Curhat Setan: Hidangan Spesial ala ‘koki’ Fahd

Judul : Curhat Setan
Penulis : Fahd Djibran
Editor : Windy Ariestanty & Gita Romadhona
Penerbit : Gagasmedia
Tebal : 172 halaman
Terbit : 2009
ISBN : 978-979-780-373-5

Nanti? Kata “nanti” bila kau sudah di posisi sepertiku, seperti bayang-bayang yang tak pernah pasti. Tak usah menunda. Hidup menunggumu. Apakah kelak bila badai Tsunami datang dan gelombangnya sudah di depan matamu kau masih bisa menunda dan berkata, “nanti, deh!” atau “tunggu dulu!”? Bila sudah sepertiku, kau tak bisa berkata “nanti”. Nanti tak menjanjikan apa-apa. Biar kuberitahu padamu, seperti sering kubilang, sesuatu yang kau tunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun!

[hal 100]

Entah kenapa Za, Aku merasa kata-kata itu diramu dan diracik sedemikian rupa lalu diberi bumbu makna-makna dan jeng! jeng! Jadilah masakan spesial yang dihidangkan spesial untukku. Ya!! Hanya untukku Za!! Fahd Djibran, nama ‘koki’ itu. Aku tak tahu bagaimana dia tahu seleraku. Hmm! Dia pastilah seorang ‘koki’ yang hebat dan profesional. Yah! Kukira begitu Za! Dan aku yakin kaupun setuju. Bukankah kita seperti donat dibelah dua? Hihi. Ya sudah Za, kembali lagi soal ‘koki’ Fahd dan masakan spesialnya untukku.Ya ya ya!! Aku begitu mencintai kata “nanti”, kubelai layaknya kekasih hati. Ya ya ya!! Nanti! Nanti! Nanti! Aku suka sekali mengucapkannya keras-keras pada Ibuku, pada ayahku, pada sahabatku, padamu, juga pada diriku sendiri. Nanti! Nanti! Nanti! Aku tidak tahu[atau pura-pura tidak tahu] bahwa kata ‘nanti’ seperti kue bolu yang manis dan lihai merayuku. Untunglah!! ‘koki’ Fahd meramukan masakan special ini untukku. Bahwa ‘nanti’ tidak boleh dipelihara layaknya lemak tubuh. Dia harus dibakar dengan olah raga agar tidak menyebabkan penyakit. Tentu saja. Ya ya ya!! Aku kira begitu!!

Za, sepertinya kita dan semua orang-orang diluar sana harus merasakan menu-menu racikan koki ‘Fahd’. Ya!! Mereka harus mencicipi semuanya, maka mereka dapat merasakan sendiri bagaimana tidak hanya lidah saja yang digoyang, melainkan juga hati, pikiran, dan nurani. Dan bagaimana kita akan lebih dari sekedar bergumam “Hmmm!!” tapi akan keluar teriakan “Wow!”. Dan lebih dari itu semua, menu-menu yang disajikan ‘koki’ Fahd bisa membuat kita meledak. Jadi waspadalah! Waspadalah!!

Baiklah Za, agar kau dan mereka semakin penasaran ingin mencicipi masakan ‘koki’ Fahd maka akan kubagi sensasi cita rasanya…..

Oke!! Cita rasa yang pertama adalah pedas. Apa kau sudah langsung membayangkan rasanya Za? Jangan buru-buru! Biar aku uraikan. Di menu berjudul ironi[hal 99], Fahd menyuguhkan dengan pedas bagaimana rasa kemanusiaan kita yang semakin meredup saja. Yah! Bayangkan saja Za, ketika masyarakat miskin butuh sana $ 6 miliar untuk pendidikan, $ 8 miliar dihabiskan untuk keperluan kosmetik di AS saja. Betapa pedasnya Ironi! Betapa mirisnya! Lalu dengan rasa pahit lewat menu Dendam Sejarah[hal 31], Fahd berhasil mengaduk emosi dan kesadaran kita. Betapa rasa pahit bila anak cucu kita lebih mengenal Einstein dari kakeknya sendiri membuat kita disadarkan untuk menuliskan apa saja yang terjadi di hidup kita. Hmm!! Aku tahu kau penyuka rasa manis Za. Tenang saja! ’koki’ Fahd juga meramu cita rasa manis yang tak tertandingi! Coba saja menu-menu seperti Lelaki Kecil dan Gugusan Hujan[hal 7], Memoria[hal 21], Desember[hal 37], Peristiwa[hal 69] dan Marva[hal 147]. Kau tahu Za? Karena diramu penuh cinta, rasa manis ini menjadi hidangan yang menggetarkan hati! Oh! I love it!

