Flash Fiction : Karma

”Karena kamu merebutnya dariku maka seseorang juga akan merebutnya darimu. Itu namanya karma.”
”Kau jangan mengancamku.”
”Aku tidak sedang mengancammu. Aku hanya berbicara hukum karma.”
”Itu tidak akan terjadi. Aku akan selalu menjaganya baik-baik.”
”Kau kira aku tidak menjaganya baik-baik. Aku melakukannya. Tapi kau merebutnya, dengan cara yang tidak bermoral kan.”
”Apa maksudmu?”
”Meskipun kau menjaganya mati-matian, suatu hari seseorang pasti akan merebutnya dengan cara yang tak kau sangka. Atau bisa saja aku yang melakukannya. Tapi namanya bukan merebut, tapi namanya mengambil kembali apa yang pernah kumiliki. Ah! Aku tidak yakin kau mengerti.”
”Aku memang tidak mengerti. Aku tidak akan pernah mengerti ucapan orang gila sepertimu.”
”Gila? Kau berani menyebut kata itu di hadapanku. Silakan bercermin dan lihatlah di sana. Perhatikan dan renungkan siapa di antara kita yang gila. Siapa yang berbuat gila, tak waras dan tak bermoral?”
”Kau! Kau yang gila.”
”Ah! Bahkan kau tidak menyadarinya. Matamu pastilah dibutakan sesuatu. Coba aku lihat? Oh! Aku menemukan nafsu dan keegoisan di sana. Aku tidak salah lihatkan? Mataku setajam elang andai kau tahu.”
”Bicara apa lagi kau ini. Percuma aku mendengarmu!”
”Yang percuma itu telingamu, karena kau tak pernah mendengarkan jerit kebenaran kata-kata hatimu.”
”Itu bukan urusanmu!”
”Itulah! Kau tak pernah menganggap orang lain ada. Kau tak pernah mengurusi hati-hati yang tersakiti oleh tingkahmu. Itulah kau.”
”Dia mencintaiku dan kami melakukannya.”
”Kau kira dia tidak pernah memintaku melakukannya? Tapi aku bisa menjaga. Mempertahankan harga diri dan kehormatanku. ”
”Itu salahmu!”
”Aku tidak pernah merasa salah untuk ini. Kau merasa benar? Kemenangan seperti ini? Itu cara licik namanya.”
”Sudahlah! Aku tidak peduli.”
”Tidak peduli. Itu cara paling gampang untuk lari. Tapi sebelumnya ingatlah. Pembalasan itu bukan hanya di akhirat. Dan pembalasan di dunia itu namanya karma. Karma itu ada.”

Dia melenggang pergi. Dia, mempelai wanita yang mengandung anak pacarku. Dan aku cuma bisa tersenyum dan berkata dalam hati ”Tunggu saja dan berhati-hatilah!”

Surabaya, 230911
Pada sebuah kamar kos

Advertisements

One thought on “Flash Fiction : Karma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s