Something about Love

Its Different This is a true story of Mother’s Sacrifice
during the Japan Earthquake.
After the Earthquake had subsided, when the
rescuers reached the ruins of a young
woman’s house, they saw her dead body
through the cracks. But her pose was somehow strange that she knelt on her knees
like a person was worshiping; her body was
leaning forward, and her two hands were
supporting by an object. The collapsed house
had crashed her back and her head. With so many difficulties, the leader of the
rescuer team put his hand through a narrow
gap on the wall to reach the woman’s body.
He was hoping that this woman could be still
alive. However, the cold and stiff body told
him that she had passed away for sure. He and the rest of the team left this house and
were going to search the next collapsed
building. For some reasons, the team leader
was driven by a compelling force to go back
to the ruin house of the dead woman. Again,
he knelt down and used his had through the narrow cracks to search the little space under
the dead body. Suddenly, he screamed with
excitement,” A child! There is a child! “
The whole team worked together; carefully
they removed the piles of ruined objects
around the dead woman. There was a 3 months old little boy wrapped in a flowery
blanket under his mother’s dead body.
Obviously, the woman had made an ultimate
sacrifice for saving her son. When her house
was falling, she used her body to make a
cover to protect her son. The little boy was still sleeping peacefully when the team leader
picked him up.
The medical doctor came quickly to exam the
little boy. After he opened the blanket, he
saw a cell phone inside the blanket. There
was a text message on the screen. It said,” If you can survive, you must remember that I
love you.” This cell phone was passing
around from one hand to another. Every body
that read the message wept. ” If you can
survive, you must remember that I love
you.” Such is the mother’s love for her child!! Dont forget to click the share button.. Reference:
http://www.tamiltwist. com/2011/09/mothers-
sacrifice-during-japan.html

Andai Kau Bicara

Aku ingin dia bicara, tapi dia tetap diam.
Sudah hampir tiga jam, tapi yang kudapat hanyalah kesunyian yang semakin erat bersenyawa dengan udara. Sepatah kata saja, apa begitu susah?

Empat jam berlalu dan aku masih menunggunya mengatakan sesuatu. Barangkali di detik kesekian dia tiba-tiba membuka mulutnya dan menjelaskan semua. Barangkali saja di detak kesekian dia memperdengarkan suaranya. Siapa tahu.

Ada banyak mulut sebenarnya. Tapi aku takut. Karena mulut-mulut itu begitu lentur dan elastis. Kata-kata meluncur meliuk-liuk, mendesis dan kadang sangat berbisa. Kecuali dia. Aku yakin mulutnya apa adanya dan kata-katanya lurus tanpa meliuk.
Tapi dia tidak juga bersuara. Aku hampir frustasi.

Malam semakin legam. Aku mulai kedinginan. Dia tetap bergeming di tempatnya. Aku masih berharap suatu saat dia bicara.

”Kalau bulan bisa ngomong. Sayang bulan tak bisa ngomong. Andai bulan bisa ngomong. Dia pasti tak akan bohong. ”

290911

Setitik Debu

Ada debu di kaca jendela yang susah kau bersihkan.
Matamu menatap nanar karena setitik kotoran merusak keindahan jendela yang kau suka.
Ada pemandangan luar biasa di balik sana.
Tawa-tawa yang merekah dan lompatan-lompatan bahagia.
Tapi setitik debu menghalangi matamu dari keluarbiasaan itu. Dari keindahan itu.

Debu itu kecil saja sebenarnya, tapi sangat mengganggu.
Kau hampir frustasi menggosok-gosoknya dengan lap dan kain pembersih.
Tapi debu itu punya keteguhan tak tertandingi. Betapa bebalnya dia menempel di sana. Betapa hebat ketahanannya.
Kaupun mulai menangis. Menangisi debu yang mengotori kaca jendelamu. Airmatamu bercucuran tak terkendali. Kau tidak tahu betapa konyolnya ini. Betapa bodohnya kau terlihat. Cuma gara-gara setitik debu!

Pemandangan indah terhampar di balik sana. Tapi, kau tetap terpaku pada setitik debu di kaca jendelamu.

280911

[Batam FF Rindu : Sepotong Roti Bakar Keju]

Jika kerinduan serupa sepotong roti bakar keju, maka Lana pastilah sudah mengunyah tiap bagiannya, menikmati tiap potong rasanya dan melahapnya sampai habis. Dengan begitu rasa rindunya yang semakin lapar bisa ia kenyangkan. Tapi rindu tidak pernah sesederhana roti bakar keju. Tidak pernah sesederhana itu.

