jalan setapak

“Di balik jalan setapak yang berkelok-kelok, terjal dan berbatu itu terdapat sebuah taman yang indah Chi!” kata Za di suatu senja. Matanya berkilat-kilat dan menerawang jauh memandang langit. Aku mengikuti arah Za memandang. Langit sedang berdandan elok sekali. Warna-warna disapukan tanpa ampun ke wajahnya. Tapi hasilnya cantik. Sangat cantik. “Benarkah itu Za?” tanyaku setelah 20 detik memandang langit. Benarkah begitu?

Za cuma menyunggingkan senyuman dan aku selalu gagal mengartikan senyuman Za yang seperti itu. Aku tak pernah tahu.

“Banyak orang berusaha menempuh jalan itu. Banyak yang terluka. Banyak yang berdarah. Banyak yang menangis. Banyak yang jatuh. Banyak yang tidak kuat. Banyak yang kembali. Banyak yang putus asa. Dan hanya segelintir orang yang berhasil.”

Aku gamang selama ini perkataan Za selalu benar. Selama ini Za tidak pernah membohongiku. Benarkah begitu ada suatu taman yang sangat indah, tapi kita harus berdarah-darah untuk mencapai taman itu? Benarkah begitu Za?

“Mereka yang berhasil adalah mereka yang tetap meneruskan perjalanan. Mereka mungkin sakit. Mereka mungkin jatuh. Mereka mungkin berdarah. Mereka mungkin berhenti sejenak. Tapi mereka tidak pernah putus asa dan selalu meneruskan perjalanan. Dan mereka menemukan taman itu. Taman dengan seribu kupu-kupu. Taman dengan bunga-bunga yang mekar berwarna-warni. Taman dengan langit yang cerah. Taman yang banyak tawa dan kebahagiaan”

Aku mulai terpengaruh dan membayangkan betapa indahnya taman itu. Dan aku menginginkannya. Aku ingin menjumpai taman itu. Aku ingin melihat bunga dan kupu-kupu, juga langit yang indah.

“Aku ingin kesana Za. Aku akan menempuh jalan berbatu itu, aku ingin pergi ke taman itu Za!” kataku lantang. Tak pernah aku punya tekat seapi ini. Tapi Za Cuma tersenyum. Ya..senyuman itu lagi.

“Za…ayolah..antarkan aku ke jalan itu!” aku mulai merajuk.

“Kau sungguh ingin kesana Chi?” Tanya Za dengan ekspresi sedikit acuh.

“Tentu saja Za. Antarkan aku. Kau pernah ke sana kan?” tanyaku dengan nada yang tanpa kusadari sedikit meninggi. Aku mulai memasang wajah ingin dikasihani.

Tapi Za Cuma tersenyum penuh misteri dan berlalu.

“Kelak kau akan tahu sendiri Chi dimana jalan itu sesungguhnya. Tempuhlah. Teruslah. Dan jangan pernah kembali. Maka kau pasti akan menemukan tamanmu.”

Advertisements

One thought on “jalan setapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s