Engkau yang kaca

Perlukah kutempel bantal-bantal di sekitarmu?
Engkau yang begitu kaca.
Gores-gores ringan begitu memiaskanmu.
kedamaian yang lantak dipecah benturan mini.
Kerapuhanmu yang bicara mendominasi.

Kau butuh obat anti gores dengan dosis maksimal.
Ya! Aku kira begitu…..
O ya…rasa-rasanya lem alteco harus selalu ada di kantongmu.
Biar kau cepat merekatkan diri saat berkeping.
Kau perlu pelindung super tebal dan perasaan super kebal.
Ya ya ya…..

Kaca, kau sepertinya harus berkaca lagi pada dirimu yang paling sembunyi.
Segala gores kau ciptakan sendiri atau bagaimana?
Segala kerapuhan kau bentuk sendiri atau bagaimana?

Kau tak boleh kaca….
Lebih baik batu……….
Lebih baik batu……..

c, 220210

Za: memiliki kehilangan

Za, pernahkah kau mendengar kata-kata atau lebih tepatnya kalimat ”kita tidak akan kehilangan apa yang tidak pernah kita miliki”.
Entah darimana kata-kata itu kudapatkan Za. Tiba-tiba saja aku tahu.
Inikah yang disebut ‘wangsit’ Za?
Atau aku hanya lupa? Mungkin kata-kata itu ada disuatu sobekan koran bungkus makanan yang aku baca, mungkin pada novel-novel yang aku tandai, pada lirik-lirik mp3, atau mungkin tercecer di ruang-ruang maya.
Ah! Aku sungguh tak tahu Za. Aku memang begitu pelupa.

”kita tidak akan kehilangan apa yang tidak pernah kita miliki”
Seperti semua kata bijak lainnya……
Semua terlihat sangat benar….
tapi betapa sulit kebenaran itu di jalankan.
Terlihat mudah pada teori, tapi di prakteknya….oowwww…how hard!!

Iya Za, dia, seseorang yang tak pernah kumiliki.
Kenapa harus ada kehampaan yang tiba-tiba datang? Kenapa harus ada air mata? Kenapa harus ada sesak di dada ketika dia pergi dan berlalu??
Kenapa aku harus merasa kehilangan??

Mungkin karena ketiadaannya, kepergiannya bukan hanya membawa sosoknya, tapi juga membawa rasa yang bertahun manahun.
Rasa yang seperti sudah berabad-abad hingga tua dan renta.
Entah aku lebih takut kehilangan yang mana??
Sosoknya atau rasa itu sendiri?

Aku tahu Za, aku tidak boleh seperti ini. Otakku berkata demikian. Tapi kau tahu? Hati kadang punya aturan dan warnanya sendiri. Dia punya kaidah yang cara kerjanya kadang tak sesuai dengan rasionalitas dan kewarasan. Hati punya kegilaannya sendiri. Dia yang menentukan sendiri akan tertawakah, menangiskah, gelisakah. Kadang di luar kendaliku Za.

Harusnya! Ya harusnya!
”kita tidak akan kehilangan apa yang tidak pernah kita miliki”

I,150210

Pergilah kau setan!

Jurusmu begitu jitu.
Entah dari penjuru mana kau membaur menjelma mikron-mikron yang tak terdeteksi radarku.
Mungkin kau menyatu dan mengibuli udara hingga bersedia mengangkutmu.
Mungkin kau cerdik menggerayangi tanganku yang bersalaman dengan apa saja.
Dan licah kau terbang pada pernapasanku.
Megap-megap aku melawan.
Pasukan kukerahkan tapi tak mampu membatasi kelihaianmu berkembang biak. Beranak pinak.
Dasar tidak sopan!
Lihat suhuku meninggi dan hujan tak henti di cuping hidungku.
Kamu harus tanggung jawab!
Kamu harus tanggung jawab!
Oke!
Menyingkir saja dari hidupku!
Pergi sana jauh-jauh!
Kumohon!
Aku mengusirmu!
Aku serius!
Sekarang juga!
Langkahkah kakimu yang jelek dan bau itu!
Pergi!
Pergi!
Pergi!
Pergi!
Mati kau!!!

:setan influenza!!

120210