Karena Ada Lubang Di dada dan Kepalanya

Aku menemukannya pertama kali di pasar dekat kompleks perumahanku. Dia duduk berjejer rapi dengan yang lainnya di atas sebuah etalase kayu yang sederhana. Warnanya hitam mencolok diantara boneka lain yang lebih lembut warnanya. coklat, putih, pink, biru. Warna khas yang disukai anak-anak perempuan. Tapi seleraku berbeda. Aku lebih tertarik pada boneka panda hitam itu. Waktu itu aku baru berusia 6 tahun dan apa lagi yang dapat dilakukan anak 6 tahun selain merengek kepada ibunya.

Tapi ibuku tidak suka boneka itu. Katanya, boneka itu suram dan jelek. Ibuku tidak mau membelikannya. Dan sekali ibuku berkata tidak maka aku tidak dapat berbuat apa-apa. Takkan kudapatkan sepeser uangpun dari ibu untuk membeli boneka itu.
Aku menatap boneka panda hitam itu lama. Semakin aku menatapnya semakin aku menyukainya. Dan sekecil itu aku sudah punya tekad yang kuat untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku menginginkan boneka itu. Maka akan kulakukan apapun untuk mendapatkannya.

Maka aku merengek pada ayah begitu dia pulang kerja. Ayah lebih royal daripada ibu. Dengan senang hati ayah memberiku uang dua puluh ribu dan akupun pergi secepatnya ke pasar untuk menjemput si hitam. Ya aku telah menamainya sebelum aku memilikinya. Aku tidak perlu takut si hitam diambil orang karena aku yakin tidak ada yang akan ada yang mau membeli si hitam.

Sejak itu si hitamlah temanku yang paling baik. Dia yang menemaniku setiap hari. Dia yang kuajak bermain. Dia yang kuajak bicara. Dia yang paling kusayangi. Kujaga dia baik-baik. Kurawat penuh kasih sayang. Dan aku sulit sekali dipisahkan dari si hitam.

Suatu hari entah bagaimana ada baret di bagian dada dan kepala si hitam. Entah baret itu sudah ada sejak dulu tapi tertutupi bulunya yang halus dan hitam, atau baret itu baru saja menggores dada dan kepalanya. Aku tidak tahu. Kukira dia baik-baik saja.

Mulanya baret itu kecil saja tapi lama-lama baret itu menjadi besar dan semakin besar. Dan sekarang kondisi si hitam sangat memprihatinkan. Ada lubang seukuran bola bekel di dada dan di kepalanya. Aku menangis keras menangisi si hitam yang rusak dan berubah jadi jelek. Aku sangat menyayanginya tapi sekarang lubang besar itu membuat si hitam jelek dan tidak menarik. Si hitam cacat.
Aku sudah meminta ibu menjahit si hitam tepat di dada dan kepalanya. Tapi tetap saja jelek dan sepertinya ibu tidak bersungguh-sungguh menjahitnya. Dari awal ibu sudah tidak menyukai si hitam. Jahitan ibu putus dan lubang di dada dan kepala si hitam makin menganga lebar.
Aku menangis setiap mengingat dan melihat si hitam. Aku menyesali kenapa dia berubah seperti itu. Aku sedih tak terhingga.

Maka daripada menangis setiap melihat si hitam, maka aku memutuskan membuang si hitam ke tong sampah. Dengan menyingkirkannya dari pandanganku, dengan menjauhkannya dariku kuharap bisa membuatku melupakan si hitam.
Tong sampah itu adalah tong sampah depan rumahku. Isinya sudah tidak karuan, aku berencana membuang si hitam di sana, bersama sisa sayuran dan nasi basi yang dibuang ibu. Nasi basi dan sayuran busuk itu, walaupun sudah dimasukkan ke kantong plastik, bau menyengatnya tak lantas hilang. Memang bau busuk, sekeras apapun kita berusaha menutupinya tetap akan tercium juga.

Dengan sedih dan menguat-nguatkan hati kulempar si hitam ke tumpukan sampah itu. Berat sekali melepasnya pergi, aku jadi sering keluar rumah hanya untuk melihat nasib si hitam di tong sampah.
Hingga esoknya seorang gadis kecil pemulung datang ke tong sampah itu. Aku khawatir dengan si hitam. Aku mengintai dari dalam pagar, apakah gadis itu akan mengambil si hitam dari tempat sampah?
Gadis itu terlihat kotor sekali, pakaiannya compang-camping dimana mana, wajahnya nakal tapi terlihat murung. Dan aku melihat matanya menyala saat melihat si hitam. Diambilnya pelan-pelan lalu dibersihkannya si hitam dari debu dan kotoran yang melekat. Dia berbicara pada si hitam. Aku mendengar dia merayu si hitam lalu dia memeluk si hitam erat sekali. Lebih erat dari pelukan yang kuberikan pada si hitam.

Dan aku…aku tidak rela si hitam dipeluk-peluk orang lain apalagi dipeluk gadis pemulung seperti dia.
Tanpa sadar aku berlari ke arah gadis itu dan merebut si hitam kembali. Gadis itu tampak terkejut tapi tidak rela si hitam kurebut dari tangannya, maka dia menarik tangan si hitam dariku. Maka terjadi adegan tarik menarik, rebut-merebut si hitam diantara aku dan gadis pemulung itu. Lama sekali kami melakukan tarik menarik. Kami sama-sama tidak mau mengalah. Aku masih belum bisa merelakan si hitam, sedangkan gadis pemulung itu merasa telah menemukan si hitam karena dia telah memungutnya di tong sampah.
Hingga tiba-tiba ibuku muncul dengan muka heran. Dia lalu menatap mataku, dan muncullah kata-kata emas itu.
”Za, berikanlah bekas mainanmu pada mereka yang kurang beruntung”
Ibu mengucapkan kata-kata emas itu sambil memandang gadis pemulung itu penuh iba. Kata-kata ibu seperti menyihirku.
Aku tiba-tiba tersenyum dan membenarkan kata-kata ibu. Dulu kukira si hitam akan menemaniku selamanya. Kukira dia akan baik-baik saja. Kukira dia akan setia bersamaku. Tapi ternyata lubang besar muncul di DADA dan KEPALAnya, dan mukanya yang jelekpun terlihat. Sekarang Si hitam sudah jelek. Sudah rusak. Sudah cacat. Apalagi dua lubang besar itu berada tepat di DADA dan KEPALAnya. Itu bagian paling penting bukan?

Dengan kerelaan hati luar biasa aku memberikan si hitam pada gadis pemulung itu. Tanpa sedikitpun penyesalan.

Tiba-tiba aku merasa kasihan pada gadis pemulung itu. Dia memang kurang beruntung. Dia hanya bisa mendapat si hitam yang sudah cacat. Dan cacat itu ada di DADA dan KEPALAnya. Dia tidak bisa mendapat yang lebih baik dari si hitam. Dan aku bisa. Tentu saja.

”berikan bekas mainanmu pada mereka yang kurang beruntung”
Kata-kata ibu kembali terngiang di kepalaku sampai sekarang.

020711

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s