Lana masih duduk di sana. Di pojok kanan sebuah kafe, tempat yang tepat untuk memantau siapa yang datang dan pergi. Dia sedang menunggu seseorang. Seseorang yang Lana rindukan sampai hampir gila.

Sebuah roti bakar keju pesanannya datang lagi. Ini roti bakar keju ketiga sejak dia menunggu empat jam yang lalu. Ditatapnya dengan hambar roti bakar keju itu. Semua memang terasa hambar sekarang.

Bunyi piano yang awalnya merdu mendayu-dayu menjadi alunan yang menyayat hati. Lampu-lampu kota yang berbaur beraneka warna bagai kunang-kunang kini tidak lagi menarik. Sepertinya rona bahagia dan rasa senang tercabut begitu saja dari sel-sel tubuh Lana. Tak bersisa.

Aku merindukanmu Ndra. Jika kau masih mencintaiku, datanglah ke Café Utopia jam 7. Lana

Bukan salah Lana jika dia merindukannya lagi. Bukan salah Lana jika sensasi dan rangsangan lapar itu datang bukan dari satu bagian perutnya, tapi muncul dari satu bagian hatinya. Bukan salah Lana tak bisa menahan lagi kerinduannya. Rindu tak pernah salah andai saja yang Lana rindukan bukan Indra, mantan kekasihnya yang telah beristri dan beranak satu.

Roti bakar itu telah dilahap Lana sampai habis, tapi rindu masih menyisakan rasa lapar yang tak dapat dijelaskan.

jumlah kata : 231

FF ini dalam rangka mengikuti lomba persembahan Mpers Batam

260911

Flash Fiction : Karma

”Karena kamu merebutnya dariku maka seseorang juga akan merebutnya darimu. Itu namanya karma.”
”Kau jangan mengancamku.”
”Aku tidak sedang mengancammu. Aku hanya berbicara hukum karma.”
”Itu tidak akan terjadi. Aku akan selalu menjaganya baik-baik.”
”Kau kira aku tidak menjaganya baik-baik. Aku melakukannya. Tapi kau merebutnya, dengan cara yang tidak bermoral kan.”
”Apa maksudmu?”
”Meskipun kau menjaganya mati-matian, suatu hari seseorang pasti akan merebutnya dengan cara yang tak kau sangka. Atau bisa saja aku yang melakukannya. Tapi namanya bukan merebut, tapi namanya mengambil kembali apa yang pernah kumiliki. Ah! Aku tidak yakin kau mengerti.”
”Aku memang tidak mengerti. Aku tidak akan pernah mengerti ucapan orang gila sepertimu.”
”Gila? Kau berani menyebut kata itu di hadapanku. Silakan bercermin dan lihatlah di sana. Perhatikan dan renungkan siapa di antara kita yang gila. Siapa yang berbuat gila, tak waras dan tak bermoral?”
”Kau! Kau yang gila.”
”Ah! Bahkan kau tidak menyadarinya. Matamu pastilah dibutakan sesuatu. Coba aku lihat? Oh! Aku menemukan nafsu dan keegoisan di sana. Aku tidak salah lihatkan? Mataku setajam elang andai kau tahu.”
”Bicara apa lagi kau ini. Percuma aku mendengarmu!”
”Yang percuma itu telingamu, karena kau tak pernah mendengarkan jerit kebenaran kata-kata hatimu.”
”Itu bukan urusanmu!”
”Itulah! Kau tak pernah menganggap orang lain ada. Kau tak pernah mengurusi hati-hati yang tersakiti oleh tingkahmu. Itulah kau.”
”Dia mencintaiku dan kami melakukannya.”
”Kau kira dia tidak pernah memintaku melakukannya? Tapi aku bisa menjaga. Mempertahankan harga diri dan kehormatanku. ”
”Itu salahmu!”
”Aku tidak pernah merasa salah untuk ini. Kau merasa benar? Kemenangan seperti ini? Itu cara licik namanya.”
”Sudahlah! Aku tidak peduli.”
”Tidak peduli. Itu cara paling gampang untuk lari. Tapi sebelumnya ingatlah. Pembalasan itu bukan hanya di akhirat. Dan pembalasan di dunia itu namanya karma. Karma itu ada.”