Selain menu-menu itu ada juga menu-menu lain yang sayang untuk dilewatkan seperti Pertanyaan Untuk K[hal 1], Pergi[hal 5], Alasan[hal 13], Nafsu[hal 43], Hierarki Realitas[hal 57], juga A Blues for You[hal 153-161]. Menu-menu ini membawa kita pada pemahaman dan kesadaran baru akan hidup. Pemikiran sederhana yang kadang kita lupa.

Dan Za, menu paling spesial yang disajikan tentu saja yang berjudul Curhat Setan[hal 125], dan jangan tanyakan lagi rasanya Za. Tentu saja menu yang satu ini rasanya paling setan! Sensasi paling meledak Za. Hingga aku harus super hati-hati mengunyahnya kalau tak ingin sakit gigi atau sariawan. Menu ini membuat kita berpikir ulang tentang setan. Ya ya ya! Setan yang selama ini selalu kita kambing hitamkan atas dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Padahal kita!! Kita sendiri Za, yang punya otoritas penuh untuk memilih hitam atau putih, dosa atau pahala, surga atau neraka.

Akhirnya kukatakan padamu Za. Menu-menu ’koki’ Fahd ini khusus untuk mereka yang ingin menemukan jalan dan pemikiran-pemikiran baru, untuk mereka yang ingin mengecap cita rasa lain dari kehidupan, untuk mereka yang ingin disentil dan mendapatkan sebuah kesadaran baru.

Sebelum kuakhiri curhatku padamu Za, izinkan aku menjadi layaknya pujangga yang berpuisi. Semoga kau suka!

Engkaulah pedas yang menyulut panas hati dan mengobarkan nurani.

Engkaulah manis yang selalu ingin kukecap saat sensasinya menggetarkan seluruh urat syaraf dan indera.

Engkaulah pahit yang membuat bergidik dan ingin seklai kuenyahkan

Semua rasa yang terkecap berReinkarnasi[hal 137] menjadi Cermin[hal 49] kesadaran.

Tentang Harapan[hal 85] dan Mimpi[hal 107] yang selalu ingin kita genggam.

Tentang sebuah Ironi dan Nafsu[hal 43] yang selalu ingin kita lenyapkan.

Juga segala Memoria[hal 21], Peristiwa[hal 69], Ingatan[hal 123], Waktu[hal 77] yang selalu ingin kita simpan.

[Pada Desember tahun 2009, BFDF Band indie asal Bandung- berkolaborasi bersama Fahd Djibran untuk membuat soundtrack Curhat Setan.]

LUCIA DWI ELVIRA

Advertisements

20 thoughts on “Curhat Setan: Hidangan Spesial ala ‘koki’ Fahd

  1. “sesuatu yang kau tunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun!” ini kata2 yang selalu aku ingat setelah membacanya. benar2 wah lah. menusuk banget hahahaha sampai2 aku jadi takut untuk sekedar menunda2 “sesuatu”. apa memang lebih cepat lebih baik ? hehehee

  2. nitafebri said: masuk kategori apa chi?roman, komedi, atau apa?eh iya Harga berapa????

    hmm…apa yah…aku menyebutnya buku gado-gado mbak nita…disini ada pemikiran tentang hidup, kisah cinta, pokoknya peninjauan ulang tentang hal-hal yang kita kira sederhana tapi bermakna…

  3. jee771 said: “sesuatu yang kau tunda akan menggumpalkan kekuatan untuk memburumu tanpa ampun!”ini kata2 yang selalu aku ingat setelah membacanya. benar2 wah lah. menusuk banget hahahaha sampai2 aku jadi takut untuk sekedar menunda2 “sesuatu”. apa memang lebih cepat lebih baik ? hehehee

    nah itulah tulisan Fahd…selalu membuat kita sadar…heehhe

  4. duniauchi said: Tenang saja! ’koki’ Fahd juga meramu cita rasa manis yang tak tertandingi! Coba saja menu-menu seperti Lelaki Kecil dan Gugusan Hujan[hal 7], Memoria[hal 21], Desember[hal 37],

    pilih yang ini aja , ada desembernya, hehhehh

  5. duniauchi said: boleh…kapan kita bisa ketemu mas? kan udah musim libur?

    aku sampai pertengahan februari, masih ada di Srbaya… ntar pas daftar ulang ae yooo 🙂

  6. lina: kumpulan curhat. hampir sama kayak gaya reviewku ini. untuk lbh jelasnya silakan ‘diincipin’ sendiri^^mas suga: Za izalah![maksudnya ya iyalah. wink!]bunda rani: betul betul betulyory: hmm ada apa dg desember.nengmetty: wah gaya guè dunk. hehemas fatah: oke! ntar via sms ja mas.^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s