Masokis Perasaan



Aku menyebutmu seorang masokis perasaan. Lupakan tentang tata bahasa karena bagiku istilah itu telah sempurna. Kau yang kini diam di hadapanku. Kau yang menatap lama pada satu titik yang jika kutelusuri lurus matamu akan jatuh pada sebuah dunia asing yang tak kutahu. Kau yang selalu tersesat pada duniamu sendiri.

Aku berada tepat di hadapanmu. Jarak kita hanya beberapa senti. Tapi aku tak pernah mengerti.

Sudah hampir setahun dia pergi. Sudah setahun dia menghilang begitu saja. Sudah setahun sejak tragedi luka itu. Sudah setahun tapi kau masih tak juga pergi dari masa lalu yang menyakitkan itu. Kau terus mengingatnya, melamunkan, dan memutar-mutar di kepala. Entah untuk yang ke berapa ribu kali dan entah untuk apa. Aku curiga kau sudah kecanduan masa lalu.

Masokis perasaan, itu vonis terakhir yang kujatuhkan untukmu. Dan kau tak pernah menolaknya. Kau hanya diam saat aku mencacimu seperti itu. Dan bukankah diam artinya setuju?

Kau yang suka sekali berenang dalam luka. Ya! Berenang…bukan tenggelam…karena aku merasa kau menikmati segala lukamu. Kau yang memelihara perasaan sakitmu seperti memelihara ikan di akuarium. Terus kau beri makan hingga mereka tumbuh dan berkembang. Kau yang tidak hanya duduk di dekat sumber kesedihanmu, tapi juga saling bicara dan saling memeluk. Kau yang tak pernah berusaha keluar dari semua ini.

Kau yang dia jatuhkan di jurang. Semua orang mengulurkan tangan, menurunkan tali, menyiapkan tangga. Beberapa orang menawarkan hatinya. Tapi kau tak pernah meraih itu semua. Kau lebih suka di sana. Duduk dalam kegelapan. Sendirian.

Jujur saja aku mulai bosan dan putus asa. Aku mulai jengah melihatmu terus menerus menangis. Terus menerus sakit, diam dan menghampa. Aku mulai merindukan kau yang tersenyum. Kau yang ceria. Kau yang tertawa. Kau yang bebas dan menari. Kemana semua itu pergi?

Sekali lagi kutatap matamu. Sembab. Pasti karena semalam kau habis-habisan memeras lagi kantung airmatamu. Wajahmu layu dan kaku. Kau sudah seperti mayat hidup.

Tiba-tiba aku ingin sekali menggoyang-goyang tubuhmu hingga kau bangun. Menampar wajahmu agar kau sadar. Dan menarikmu paksa dari kesedihan yang kau pelihara. Tapi aku tak pernah bisa.

Aku, yang mereka namakan Logika tak pernah bisa menyembuhkanmu.

Kau yang kini di hadapanku terpisahkan oleh batas yang entah apa.

280811

Advertisements

Masokis Perasaan


Aku menyebutmu seorang masokis perasaan. Lupakan tentang tata bahasa karena bagiku istilah itu telah sempurna. Kau yang kini diam di hadapanku. Kau yang menatap lama pada satu titik yang jika kutelusuri lurus matamu akan jatuh pada sebuah dunia asing yang tak kutahu. Kau yang selalu tersesat pada duniamu sendiri.

Aku berada tepat di hadapanmu. Jarak kita hanya beberapa senti. Tapi aku tak pernah mengerti.
Sudah hampir setahun dia pergi. Sudah setahun dia menghilang begitu saja. Sudah setahun sejak tragedi luka itu. Sudah setahun tapi kau masih tak juga pergi dari masa lalu yang menyakitkan itu. Kau terus mengingatnya, melamunkan, dan memutar-mutar di kepala. Entah untuk yang ke berapa ribu kali dan entah untuk apa. Aku curiga kau sudah kecanduan masa lalu.

Masokis perasaan, itu vonis terakhir yang kujatuhkan untukmu. Dan kau tak pernah menolaknya. Kau hanya diam saat aku mencacimu seperti itu. Dan bukankah diam artinya setuju?