Dia melenggang pergi. Dia, mempelai wanita yang mengandung anak pacarku. Dan aku cuma bisa tersenyum dan berkata dalam hati ”Tunggu saja dan berhati-hatilah!”

Surabaya, 230911
Pada sebuah kamar kos

Cerpen: Sepasang Sayap Bidadari

Dia menyukaiku. Aku bisa membaca dari matanya yang lekat-lekat menatapku saat pertama kali kami saling menemukan. Atau mungkin dipertemukan. Oleh takdir. Takdir yang dikendalikan oleh tangan-tangan Tuhan. Dan kami berjodoh. Itu jelas. Seperti kata nenekku ‘setiap pertemuan adalah sebuah perjodohan dari Tuhan’. Dan jodoh tak melulu soal pasangan hidup.

Dia perempuan, dan dia cantik. Rambutnya panjang berkilauan. Kulitnya kecoklatan, tapi tetap serasi dengan gaunnya yang putih.
Dan senyumnya seperti bisa menyinari apa saja. Termasuk hatiku.

Aku menyukainya. Dan kalau boleh jujur. Aku mencintainya. Terutama karena dia selalu memakai gaun berwarna putih. Sewarna denganku. Itu membuatku merasa kami masih punya sebuah kesamaan diantara perbedaan-perbedaan kami. Dan itu membuatku nyaman.

Dia selalu datang setiap hari sabtu pukul tujuh. Saat taman ini sudah mulai sepi dari orang-orang yang berolah raga. Dia akan datang. Sendirian. Membawa beberapa biji makanan yang akan dia sebarkan untukku dan teman-temanku. Aku tahu, selain aku, teman-temanku juga menyukainya. Dia cantik, baik dan begaun putih. Persis seperti bidadari. Siapapun akan jatuh cinta.

Sekawanan merpati putih sangat menyukai bidadari. Mereka selalu menunggunya datang. Begitu dia datang, mereka akan segera bergerombol mengelilinginya. Sekawanan merpati putih akan mempertujukkan aksinya pada bidadari. Terbang dan menari. Memamerkan bulu-bulu mereka yang berkilauan di bawah sinar matahari.
Dan aku salah satu dari mereka. Aku seekor merpati yang jatuh cinta pada bidadari baik hati yang selalu menebar senyuman.

Di antara merpati lainnya, dia pasti paling menyukaiku. Sebagai buktinya, dia sering meletakkanku di lengannya, mengajakku bicara, dan bahkan memberiku nama.

”Kau cantik sekali Leon.” katanya sambil membelai-belai punggungku. Ah! Semua orang juga tau aku cantik bidadariku. Tapi percayalah, kau juga sangat cantik dan menawan hatiku.
”Leon, kau tahu? Aku sangat iri padamu. Kau punya sayap. Dan bisa terbang. Aku ingin terbang, aku ingin punya sayap sepertimu.” kenapa bidadari? Kenapa kau ingin terbang. Bukankah berjalan di bumi juga sangat menyenangkan. Merasakan tiap pijakan kaki kita di atas tanah. Bercengkrama dengan rumput liar dan sekawanan merpati cantik seperti kami.
”Pasti akan menyenangkan bisa melayang-layang di udara sepertimu. Berlomba dengan angin, lalu menyentuh awan-awan. Andai saja sepasang sayap tumbuh di punggungku.” itu tidak mungkin kan bidadari? Sepasang sayap yang tumbuh tiba-tiba di punggung hanyalah ada di cerita dongeng. Dan kita tak berada di sana. Kita di dunia nyata kan bidadari?

Sabtu berikutnya dia datang lagi. Tapi tidak sendirian. Dia datang dengan seorang pemuda. Pemuda itu memakai kaos oblong dan jeans yang entah sobek atau entah sengaja disobek di bagian lututnya. Mereka bergandengan tangan. Bidadari terlihat lebih bahagia dari biasanya, aku bisa melihat matanya bersinar begitu terangnya. Bahkan bukan hanya matanya. Aku seperti bisa melihat tubuhnya juga bersinar. Dan sepasang sayap seperti tumbuh di punggungnya. Dia pasti sangat bahagia. Dan aku ikut berbahagia untuk sang bidadari. Meskipun aku sedikit cemburu. Dan meskipun aku tidak begitu menyukai pemuda itu. Pemuda yang punya aura yang aneh di mataku. Tapi ya sudahlah. Yang penting bidadari bahagia. Bukankah cinta selalu ingin melihat orang yang kita cintai bahagia?

