Cerpen: Putri Tidur

Jika dunia mimpi lebih menyenangkan hatimu. Jika dunia mimpi membuatmu tenang dan damai. Apakah kau akan selamanya tidur dan tak pernah bangun?

Aku tahu dia. Dia seorang gadis yang bersemangat dan ceria. Senyumnya selalu tertebar kemana-mana. Kepalanya tak pernah menunduk, karena kemanapun dia pergi dia sibuk menyapa semua orang yang dia lewati. Meskipun dia tidak kenal.
Dia baik. Dan cantik. Setidaknya dia dulu begitu. Sebelum patah hati.

Kini. Tak kutemukan lagi rona bahagia di wajahnya. Wajahnya melayu. Matanya meredup dan kehilangan harapan. Dan dia suka mengunci diri di kamar. Bukan untuk menangis. Tapi untuk tidur.

Sejak tragedi patah hatinya itu. Dia jadi hobi terlelap. Tidur dan bermimpi. Dia bisa tidur seharian dengan wajah damai. Wajah yang tak kan kulihat saat dia terjaga.

Aku membencinya saat dia tidur. Karena aku tidak pernah bisa bicara padanya. Dan dia tidak pernah menyadari keberadaanku.

Membangunkannya butuh perjuangan. Mulai dari bebunyian yang memekakan telinga, menggoncang badannya, hingga menyiram wajahnya dengan air kran. Yang terakhir selalu berhasil membangunkannya. Entah kenapa. Mungkin di mimpinya dia tenggelam hingga dia harus bangun. Entahlah.

”Putri tidur.” sekarang aku memanggilnya seperti itu. Dia menoleh. Menyadari nama barunya. Tapi sepertinya dia tidak keberatan. Karena dia hanya diam. Dan bukankah diam itu tanda setuju?

”Putri tidur kenapa kau terus menerus tidur?” pertanyaan bodoh. Tapi harus kutanyakan. Mumpung dia sekarang berada di dunia nyata.
”Karena aku putri tidur.” jawabnya sambil menatap mataku tajam. Jawaban yang bagus.
”Kenapa? Kenapa putri tidur suka tidur? Kenapa?” pertanyaan yang sama.
”Karena aku suka bermimpi.”
”Kenapa kau suka bermimpi?”
”Karena di sana aku tidak merasakan sakit hatiku.”
”Karena kau tidak merasakan sakit?” sesakit itukah kau Putri? Hingga kau harus pergi ke dunia mimpi untuk menghilangkan sakitmu. Separah itukah?
”Ah sudahlah! Aku ngantuk. Aku mau tidur.” katanya. Tanpa menunggu persetujuanku dia sudah melangkah pergi menuju kamarnya.

Putri, Jika dunia mimpi lebih menyenangkan hatimu. Jika dunia mimpi membuatmu tenang dan damai. Apakah kau akan selamanya tidur dan tak pernah bangun?

Aku takut. Sangat takut. Aku takut Jika suatu hari dia tidur. Terlalu lelap. Terlalu terbawa dalam mimpinya. Dan aku tak pernah bisa membangunkannya lagi.

Dan hari yang kutakutkan itu benar-benar terjadi. Pagi itu, tidak seperti biasa kamarnya penuh dengan manusia. Ayahnya, ibunya, juga kakak perempuannya.
”Dia tidak bangun. Kami sudah memcoba semua cara untuk membangunkannya. Tapi dia tidak bereaksi sedikitpun. Seperti mati.”
”Kalian sudah mencoba menyiram mukanya dengan air?” cara itu selalu ampuh.
”Sudah. Tapi dia tidak bangun. Tidak seperti biasanya.” desah kakaknya, putus asa.
”Putri! Bangun Putri!” kugoyang-goyang tubuhnya. Kutepuk pipinya. Tapi dia diam saja.
”Putri….bangun putri…kumohon..bangunlah!” tapi dia tetap bergeming. Keluarganya putus asa dan mulai meninggalkan kamarnya. Kini hanya aku dan dia di ruangan itu.
Tunggu! Ada satu cara. Cara yang sering kulihat dan kubaca di cerita dongeng.
Putri Tidur, bukankah harus dibangunkan oleh ciuman seorang pangeran?
Aku tidak yakin akulah pangeran itu. Tapi segalanya harus dicoba kan?
Maka, kucium kening sang Putri. Kutunggu keajaiban apa yang akan muncul. Tapi semuanya tidak berubah. Sang putri tetap memejamkan matanya.
Hmm! Tunggu! Bukankah ciuman seorang Pangeran itu di bibir? Bukan di kening.
Maka akupun mencium bibirnya. Kali ini dengan keyakinan bahwa akan datang keajaiban itu. Seperti di cerita dongeng.
Tapi tak ada yang terjadi.

Mungkin aku bukanlah pangeran. Mungkin dongeng hanyalah dongeng dan keajaiban itu tidak benar-benar ada.

Putri? Bagaimana membangunkanmu? Haruskah aku tidur dan bermimpi juga untuk membawamu kembali?
Sang Putri tak menjawab. Tak pernah menjawab. Dia hanya diam. Selamanya diam.

150911

Advertisements

4 thoughts on “Cerpen: Putri Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s