Mata-mata Yang Kucinta

“Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa.”

Well! Pagi tadi entah kenapa tiva-tiba kepikiran buat ngumpulin gambar mata. Ya…dua pasang mata. Langsung saja saya ubek-ebek file-file gambar di folder ‘Foto Uchi’ dan langsung melacak foto-foto, memilih beberapa foto, meng-crop dan menggabung-gabung foto dengan program ‘Photoscape’ dan ….

Taraaaaa!!This is it! kumpulan mata-mata orang yang saya cintai. Ayah, ibu, mbak Ita, dua sepupu, teman-teman kuliah dan foto sepasang mata orang yang selalu tersimpan rapi di bagian paling dalam hati saya. Uh!!


Ketika foto ini saya tunjukkan ke mbak Ita, dia malah tidak mengenali yang mana matanya. mungkin karena kita berdua rada mirip ( So many people said it) hingga dia bingung membedakan mata saya dan matanya. Tapi anehnya dia bisa membedakan pasangan mata lainnya. Mata ayah, mata ibu dan mata the special one. Mungkin karena mata dan alis mereka yang unik hingga mudah dikenali.

Saya puas sekali dengan foto ini. Ada kesenangan yang sulit dijelaskan ketika menatap mata-mata orang yang kita cintai. Saya selalu suka menatap mata mereka secara langsung. Tapi sekarang saya sudah tidak bisa menatap mata the special one lagi. Tidak apa-apa. Paling tidak saya bisa melihat foto matanya. Itu cukup.

Saat Aku Lupa

Dan saat aku semakin dan semakin menjadi pelupa.

Saat semua ingatan semakin sulit dipanggil.

Ketika kepala ini semakin berdenyut tak menentu.

Ketika semua seakan hilang dari memori otakku.

Mungkin kelak hanya ada satu yang kuingat.

K_A_M_U

261111

Fiksi Mini : Aku Takkan Melupakanmu (1)

“Aku tak mungkin melupakanmu. Terima kasih karena kamu memberiku alasan untuk pergi lebih cepat.” katanya padaku dengan nada yang terdengar sangat tidak biasa. Dengan cepat dan tiba-tiba dia mundur beberapa langkah dariku lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
Doooor! Aku terpaku dan hampir gila. Dia roboh di depanku. Di tangan kanannya tergenggam pistol dan di tangan kirinya tergenggam undangan pernikahanku yang kusut, bekas remasan. Di pipinya ada cairan bening yang mengalir.
Maaf.

231111

You Don’t Have to Call Anymore

Seberapapun banyaknya kuulangi agar dia berhenti memencet nomor-nomorku.

Seberapapun kasarnya aku menyuruhnya pergi.

Seberapapun seringnya kuucapkan “jangan ganggu aku lagi!”

Nyatanya dia tetap datang.Seperti anak bandel yang tidak bisa diingatkan.

Dia tetap kembali. Dan dia tetap menderingkan handphoneku pada tengah-tengah malam. Ya! sejak dulu dia memang bebal kan?Seminggu sekali dia selalu menyempatkan waktunya untuk berbicara padaku.Untuk melontarkan candaan yang tak lagi lucu. Untuk bernyanyi lagu-lagu yang tidak lagi akan menyentuh hatiku. Seolah tak mengijikan aku untuk lupa.

Dan aku masih tak habis pikir. Untuk apa? Untuk apa lagi semua percakapan ini? Untuk apa kita bicara lagi jika kata-kata berjatuhan tanpa arti? Untuk apalagi menderingkan kenangan yang nyatanya lebih layak untuk dimatikan. Untuk apa? Berkali-kali kutanyakan tapi tak pernah kudapatkan jawaban pasti. Jawaban yang dapat memuaskan dahagaku atas rasa penasaran itu. Untuk apa?

Kamu hanya membalas pertanyaan dengan pertanyaan “Tidak bolehkah aku menelponmu lagi? Betapa kejam dirimu. Aku tahu aku menyakiti hatimu. Aku yang selalu membuatmu menangis. Tapi kumohon jangan seperti ini.”

Jangan seperti ini? Lalu harus bagaimana? Tawaku kini hanya tinggal satire, dan yang tersisa di bibirku cuma kata-kata sinis.

Maka untuk apa? Untuk apa setiap kedatangan itu?

Untuk apa? Jika cinta tak pernah menyentuh hatimu. Semuanya sia-sia di mataku.

You don’t have to call anymore

I won’t pick up the phone

This is the last straw

Don’t wanna hurt anymore

(Taylor Swift _ You’re Not Sorry)

231111

Peri Pemetik Airmata

Saya mungkin lupa, kalau kamu adalah peri pemetik airmata. Saya lupa kamu yang mengundang airmata saya. Saya lupa kamu yang memanggil airmata saya. Membuatnya jatuh pelan seperti gerimis, lebih cepat seperti hujan, lalu membuatnya menderas, jatuh tak henti-henti seperti badai.

Kamu tampung airmata, kamu petiki tiap tetesnya. Kamu hayati. Kamu ciumi dan kamu baui. Kamu simpan lalu kamu tertawa-tawa melihat airmata saya itu. Seolah airmata saya itu boneka badut yang lucu. Seolah airmata saya itu bisa melawak untukmu. Sebegitu bahagianya kamu menyaksikan airmata saya. Kamu terus saya tersenyum dan menertawakannya.

Saya selalu lupa kalau kamu adalah peri pemetik airmata itu. Saya lupa kalau kamu yang membuat saya menangis sendirian dipojokan kamar. Saya lupa kalau kamu yang membuat mata saya menggembung seperti bola tenis, saya lupa kalau kamu membuat awan hitam selalu menaungi kepala saya.

Saya mungkin lupa kamulah peri pemetik airmata itu. Saya mungkin bodoh membiarkanmu terus memetiki airmata saya. Saya mungkin tolol membiarkanmu menertawai airmata saya.

Atau

Saya hanya mencintai…

201120011