Flash Fiction 2 : Badut

Setiap hari pukul 9.16 menit dia akan datang. Pada jam itu aku sedang duduk di latar rumahku, menikmati bising kendaraan dan tidak lupa asap polusi. Ah! Oke itu bohong. Alasan sebenarnya aku naksir tetangga depan rumah yang tampan dan senyumannya maut. Dia selalu berangkat kerja pukul 09.26 dan aku tidak mau melewatkan wajah dan senyuman mautnya. Tapi jam 09.16 selalu jadi tidak menyenangkan karena kemunculan seorang badut.
Baiklah! Badut? Apa yang kalian bayangkan begitu kata itu disebut?
Muka putih, hidung besar merah, mulut lebar yang tersenyum, bokong besar, balon, keceriaan??
Menyenangkan sekali bila yang muncul di depan rumahku adalah badut model seperti itu.
Tapi badut ini berbeda, aku menyebutnya badut yang menyedihkan.
Mukanya bukan putih cerah tapi putih sedikit abu-abu, dipoles tidak merata sehingga kelihatan ada bagian yang tebal dan ada bagian yang tipis. Tidak ada hidung dan mulut besar, yang ada cuma ekspresi menyedihkan dan minta dikasihani, bokongnya tepos tak berisi dan ditangannya tergenggam alat musik yang entah apa namanya, terbuat dari tutup-tutup botol bekas. Dan yang paling parah, dia menyanyi dengan ekspresi seperti baru ditinggal pacarnya mati dan dengan nada yang mengalun sedatar meja kaca. Nyanyian yang sumpah membuat dilema antara meneteskan air mata terharu atau ingin mengusir pergi dengan melempar sendal. Ini badut macam apa? Badut macam apa ini?
Sungguh merusak suasana hatiku yang ceria dan berbunga-bunga. Apalagi, badut ini tidak juga mau pergi meskipun sudah diberi uang receh. Dia akan pergi setelah nyanyiannya yang menyedihkan itu habis. Badut itu seperti racun di pagi hari. Untung saja aku selalu mendapati penawarnya, karena si senyuman maut akan segera keluar dengan dasi, setelan jas dan tidak lupa senyuman mautnya.

Pagi berganti pagi. Badut itu tetap muncul dengan ekspresi menyedihkannya dan tetap menyanyi seperti orang patah hati.
Dan aku mulai berpikir. Segala kegilaan tentang badut ini harus diakhiri. Dan aku memilih mengakhiri kegilaan dengan kegilaan. Pagi itu akan jadi pagi istimewa bagi badut menyedihkan itu.

Aku menyiapkan kegilaan itu dengan matang. Aku harus mencontohkan pada badut menyedihkan itu bagaimana cara menjadi seorang badut yang benar. Badut yang secara takdirnya adalah untuk menghibur, membuat anak kecil tertawa dengan tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Bukan badut menyedihkan yang membuat orang ingin segera mengusir pergi.

Pagi itu, pukul 09.16 badut itu datang. Aku yang sudah siap, mengintip dari jendela. Begitu badut itu akan mengambil nada pertamanya aku langsung muncul.
Jengjeng! Aku muncul berbusana badut. Muka yang kupoles putih cerah, hidung besar, bibir lebar yang tersenyum dan bokong besar yang menggemaskan. Aku langsung menyanyi dan beraktraksi seperti badut-badut normal lainnya. Badut menyedihkan itu ternganga melihatku. Mulutnya terbuka 4 cm dan matanya tidak berkedip selama 9 detik. Di detik ke 10 dia mulai tertawa. Pelan awalnya. Lalu semakin keras…keras….keras…
Aku terus menyanyi dan megal-megol seperti badut yang benar. Badut menyedihkan itu terus tertawa dan tertawa. Suaranya menggelegar tak putus-putus.
Aku mulai kelelahan menyanyi dan berhenti. Tapi badut menyedihkan itu tak kunjung berhenti tertawa. Dia terus menerus tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Dia tertawa sampai mengeluarkan airmata. Dia tak juga berhenti. Aku mulai jengah. Badut ini gila! Tapi kurasa aku lebih gila karena meladeni kegilaannya.
Tak lama, si senyuman maut keluar dan melihat ke teras rumahku. Ada 2 badut. Satu badut dengan penampilan menyedihkan yang sedang tertawa terpingkal-pingkal dan satu badut dengan penampilan mengesankan yang sedang berdiri bengong. Dia hanya tersenyum. Senyum maut yang kusuka.
Dalam hati aku berdoa hanya satu hal, ‘Tuhan, semoga dia tidak mengenaliku’.

”Badut-badut menyedihkan itu ada di sekitarku. Dan sampai sekarang aku masih dilema antara meneteskan air mata terharu atau ingin mengusir pergi dengan melempar sendal.”

Gresik, 030811 09:10
Selesai tepat saat 3 pengamen menyanyi dengan suara merdu.
Terinspirasi dari seorang badut yang menyanyi tanpa ekspresi di depan rumahku.

Advertisements

5 thoughts on “Flash Fiction 2 : Badut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s