si bodohlah yang menang

saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi malam tadi rindu seperti meledak tak tahu diri. Dan setelah perang panjang antara hati saya yang bodoh dengan hati saya yang bijaksana. Akhirnya si bodoh lah yang menang. Si bodohlah yang memegang kembali. Dan akhirnya saya kembali menekan nomor-nomor itu. Yang masih saya hafal padahal ingin sekali saya lupakan. Sebelumnya seperti biasa saya selalu menyembunyikan caller Id saat menelpon dalam keadaan seperti ini. Perang dingin. Setelah kita sama-sama diam tanpa komunikasi selama seminggu lebih.
‘haloo’ di seberang sana seseorang bersuara. Suara yang sangat saya hafal. Saya hanya diam. Tujuan pertama saya menelpon hanyalah untuk mendengar suaranya. Itu saja.
Dia pasti sudah tahu yang menelpon itu saya. Dia sudah hafal bahwa satu-satunya orang yang menelponnya tapi hanya diam tak bicara hanyalah saya.
‘halooo’ suara itu terdengar lagi dan saya tetap diam membisu. Saya tidak ingin bicara apa-apa. Saya hanya ingin mendengar suaranya. Saya tahu saya sangat egois. Saya tahu.
‘ngomongo ta lapo meneng ae….” dan itu suara terakhir yang saya dengar karena entah kenapa tangan ini tiba-tiba menekan tombol ‘akhiri panggilan’. Sudah. Cukup. Begitu saja rindu ini sudah terobati.
Si bodoh ini tambah bodooooh saja…….
Biarlaaah….

Advertisements

Pada Hujan Ke Lima Puluh Satu

Inilah caraku mengenangmu…

Lewat luka dan bau anyir darah….

Dan aku tak bisa lagi menyusuri putihmu. Atau memang tidak pernah ada.

Kamu adalah hitam yang ingin aku buang. Asal kamu tahu!

Kamu harus tahu!!

Kamulah hitam yang membuatku buta. Pernah.

Tapi tidak lagi.

Aku sudah tobat.

Selamat tinggal!

 

050311

Inilah Caraku Mengenangmu F

Inilah caraku mengenangmu…

Lewat luka dan bau anyir darah….

Dan aku tak bisa lagi menyusuri putihmu. Atau memang tidak pernah ada.

Kamu adalah hitam yang ingin aku buang. Asal kamu tahu!

Kamu harus tahu!!

Kamulah hitam yang membuatku buta. Pernah.

Tapi tidak lagi.

Aku sudah tobat.

Selamat tinggal!

 

050311

Aku Pernah Sangat

Aku pernah mencintaimu. Sangat.
Aku pernah merindukanmu. Sangat.
Aku pernah tak ingin kehilanganmu dan ingin kau di sampingku selamanya. ya pernah.
Tapi semua sudah berakhir.
Dan sekarang yang tersisa cuma luka, perih, airmata dan rasa sakit yang dalam.
Kau menyakitiku. Sangat.
Aku membencimu. Sangat.
Aku tidak mau melihat wajahmu lagi.
Aku tidak mau mendengar suaramu lagi.
Aku tidak mau lewat depan rumahmu lagi.
Aku tidak mau mendengar lagu-lagu kenangan kita.
Aku tidak mau tau kabarmu lagi.
Pergi pergi pergi!
Pergi yang jauh dari kehidupanku.
Pergi yang jauh dari hadapanku.
Pergi yang jauh dari hatiku!
Pergi!!!

Surat untu diriku

Wahai hatiku yang paling berharga….

Bagaimana bisa kamu dengan mudahnya mencintai orang lain tapi kamu mengabaikan dirimu sendiri? Bagaimana bisa kamu membiarkannya melukaimu begitu parah sedang kamu mati-matian menjaganya?
Bagaimana bisa kamu mengharapkan cinta dari dia yang tidak mau menjadikanmu bagian dari cerita hidupnya?
Bagaimana bisa kamu berjuang untuk dia yang tidak mau memperjuangkanmu?
Aku tahu, kamu ingin dia tahu betapa spesial dia untukmu.
Aku tahu betapa setianya kamu.
Aku tahu betapa kamu menjaga komitmen sampai mati dengan seseorang.
Aku tahu betapa kamu ingin selalu ada saat dia butuh.
Aku tahu betapa tidak tertolong romantisnya kamu.
Aku tahu betapa kamu sangat peduli.
Tapi kamu harus lebih cerdas sekarang.
Bahwa ada waktunya saat kamu harus berhenti berjuang untuk dia yang tidak mau memperjuangkanmu…untuk dia yang tidak memberimu kesempatan.
bahwa ada saatnya berhenti memperdulikan dia yang tak pernah peduli padamu.
Aku terlalu mencintaimu. Dan aku tak ingin melihatmu membakar diri dalam kesedihan, kekecewaan dan airmata.
Akan kuberitahu satu hal yang paling kusuka sekaligus kubenci darimu.
Saat kamu mencintai seseorang kamu selalu memberikan cintamu 100 persen untuk orang itu. Kamu memberikan terlalu banyak sebenarnya. Kamu membiarkan dia mendekte suasana hatimu dan harimu.
Yaa…kamu adalah seorang yang paling berani sekaligus paling bodoh yang pernah kutahu.
sering kali aku menertawakan kebodohanmu ini tapi di lain waktu aku bangga dengan kebesaran hatimu untuk mencintai.

(mencoba menerjemahkan artikel yang sangat inspiratif di http://ngerumpi.com/baca/2011/02/24/a-letter-to-myself.html)

Suatu Saat Kau Akan Kembali

Suatu saat kau akan kembali dengan wajah suci seorang biksu. Kau lupa kan 51 cabikan serigala yang pernah kau tinggalkan. Kau lupa kan aku hampir mati tersayat-sayat gigi taringmu. Kau pasti lupa. Kau pasti tidak merasa dan kau TIDAK PEDULI kan!!

Suatu saat kau akan kembali dengan suara tanpa rasa bersalah. Dan kau lupa kan 51 tusukan kata yang membiru di jantungku. Detakku hampir mati. Apa kau PEDULI? Tidak kan!!

Suatu saat kau akan kembali dengan bibir manismu, senyum lugumu. Dan aku ingin muntah melihatnya. Aku sudah sangat muak. Mual sekali.

Kamulah hitam yang pantas kubuang…

Kamulah sampah yang harus dibakar…

PERGILAH!! Tak ada lagi pintu untukmu!

 

050311

Dendamku…dendammu Za

Za. Haruskah kita menyimpan duri ini selamanya. Sedang ia terus merasuk dalam dan melukai daging  kita. Semakin perih Za. Semakin perih. Dan disana, pemuda yang meninggalkannya tidak merasa. Ini tidak adil Za. Sama sekali tidak adil.

Kita hidup dalam kesakitan yang dia ciptakan sedangkan dia asyik berpesta di luar. Ini tidak adil Za. Ini tidak adil untuk kau dan aku. Kita! Sungguh ini tidak adil dan tak pernah adil. Harusnya dia juga merasakan duri-duri yang ia tebarkan, merasakan keperihan dan kesakitan kita juga Za. Harusnya dia merasakan bagaimana duri-duri itu membuatnya luka dan berdarah. Dia harus merasakannya Za! Harus!

Kau tahu Za. Kalau aku bertemu lagi dengan dia. Dia yang menebar luka-luka. Akan kubawakan dia yang lebih perih dari duri. Lebih perih Za. Akan kubawakan dia pisau yang kuasah dengan airmataku. Biar dia rasakan asin lukaku. Asin lukamu Za.

 

060311