Kau yang suka sekali berenang dalam luka. Ya! Berenang…bukan tenggelam…karena aku merasa kau menikmati segala lukamu. Kau yang memelihara perasaan sakitmu seperti memelihara ikan di akuarium. Terus kau beri makan hingga mereka tumbuh dan berkembang. Kau yang tidak hanya duduk di dekat sumber kesedihanmu, tapi juga saling bicara dan saling memeluk. Kau yang tak pernah berusaha keluar dari semua ini.

Kau yang dia jatuhkan di jurang. Semua orang mengulurkan tangan, menurunkan tali, menyiapkan tangga. Beberapa orang menawarkan hatinya. Tapi kau tak pernah meraih itu semua. Kau lebih suka di sana. Duduk dalam kegelapan. Sendirian.

Jujur saja aku mulai bosan dan putus asa. Aku mulai jengah melihatmu terus menerus menangis. Terus menerus sakit, diam dan menghampa. Aku mulai merindukan kau yang tersenyum. Kau yang ceria. Kau yang tertawa. Kau yang bebas dan menari. Kemana semua itu pergi?

Sekali lagi kutatap matamu. Sembab. Pasti karena semalam kau habis-habisan memeras lagi kantung airmatamu. Wajahmu layu dan kaku. Kau sudah seperti mayat hidup.

Tiba-tiba aku ingin sekali menggoyang-goyang tubuhmu hingga kau bangun. Menampar wajahmu agar kau sadar. Dan menarikmu paksa dari kesedihan yang kau pelihara. Tapi aku tak pernah bisa.

Aku, yang mereka namakan Logika tak pernah bisa menyembuhkanmu.
Kau yang kini di hadapanku terpisahkan oleh batas yang entah apa.

280811

Di balik Kediamanku…

:F

Kediamanku…
Nada-nada tinggiku…
Konfrontasiku…
Perang dingin ini…

Semata-mata ingin menunjukkan padamu.
Bahwa sesuatu yang dulu kau sia-siakan menjadi pisau bermata dua yang kau harapkan.
Bahwa setelah kau menghilangkan, sekarang kau rasakan rasanya kehilangan.
Aku ingin kau juga merasakan rasanya merindukan seseorang sedang orang itu menolak mentah-mentah untuk bertemu.
Aku ingin kau juga merasakan rasanya ingin berbicara dengan seseorang tapi seseorang itu tidak mau berbicara padamu.
Aku ingin kau tahu, bahwa di atas nafsu-nafsu dunia yang kau puja, ada sesuatu yang lebih berharga bernama cinta.
Aku ingin kau berhenti membusungkan dada dan berlagak hanya kaulah segalanya.
Aku ingin kau berhenti berlaku sesuka hati dan mulai memikirkan hati-hati yang kau sakiti.
Aku ingin kau merasakan setitik atau sesamudra rasa menyesal dan bersalah.
Aku ingin kau tidak lagi menyepelekan tentang Tuhan dan moral.
Bahwa ada hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Bahwa kebohongan itu akan terungkap dan kebenaran akan tampak meskipun perlu waktu.
Bahwa setiap ucapan yang keluar dari bibirmu perlu pertanggung jawaban dan pembuktian konkrit.
Bahwa bagaimanapun berharganya uang dan harta, cinta tetap lebih berharga.
Bahwa permainan-permainan yang kau mainkan tidak menjadikanmu dibanggakan, tapi malah sebaliknya.
Aku ingin kau lebih menghargai perasaan-perasaan, bahwa hati bisa sakit dan terluka sedangkan betadine dan hansaplast tidak pernah bisa menyembuhkannya.
Bahwa luka hati itu sulit dan lama sembuhnya.
Bahwa kata maaf yang kau ucapkan tidak bisa serta merta mengeringkan dan menghapus luka-luka.
Aku hanya ingin kau menjadi manusia yang lebih bermoral dan berperasaan.
Itu saja.

Hujan di Mataku

Aku ini percikan benang-benang perak
yang dihamburkan dari syurga oleh
dewa-dewa.