Sabtu sabtu berikutnya mereka selalu datang bersama. Bergandengan tangan. Hal yang tidak akan bisa kulakukan. Karena aku tidak punya tangan. Aku hanya punya sepasang sayap.

Bidadari terlihat bahagia. Sangat bahagia dan bersinar. Dia pastilah sangat mencintai pemuda itu. Dan pemuda itu, meskipun sedikit aneh terlihat juga mencintai bidadari. Ah! Siapa yang tidak jatuh cinta bila melihatmu bidadari?

Mereka bercanda. Mereka tertawa. Mereka terbang dan menari. Sepasang sayap dikepakkan bidadari dengan bahagia dan dunia seperti menyempit. Dan seolah hanya ada bidadari dan si pemuda. Mereka berdua saja di sana. Tidak ada sekawanan merpati putih. Tidak ada orang lain. Tidak ada waktu. Dan tidak ada Leon. Ah! Ini membuatku sedikit sedih.

Tapi di suatu sabtu pagi. Tepat 4 bulan sejak pertama kali dia membawa serta pemuda itu. Bidadari datang sendirian lagi. Senyumnya lenyap begitu saja. Sinarnya redup seredup-redupnya. Sedangkan matanya sendu dan sembab. Dan sepasang sayap di punggungnya patah.
”Dia pergi Leon. Dia meninggalkanku.” detik berikutnya yang ada cuma isakan tangis dan airmata. Teman-temanku diam menyadari apa yang terjadi. Mereka berdiri di sekeliling bidadari dan tak tahu harus berbuat apa untuk menghentikan tangisan yang memilukan ini. Mereka akhirnya ikut menangis bersama bidadari.
”Dia pergi Leon…padahal aku sangat mencintainya. Kenapa dia pergi? Kenapa dia tega meninggalkanku Leon.” dan airmatanya turun semakin deras dan deras. Aku mengosok-gosokkan kepalaku di tangannya. Berharap dia mengerti kalau aku sedang berusaha menenangkannya. Bidadari berhentilah menangis. Hentikan airmatamu. Tak bisakah kau lihat semesta ikut menangis bersamamu?

Sabtu sabtu berikutnya dia datang seperti biasanya. Tapi semuanya seperti berubah. Senyumnya sudah tak ada lagi. Sinarnya tak berbekas. Matanya sendu. Dan tatapannya kosong. Tak kutemukan rona bahagia dimanapun. Kemana bidadari yang dulu? Kemana dia pergi? Kenapa kau seperti ini bidadari?

Seorang bidadari tinggal di bumi. Bidadari dengan sinar di tubuhnya. Dia selalu bermimpi terbang. Dia ingin menyentuh awan-awan. Dia ingin bebas dan menari. Suatu hari sepasang sayap tiba-tiba tumbuh di punggungnya. Tapi seorang monster jahat mematahkannya. Sayapnya patah dan berdarah.
Tanpa sayap, bagaimana bidadari akan terbang?

220911
pada sebuah pagi di kamar kos

Cerpen : Rencana Gila

“Gue mau ke Bulan.”

“Ke Bulan? Untuk apa?”

“Gue pengen mengasingkan diri.”

“Kenapa Lu pengen mengasingkan diri?”

“Karena gue gag mau lagi ketemu manusia.”

“Kenapa?”

“Karena manusia itu banyak maunya.”

“Banyak maunya? Kayak Lu gitu?”

“Gue gag kayak gitu.”

“Itu buktinya Lu mau ke Bulan terus Lu pengen mengasingkan diri terus Lu gag mau ketemu manusia. Kemauan Lu juga banyak.”

“Gue beda. Gue gag keitung. Gue sedang ngomongin manusia di luar diri gue sendiri.”

“Berarti gue termasuk. Gue juga di luar diri Lu.”

“Ya. Tentu saja. Gue juga sebenarnya males ketemu Lu.”

“Hah? Yang benar saja?”

“Iya. Soalnya Lu banyak nanya. Tapi Ya sudahlah. Kali ini gue jawab semua pertanyaan Lu. Hitung-hitung sebagai tanda perpisahan.”

“Tanda perpisahan? Lu beneran mau pergi ke Bulan?”

