Sampah

Entah dapat ilham darimana? Entah kesambet apa? Entah digoncang badai mana? Tapi hari ini saya sedang rajin.
Seriously. Hari ini mungkin hari paling rajin sejak liburan kuliah beberapa saat lalu.
Biasanya saya cuma sibuk makan, main laptop, lihat TV, tidur dan menganggu orang-orang. Tapi sekarang, entah angin, entah badai, entah kesambet, entah tangan Tuhan. Tapi saya melakukan sesuatu hari ini. Bukan sesuatu yang besar, tapi saya bangga melakukannya.
Do you know what?
Hehe…saya membersihkan kamar saya hari ini..
Plok plok plok…*gag penting*
hehe. Alasan sebenar dan sejujurnya saya membersihkan kamar adalah saya sudah tidak tahan. Hehe…kamar saya terasa sudah sangat sesak dengan barang-barang yang liar berserakan dimana-mana. Kertas-kertas yang memenuhi lantai, baju-baju yang bertumpuk di kursi, tempat sampah yang penuh dan entah barang-barang apa yang memenuhi meja belajar saya.
Saya merasa semakin sesak saja melihat kamar saya yang amburadul. Maka pagi ini…akhirnya! Akhirnya! Tuhan membukakan hati saya untuk membereskan apa yang berantakan ini.
Saya mulai dari meja belajar yang sudah hampir tidak tertolong amburadulnya, jepit, pita, kuncit rambut, handbody, buku, charger semua menempatkan diri pada tempat yang tidak semestinya. Semuanya semaunya sendiri. Fiuh!
Di tumpukan barang-barang tersebut ternyata saya menyimpan banyak barang yang tidak berguna tapi terlalu sayang bila dibuang. Saya memang tipe orang yang suka menyimpan barang-barang tidak penting, saya hanya berpikir kalau suatu saat mungkin barang itu akan diperlukan. Meskipun pada kenyataannya barang-barang itu pada akhirnya tetap harus berakhir di tong sampah karena saya lebih memilih membeli yang baru daripada mencari-cari di tempat yang kadang saya lupa. Selain barang-barang itu, saya juga menemukan beberapa foto dan benda yang membangkitkan kenangan tidak menyenangkan. Dengan emosi saya segera menyobek dan memasukkan foto tersebut ke tong sampah. Tong sampah memang tempat dimana mereka semestinya berada. Karena keberadaan mereka di kamar ternyata hanya menambah sesak dan penuh ruangan.
Setelah membuang barang yang tidak perlu, menata dan meletakkan barang-barang pada tempat semestinya, dan menyapu lantai yang sudah mulai berdebu saya akhirnya bisa bernapas lega. Sesak itu hilang dan berganti kelapangan. Saya memang harusnya mesti sering-sering membersihkan kamar saya seperti ini (pray: God please open my heart again and again. 🙂

Saat memindahkan barang-barang itu ke tempat semestinya mendadak saya berpikir. Semestinya ini juga harus dilakukan di otak dan hati saya. Saya mungkin suka menimbun-nimbun pikiran-pikiran, kenangan-kenangan dan perasaan-perasaan yang tidak perlu sehingga membuat penuh hati dan otak saya. Maka perasaan sesakpun sering datang dan membuat segalanya terasa sulit dan berat. Saya harusnya bisa membuang segala yang sudah tidak diperlukan dan tidak menyimpannya lebih lama. Karena semua tidak berguna dan terkadang sampai tahap berbahaya bagi kesehatan jiwa saya. Maka harusnya saya bisa membuang semua pikiran, kenangan dan perasaan itu ke tong sampah ke TPA. Tanpa perlu dipungut kembali tanpa perlu didaur ulang karena semua sudah percuma dan tidak berguna. Saya tahu itu sulit, tidak semudah itu pikiran, kenangan dan perasaan hilang dalam sekali angkut. Perlu ekstra sapu, perlu ekstra pel dan mungkin sebuah traktor untuk mengangkut bersih semuanya. Tapi sesulit apapun itu kita harus mencoba kan? toh kita tidak bisa tinggal diam membiarkan sampah-sampah itu membusuk, menimbulkan bau dan mengotori pikiran dan hati kita.
We have to try anyway….

280711

Advertisements

2 thoughts on “Sampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s