Alam raya kemudian meraupku, bagi
menyirami ladang dan lembahnya.
Aku ini taburan mutiara, yang dipetik
dari mahkota Raja Ishtar, oleh puteri
Fajar,
untuk menghiasi taman-taman
mayapada.
(Nyanyian Hujan – Kahlil Gibran)

Hujan selalu mempunyai pesonanya sendiri bagi tiap orang. Banyak syair tentang hujan, banyak lirik, banyak lagu, banyak cerita.
Dulu sekali, saat aku masih anak-anak aku selalu menyukai hujan, menunggunya, dan berdoa supaya dia turun. Terutama sore hari sehingga aku punya alasan untuk bolos ngaji dan diam-diam berhujan-hujan dan berbasah-basah ria. Saat itu aku suka sekali bila hujan turun dengan derasnya. Aku suka saat langit hitam dan air tumpah dari sana. Dengan hanya berkaos dan bercelana pendek aku menari-nari dibawah hujan atau berdiri di bawah pancuran air dari atap-atap rumah atau berbecek-becek diantara tanah dan genangan air. Ada atau tidak ada teman bagiku tidak masalah. Dan peduli amat dengan kedinginan, demam dan penyakit flu, yang terpenting bisa bermain, becek-becek dan basah-basahan.

Saat usia bertambah dari tahun ke tahun hujan terasa biasa saja. Hilang sudah ritual menari di bawah hujan dan mandi pancuran. Hujan datang dan hilang, kuantar tanpa perasaan. Malah aku sering mengharap hujan tidak perlu turun, karena hujan akan mengganggu aktivitas. Mengganggu perjalanan dan acara. Dan semua akan menjadi lebih sulit saat hujan. Pakaian basah, sepatu licin dan kotor belum lagi tangan yang harus membawa payung. Saat itulah aku sering menolak hujan datang. Silakan mendung selebat-lebatnya, tapi tak usah disertai hujan.

Kini, hujan semakin berubah bentuk di mataku. Aku menyenangi hujan atau lebih tepatnya aku menyenangi hujan yang kubuat di pikiranku. Bagiku hujan yang sekarang lebih berkorelasi pada airmata dan penghapusan jejak. Mungkin bentukan imajinasiku tentang hujan dimulai saat aku menemukan quote yang menarik.
”I love walking in the rain cause nobody knows that I’m crying”
Maka di mataku hujan berubah fungsi menjadi penyamar airmata yang ampuh. Tidak akan ada yang tahu kita sedang menangis bila kita berjalan diantara hujan. Tanpa payung atau peneduh apapun tentu saja. Hujan adalah sahabat yang paling baik jika sedang sedih. Airmata akan tersamarkan oleh tetes hujan. Tidak akan ada yang tahu. Dan hujan seperti mendinginkan kepala dan menggelontor segala kesedihan.
Di pikiranku yang lain ada beberapa tapak jejak di tanah batinku dan hujan menghapusnya. Membuatnya tiada. Jejak-jejak itu hilang tersapu airhujan.
Aku dan mungkin beberapa orang menyimbolkan hujan sebagai kesedihan. Hujan adalah airmata langit. Langit sedang bersedih, sedang mendung. Maka hujan turun.

Di mataku, hujan adalah penyamar airmata dan penghilang jejakmu.

”Because the rain was falling It was really ok . I couldn’t see my tears, it was ok it’s all right I couldn’t hold you back cause the rain that could wiped out all the painful memories in my heart was falling down. Time passed, I thought I could forget. It seemed as if nothing was alive. Because the rain was falling It was really ok . I couldn’t see my tears, it was ok.”

220811
Malam cerah. Hujan tiada. Dan saya tidak sedang berairmata.

semacam Review: tribute to Chairil Anwar

SELAMAT TINGGAL
Aku berkaca Ini muka penuh luka
Siapa punya? Kudengar seru menderu
— dalam hatiku? —
Apa hanya angin lalu? Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah…!! Segala menebal, segela mengental
Segala tak kukenal
Selamat tinggal…!!

Mengingat puisi maka sayapun mengingat penyair. Mengingat penyair sayapun mengingat Chairil Anwar.