“Yoi!”

“Lu mau naik apa kesana? Pesawat ulang-alik? Roket? Apollu? Ah! Gue jadi inget Neil Amstrong.”

“Ah! Itu ribet. Dan melibatkan banyak manusia. Gue gag suka sama manusia.”

“Trus Lu mau naik apa?”

“Gue akan terbang.”

“Terbang?”

“Iya terbang.”

“Tapi Lu bahkan gag punya sayap.”

“Gue gag butuh sayap.”

“Mana bisa. Lu butuh itu untuk terbang.”

“Engga gue gag butuh. Gue bisa terbang tanpa harus punya sayap.”

“Benarkah? Gue gag percaya!”

“Lu goblok kalau gag percaya. Oke, gue kasih contoh ya. Lu tau Superman? Ultraman”

“Wah! Ngehina banget Lu. Tentu aja gue tau. Mereka itu kan idola gue.”

“Ya…ya…ya…mereka bisa terbang?”

“Bisa.”

“Mereka punya sayap?”

“Engga.”

“Jadi…”

“Jadi…?”

“….”

“Aha! Gue tau sekarang! Tapi gimana bisa? Lu bukan superhero. Lu Cuma manusia biasa.

“Gue bisa.”

“Bohong. Gimana caranya?”

“Gue gag bohong. Gue bisa.”

“Beritahu gue gimana caranya?”

“Engga. Mulut Lu nanti ember.”

“Ayolah! Beritahu gue. Gue gag bakal bilang ke siapa-siapa. Gue berani sumpah deh!

“Oke…Lu sumpah dulu sono.”

“GUE SUMPAH KALO MULUT GUE EMBER GUE BAKAL DISAMBER GLEDEK.”

“Oke..akan gue beritahu.”

“Cepetan. Gue penasaran.”

“Gue punya ramuan istimewa yang bisa bikin gue terbang. Ramuan ini gue buat sendiri.”

“Oh ya? Lu memang hebat! Lu jenius man! Otak lu emang tokcer.”

“Lu benar-benar mau tinggal di Bulan?”

“Iya…”

“Apa Lu gag akan kesepian nanti? Trus makanan Lu gimana? Trus gimana caranya Lu membangun rumah di sana?”

“Itu urusan gampang. Lu gag perlu tahu. Yang penting gue jauh-jauh deh sama manusia yang aneh-aneh itu. Manusia-manusia yang egois. Yang saling bunuh untuk nafsu. Yang ngerasa bener sendiri. Yang saling sikut. Saling pukul. Hah! Gue bisa gila kalau tinggal lebih lama dengan manusia-manusia ini.”

“Lu memang sudah gila.”

“Gue memang gila. Tapi Lu juga gila.”

“Enak saja. Gue waras!”

“Lu gila karena Lu nanggepin kegilaan gue. Kita sama-sama gila.”

Dua orang gila itupun pergi bersama ke ruangan mereka. Berangkulan. Sambil mengoceh sendiri. Di kepala salah satu dari mereka terbayang kehidupan yang tenang di Bulan. Dan di kepala salah satu yang lain terbayang rencana sahabatnya pergi ke Bulan. Merekapun tersenyum dan tertawa sendiri.

Gresik, 170911

menulis selalu bisa membebaskan,,,

Cerpen: Putri Tidur

Jika dunia mimpi lebih menyenangkan hatimu. Jika dunia mimpi membuatmu tenang dan damai. Apakah kau akan selamanya tidur dan tak pernah bangun?

Aku tahu dia. Dia seorang gadis yang bersemangat dan ceria. Senyumnya selalu tertebar kemana-mana. Kepalanya tak pernah menunduk, karena kemanapun dia pergi dia sibuk menyapa semua orang yang dia lewati. Meskipun dia tidak kenal.
Dia baik. Dan cantik. Setidaknya dia dulu begitu. Sebelum patah hati.

Kini. Tak kutemukan lagi rona bahagia di wajahnya. Wajahnya melayu. Matanya meredup dan kehilangan harapan. Dan dia suka mengunci diri di kamar. Bukan untuk menangis. Tapi untuk tidur.

Sejak tragedi patah hatinya itu. Dia jadi hobi terlelap. Tidur dan bermimpi. Dia bisa tidur seharian dengan wajah damai. Wajah yang tak kan kulihat saat dia terjaga.

