Mestinya Tak Perlu Ada Percakapan Lagi

Keasingan yang kau sulam berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan dia ceraikan begitu saja pada sebuah dering bernada senandung jawa.

Pada subuh itu berkali kau pilih tanda tolak, tapi dia gigih datang dan datang lagi. Dan kau tak habis pikir. Kenapa? Apa maunya? Tak ada yang perlu dijadikan percakapan lagi kan?

Tapi dia selalu bisa membuatmu mendengar. Ucapan-ucapan yang kau rindukan tak kau sangka hadir lagi. Nyanyian yang kau sukai tak kau sangka akan kau dengar lagi. Dan kau bisa bicara sedikit biasa setelah surut amarah. Dan kau..dia… Tertawa lagi. Meskipun tawamu menjadi begitu satire kini.

Pada udara, dia menyebar cerita. Tentang masa lalu. Sesuatu yang ingin kau pendam dalam-dalam begitu mudah dia gali dan keluarkan. Dan dia tidak merasa salah ternyata. Luka dan tangismu bukan apa-apa ternyata.

Kemudian dia bicara tentang pertemuan. Sesuatu yang tak kan pernah kamu amini selamanya. Karena bagimu, kehilangan cukup sekali. Tak perlu dirasa lagi.

Dering itu tak seharusnya kau angkat lagi. Harusnya tak perlu ada percakapan lagi.

Kau tidak boleh lupa, ada dua jalan yang berkebalikan di lidahnya. Kelokan yang berliku yang tak kau tahu akan sampai dimana. Persimpangan yang selalu membuat segan segalanya. Duri yang tersembunyi.

Jurang yang disimpannya diam-diam di kelu lidahnya. Adakah kau cium isyaratnya? Jangan terperosok kesekian kali lagi. Jangan jatuh lagi.

151011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s