan untuk menuliskan apa saja yang terjadi di hidup kita. Hmm!! Aku tahu kau penyuka rasa manis Za. Tenang saja! ’koki’ Fahd juga meramu cita rasa manis yang tak tertandingi! Coba saja menu-menu seperti Lelaki Kecil dan Gugusan Hujan[hal 7], Memoria[hal 21], Desember[hal 37], Peristiwa[hal 69] dan Marva[hal 147]. Kau tahu Za? Karena diramu penuh cinta, rasa manis ini menjadi hidangan yang menggetarkan hati! Oh! I love it!

Selain menu-menu itu ada juga menu-menu lain yang sayang untuk dilewatkan seperti Pertanyaan Untuk K[hal 1], Pergi[hal 5], Alasan[hal 13], Nafsu[hal 43], Hierarki Realitas[hal 57], juga A Blues for You[hal 153-161]. Menu-menu ini membawa kita pada pemahaman dan kesadaran baru akan hidup. Pemikiran sederhana yang kadang kita lupa.

Dan Za, menu paling spesial yang disajikan tentu saja yang berjudul Curhat Setan[hal 125], dan jangan tanyakan lagi rasanya Za. Tentu saja menu yang satu ini rasanya paling setan! Sensasi paling meledak Za. Hingga aku harus super hati-hati mengunyahnya kalau tak ingin sakit gigi atau sariawan. Menu ini membuat kita berpikir ulang tentang setan. Ya ya ya! Setan yang selama ini selalu kita kambing hitamkan atas dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Padahal kita!! Kita sendiri Za, yang punya otoritas penuh untuk memilih hitam atau putih, dosa atau pahala, surga atau neraka.

Akhirnya kukatakan padamu Za. Menu-menu ’koki’ Fahd ini khusus untuk mereka yang ingin menemukan jalan dan pemikiran-pemikiran baru, untuk mereka yang ingin mengecap cita rasa lain dari kehidupan, untuk mereka yang ingin disentil dan mendapatkan sebuah kesadaran baru.

Sebelum kuakhiri curhatku padamu Za, izinkan aku menjadi layaknya pujangga yang berpuisi. Semoga kau suka!

Engkaulah pedas yang menyulut panas hati dan mengobarkan nurani.

Engkaulah manis yang selalu ingin kukecap saat sensasinya menggetarkan seluruh urat syaraf dan indera.

Engkaulah pahit yang membuat bergidik dan ingin seklai kuenyahkan

Semua rasa yang terkecap berReinkarnasi[hal 137] menjadi Cermin[hal 49] kesadaran.

Tentang Harapan[hal 85] dan Mimpi[hal 107] yang selalu ingin kita genggam.

Tentang sebuah Ironi dan Nafsu[hal 43] yang selalu ingin kita lenyapkan.

Juga segala Memoria[hal 21], Peristiwa[hal 69], Ingatan[hal 123], Waktu[hal 77] yang selalu ingin kita simpan.

[Pada Desember tahun 2009, BFDF Band indie asal Bandung- berkolaborasi bersama Fahd Djibran untuk membuat soundtrack Curhat Setan.]

LUCIA DWI ELVIRA

Planet saya dan Menjadi Kutu

saya akan kembali pada planet saya yang dulu.
yang berotasi pada kata.
yang bergravitasi puisi.
dalam angkasa langit hati.
dalam tanah yang menjejakkan makna-makna.
Dalam rangkaian indah yang mengudara.

saya akan kembali menjadi kutu.
yang menjamahi tiap alfabet dan memakan kertas-kertas.
saya akan jadi kutu yang hidup di tumpukan novel dan buku.
Oh!!! betapa bahagianya saya!!

gambar minjem disini

Kado buat wisanggeni: untitled aja!!

TOK TOK TOK!!
PERMISI MAU NGANTAR KADONYA SI AYIPPPP…..


Raksasa kelabu selalu berhasil melahap sandikala dengan sempurna.
Dia kunyah merahnya, sampai lumat nila dan lebur jingga.
Dan muntahannya menjelma menjadi langit dengan gaun hitam.
kau pasti merasa bagaimana anggunnya!

dan disana kau menancap.
pada pusaran planet kata dimana orbitnya adalah puisi.
kau kunyah lariknya sampai mabuk!!
kau lumat makna sampai gila.
kau lebur dalam puisi sampai mati.
dan muntahannya pasti kurasa anggunnya!!

Owh!! baiklah!!
itu kepala tak usah mengalien.
Tuhan yang murah hati menempel bait-bait puisi di DNA mu,
hingga alirannya menggenangi tiap incimu.

______________________________________________________________

Oke saya sudah siapin kuping plus mata besi buat nerima koment mau darimu Yip!!
sumpah saya sedang mati ide….yo ngene iki jadine………
silakan deh klau mau mencaci, cincang, atau apapun itu…
saya terima dengan hati seluas lapangan bola!!! ahahahh

Oia yipp……….udah setahun rek…kapan bukune iki????
tuh…file-file yang sejenis dikumpulin terus dibukuin gitu loh!!
oke bos!!!
sekian terima kasih!!

gambar minjem dari sini