Aku membencinya saat dia tidur. Karena aku tidak pernah bisa bicara padanya. Dan dia tidak pernah menyadari keberadaanku.

Membangunkannya butuh perjuangan. Mulai dari bebunyian yang memekakan telinga, menggoncang badannya, hingga menyiram wajahnya dengan air kran. Yang terakhir selalu berhasil membangunkannya. Entah kenapa. Mungkin di mimpinya dia tenggelam hingga dia harus bangun. Entahlah.

”Putri tidur.” sekarang aku memanggilnya seperti itu. Dia menoleh. Menyadari nama barunya. Tapi sepertinya dia tidak keberatan. Karena dia hanya diam. Dan bukankah diam itu tanda setuju?

”Putri tidur kenapa kau terus menerus tidur?” pertanyaan bodoh. Tapi harus kutanyakan. Mumpung dia sekarang berada di dunia nyata.
”Karena aku putri tidur.” jawabnya sambil menatap mataku tajam. Jawaban yang bagus.
”Kenapa? Kenapa putri tidur suka tidur? Kenapa?” pertanyaan yang sama.
”Karena aku suka bermimpi.”
”Kenapa kau suka bermimpi?”
”Karena di sana aku tidak merasakan sakit hatiku.”
”Karena kau tidak merasakan sakit?” sesakit itukah kau Putri? Hingga kau harus pergi ke dunia mimpi untuk menghilangkan sakitmu. Separah itukah?
”Ah sudahlah! Aku ngantuk. Aku mau tidur.” katanya. Tanpa menunggu persetujuanku dia sudah melangkah pergi menuju kamarnya.

Putri, Jika dunia mimpi lebih menyenangkan hatimu. Jika dunia mimpi membuatmu tenang dan damai. Apakah kau akan selamanya tidur dan tak pernah bangun?

Aku takut. Sangat takut. Aku takut Jika suatu hari dia tidur. Terlalu lelap. Terlalu terbawa dalam mimpinya. Dan aku tak pernah bisa membangunkannya lagi.

Dan hari yang kutakutkan itu benar-benar terjadi. Pagi itu, tidak seperti biasa kamarnya penuh dengan manusia. Ayahnya, ibunya, juga kakak perempuannya.
”Dia tidak bangun. Kami sudah memcoba semua cara untuk membangunkannya. Tapi dia tidak bereaksi sedikitpun. Seperti mati.”
”Kalian sudah mencoba menyiram mukanya dengan air?” cara itu selalu ampuh.
”Sudah. Tapi dia tidak bangun. Tidak seperti biasanya.” desah kakaknya, putus asa.
”Putri! Bangun Putri!” kugoyang-goyang tubuhnya. Kutepuk pipinya. Tapi dia diam saja.
”Putri….bangun putri…kumohon..bangunlah!” tapi dia tetap bergeming. Keluarganya putus asa dan mulai meninggalkan kamarnya. Kini hanya aku dan dia di ruangan itu.
Tunggu! Ada satu cara. Cara yang sering kulihat dan kubaca di cerita dongeng.
Putri Tidur, bukankah harus dibangunkan oleh ciuman seorang pangeran?
Aku tidak yakin akulah pangeran itu. Tapi segalanya harus dicoba kan?
Maka, kucium kening sang Putri. Kutunggu keajaiban apa yang akan muncul. Tapi semuanya tidak berubah. Sang putri tetap memejamkan matanya.
Hmm! Tunggu! Bukankah ciuman seorang Pangeran itu di bibir? Bukan di kening.
Maka akupun mencium bibirnya. Kali ini dengan keyakinan bahwa akan datang keajaiban itu. Seperti di cerita dongeng.
Tapi tak ada yang terjadi.

Mungkin aku bukanlah pangeran. Mungkin dongeng hanyalah dongeng dan keajaiban itu tidak benar-benar ada.

Putri? Bagaimana membangunkanmu? Haruskah aku tidur dan bermimpi juga untuk membawamu kembali?
Sang Putri tak menjawab. Tak pernah menjawab. Dia hanya diam. Selamanya diam.

150911

Gemuruh

Apa yang dapat meredakan gemuruh?
Tetabuhan yang terlalu keras. Gelegar yang bersahutan.
Bebunyian yang terlalu nyaring dalam rongga dada kita.

Di luar hujan belum reda.
Langit terus berairmata.
Halaman kita sudah basah.
Terlalu basah.

090911