Dilarang Melompat Pagar

Kenapa kita dilarang melompati pagar itu?

Kenapa kita tidak boleh melampaui batas itu?

Bukankah di sana laut begitu biru dan kecipak ombak terlihat menggiurkan?

Kenapa tidak boleh?

Karena ada bahaya di seberang sana.

Mungkin laut yang terlihat indah itu bisa membuat kita tenggelam. Terlalu dalam.

Mungkin air yang jernih itu dapat membuat kita sesak dan kehabisan napas.

Mungkin kecipak ombak itu yang akan menggulung kita hingga binasa.

Ada sesuatu di seberang sana yang mungkin mencelakakan kita.

Jadi tetaplah disana, di balik pagar

tetap tunduk pada batas yang tak kasat mata

231211

Advertisements

Batas

Di hidupmu yang itu-itu saja….

Sekali waktu kau ingin berlari dan menari dalam hujan paling deras. Membiarkan rambutmu basah, tanganmu basah, kakimu basah. Membiarkan bulu kudukmu berdiri, membiarkan suara gemeretak gigimu bersahutan dengan suara hujan. Tidak peduli tanganmu yang berkerut dan seluruh tubuhmu yang menggigil dingin.

Sekali waktu kau ingin menangis di sana, di bawah hujan deras yang tak tahu apa-apa. Sendirian. Dan kamu sendiripun tak bisa membedakan mana tetes hujan dan mana airmata.

Sekali waktu kamu ingin berdiri di ujung ketinggian, lalu jatuh bebas dari sana. Kau ingin merasakan kejatuhan yang paling jatuh. Lebih dari kejatuhan yang biasa kau rasakan.

Sekali waktu kau ingin berlari ke arahnya, mengenggam tangannya erat-erat, memeluknya kuat-kuat hingga tak tahu lagi bagaimana cara untuk lepas.

Sekali waktu kau ingin tidak peduli apa-apa, tak peduli siapa-siapa, mengembangkan sayapmu dan melakukan apa saja yang kamu mau.

Sekali waktu kau ingin melewati batas itu, meledakkan segala rindumu dan melebur sejenak dalam dosa yang katamu paling manis.

Sekali saja…



221211

Untuk Kanaya : Rintik Hujan dan Permen Karet

Kanaya, apakah rintik hujan dan permen karet masih membawamu ke masa itu? Saat senyummu begitu sempurna dan tawamu bulat utuh?

Di seberang sana tampak sepasang kekasih bergandengan tangan lalu masuk ke mobil mereka yang mewah. Si lelaki tampak gagah dengan setelan jas nya dan si perempuan tampak anggun dengan gaunnya. Mungkin mereka akan menuju restoran mewah. Memesan makanan mahal. Dan duduk di antara lilin-lilin yang menyala.
Tapi bukan itu yang kau inginkan. Aku bisa membacanya di matamu.
Bukan gaun cantik itu, bukan mobil mewah dan restoran mahal itu yang akan membuatmu bahagia.
Karena kebahagiaanmu sederhana saja, dia ada di sampingmu. Maka semua menjadi indah. Di manapun. Di petak kecil sekalipun, mengunyah permen karet bersamaa sudah cukup membuatmu bahagia. Ya! syaratnya cuma satu. Ada dia. Sudah.

Tapi Kanaya, saat kini dia tidak ada lagi. Saat dia sudah menghilang dari sisimu, apakah permen karet yang kau kunyah masih manis? Atau hanya tinggal sepah? Bukankah sepah itu harus segera di buang Kanaya?

Rintik hujan telah mereda. Tapi ingatan tentangnya masih turun deras dalam kepalamu. Membanjiri hatimu sampai penuh.

Dan kau tetap mencintainya. Satu kebodohan yang entah kenapa terus kau pelihara.

211211

Untuk Kanaya : Hati

Kanaya, biar hati mengalir sesuai kehendaknya. Tak ada yang perlu ditahan-tahan. Tak ada yang perlu dilawan. Biarkan semua tumpah tanpa bendungan.
Marahlah! Rindulah! Kecewalah! Takutlah! Galaulah! Cintailah! Bencilah! Senanglah! Sedihlah!
Bukankah semua itu yang membuat lengkap Kanaya? Bukankah itu yang mengutuhkan hati manusiamu?

211211

Untuk Kanaya: Kebenaran

Kanaya, jangan takut. Karena kebenaran bukan dilihat berdasarkan kuantitas tetapi kualitas. Tidak peduli sebanyak apapun mereka yang menuduhmu, bila kamu memang memegang teguh kebenaran semuanya akan baik-baik saja. Karena bagaimanapun mayoritas yang salah tidak akan lebih baik dari minoritas yang benar. Sekali lagi, kebenaran bukan dilihat berdasarkan jumlah Kanaya, kebenaran adalah kebenaran itu sendiri tidak terikat apapun. Dan Tuhan tahu Kanaya. Tuhan tahu ketika kamu bicara kebenaran sedang tak seorangpun percaya. Tuhan selalu tahu kebenarannya Kanaya.
Jangan takut Kanaya. Kamu tidak membutuhkan orang-orang seperti mereka yang tidak tahu apa-apa tapi menuduhmu sekehendak hatinya. Kamu tidak perlu orang-orang seperti mereka Kanaya.
Cukup aku, kamu, dia dan Tuhan yang tahu kamu benar. Itu lebih dari cukup.

Jadi, tegakkan kepalamu Kanaya. Semua akan baik-baik saja.

191211