Chairil Anwar. Nama ini, saya yakin dengan pasti adalah nama penyair pertama yang saya kenal. Karyanya yang berjudul ‘Aku’ selalu menghiasi buku-buku diktat Bahasa Indonesia bahkan sejak Sekolah Dasar. Dan saat SMA kecintaan saya pada Chairil Anwar semakin bertambah karena film Ada Apa Dengan Cinta. Di film tersebut si tokoh utama, Cinta dan Rangga digambarkan menyukai buku berjudul Aku Ini Binatang Jalang karya Sjuman Djaya yang berisi rangkaian kisah hidup dan kumpulan sajak-sajak Chairil Anwar. Beruntung sekali perpustakaan SMA saya tergolong lengkap. Mulai buku-buku pengetahuan macam The Origin of Spesiesnya Darwin sampai novel-novel seperti Supernova atau Harry Potter tersedia lengkap dan dengan mudah bisa dipinjam. Dan di perpustakaan SMA inilah saya menemukan buku Aku Ini Binatang Jalang. Sebenarnya saya sudah rada lupa dengan isi keseluruhan buku itu. Yang saya ingat, di buku tersebut Chairil Anwar digambarkan sebagai sosok berbakat namun cuek dan semaunya sendiri. Gaya hidupnya kayaknya sama dengan gayanya membuat syair. Liar. Tapi saya nyatanya tetap suka dengan karya-karyanya dia. Yang paling saya sukai adalah sajak Selamat Tinggal yang saya kutip di atas. Saya sampai hafal di luar kepala. Entah! Ngerasa kena banget aja sama puisi itu. Terus ada juga puisi yang saya lupa judulnya tapi saya hafal.
”Bukan kematian benar menusuk kalbu
Kerelaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertahta”

Puisi yang menceritakan tentang kematian. Dan entah lagi..saya sangat menyukai kata-katanya. Terasa benarnya. Terasa sastranya. Terasa pesannya. Ah! I damn love it!

Semasa hidupnya Chairil sering dikecam oleh kritikus sastra. Bahkan saya masih ingat karya nya yang berjudul Kerawang Bekasi dituduh adalah hasil plagiat dari seorang penyair luar yang saya lupa namanya. Well! Meskipun banyak dikritik, tidak dapat dipungkiri bahwa Chairil memang pelopor sastra angkatan 45. Dengan gaya berpuisi yang baru, yang lugas, liar, tanpa dihias-hias dan mungkin menyalahi puisi pada jamannya yang mendayu-dayu.

Sampai sekarang saya masih menyukai Chairil Anwar. Saya masih mencintai karya-karyanya meskipun sekarang ini sepi sekali orang-orang menyebut namanya.
Dan notes ini cuma sekedar pengingat akan sosok yang berbakat di dunia perpuisian…

Tribute to Chairil Anwar
Gresik, 100811

Flash Fiction : Jika Nanti…

”Nanti, jika aku mati Fir. Kau hanya tinggal menyalakan cahaya yang lain. Aku yakin kau tidak akan kehilangan. Aku bukan apa-apa kan?”
Tubuhku semakin lemah. Semakin redup. Hampir satu tahun bersamanya dan kini aku akan pergi meninggalkannya. Memadamkan segala nyalaku. Kematian tidak pernah bisa ditolak. Dan sesungguhnya aku bukan takut pada kematianku. Aku hanya takut berpisah dengannya. Aku takut tidak bisa melihat wajahnya lagi. Aku takut merindukannya. Aku takut kalau nanti aku mati dia akan semakin larut dalam kegelapan. Tapi sesungguhnya ketakutanku yang terakhir tidak beralasan. Dia punya banyak cahaya di sekitarnya. Apalah arti seorang aku bagi seorang Firman. Dia akan mudah mendapat penggantiku.

”Jika nanti aku mati Fir. Kau hanya tinggal menyalakan cahaya yang lain dan membuangku ke tong sampah.”
Aku semakin sekarat. Cahaya hidupku hanya tinggal kerlip lemah. Aku tahu waktuku tidak akan lama. Sebentar lagi aku mati. Dan doaku cuma satu.
”Tuhan, jika nanti aku pergi. Jangan biarkan dia larut dalam kegelapan.”

Maka malam itu. Dia, dengan matanya sendiri menyaksikanku mati. Terakhir kali aku berbisik di telinganya.
”Nanti jika aku mati. Kau tak boleh kehilangan. Kau tinggal mencari cahaya baru dan keluarlah dari kegelapanmu. Selamat tinggal”
Akupun padam untuk selamanya.

Tapi aku yakin setelah aku mati, dia tidak akan kehilangan. Dia dengan mudah akan mengganti mayatku dengan bohlam lampu baru yang lebih terang dan bersinar.
Dan aku tidak pernah menyesal karena aku tahu. Aku pernah di sana, menggantung di atap rumahnya dan mengeluarkannya dari kegelapan.

080811