Panen Terakhir

Aku tahu kamu akan melewatkannya. Seperti yang sudah-sudah. Ketidakpedulian yang sempurna. Ini tidak penting kan? Tidak pernah penting kan?
Aku tahu kamu akan melupakannya. Begitu banyak hal yang kamu lupakan dan begitu banyak hal yang kuingat. Kontradiktif kan? Kita memang selalu menjadi antagonis satu dan lainnya.
Harusnya memang tidak perlu menggantung harap di dadamu. Yang kamu tahu cuma bicara dan bagaimana menembak-nembakkan kata yang melambung tinggi, tapi tak pernah sampai di bumi.
Kamu tahu? Kalau ini ujung dari perjalananku. Ini batas dari kesanggupanku. Kukira akan jadi akhir yang lumayan indah, tapi semua porak-poranda. Karena kamu tidak mengingatnya, dan itu artinya sederhana, kamu memilih akhir yang seperti ini. Kepergian tanpa pesan dan lambaian tangan. Hanya hujan yang turun di jalanan rumahku. Hanya di jalanan rumahku. Rumahmu akan tetap kering. Sekering hatimu.
Kamu tidak akan kehilangan. Aku tahu. Seperti yang sudah-sudah. Melupakanku sangat mudah.

Hah…lucu ya bagaimana kita menguras hati dan seorang di sana tidak pernah peduli. Lucu ya bagaimana kita menggelisahkan seseorang yang bahkan tidak ingat satupun tentang kita. Lucu ya bagaimana kita menangis sedang orang yang kita tangisi malah menertawakan kesedihan kita. Lucu ya bagaimana kita selalu ada untuk seseorang, tapi tak sekalipun dia ada untuk kita. Lucu ya bagaimana seseorang selalu datang padamu saat susah, dan melupakanmu saat bahagia. Sebut ini lucu hingga kita bisa tertawa keras-keras sampai keluar airmata, tertawa keras-keras karena ini candaan semesta paling lucu. Lucu sekali kan? Tawaku lalu menderas dan menderas. Hey…yang menderas itu hujan kan? Jalanan basah, perkarangan basah, kamarku basah, hatiku juga. Haha satire.
Kamu tahu? Hal ini sederhana saja. Bila orang lain yang melewatkannya semua akan baik-baik saja. Tapi kamu? Semua menjadi tidak baik-baik saja.
Hah! Mungkin seperti ini akan lebih mudah. Menghilang tiba-tiba dan takkan pernah kau cari. Tragis kan? Kamu memang selalu berhasil menebar ketragisan-ketragisan di halaman rumahku.
Maka sudah sering. Terlalu sering masing-masing kita berkata sampai jumpa tapi kembali. Kembali lagi. Tapi kali ini aku tidak akan bisa kembali. Aku akan sibuk. Terlalu sibuk mengumpulkan dan menyusun kembali hatiku yang menyerpih debu.

Karena kamu melewatkannya malam tadi. Tiga kata yang harusnya kamu ucapkan berjam-jam yang lalu…

”Selamat Ulang Tahun”

04:20
Tuan pemetik airmata, silakan panen raya hari ini. Tapi ini musim panen terakhir.

Advertisements

Bangun

Tuhan selalu memekarkan kuncup doaku. Seperti malam ini, saat aku ingin mendengar suaramu lagi. Pasti Tuhan yang menggerakkan hatimu untuk sekedar menelpon dan minta dibangunkan pagi-pagi. Kau tahu? Bagaimana aku menunggui menit-menit pada jam yang kau tuju. Untuk menelponmu dan mendengar suaramu. Sekali lagi.

Satu kali, dua kali, tiga kali, sepuluh kali, dua puluh, tiga puluh tapi tak ada jawaban. Berapa kali lagi aku harus menekan nomer-nomermu?

Kamu, pastilah tidur terlalu jauh.

Selamanya aku tak akan bisa membangunkanmu.

Just Take My Tears : Peri Pemetik Airmata

Nama film itu 49days. Sebenarnya teman-teman kuliah saya sudah merekomendasikan film ini sejak lama. Tapi saya belum juga menontonnya hingga film ini sudah diputar di salah satu stasiun televisi. Sebenarnya saya tidak mengikuti film ini setiap episodenya. Kadang beberapa kesibukan membuat saya melewatkannya. Tidak masalah. Toh saya bisa meminta file film ini pada teman saya.

Yang menarik dari film ini adalah ide ceritanya. Jadi ada seorang cewek yang mengalami kecelakaan dan mati suri. Tapi ternyata saat itu belum waktunya dia mati. Diapun diberi kesempatan untuk hidup lagi dengan cara mengumpulkan tiga airmata dari orang yang tulus mencintainya selain dari keluarganya. Untuk itu dia hanya diberi waktu selama 49 hari, saat itu roh nya diperbolehkan memasuki badan seorang wanita. Dan saat pencarian tiga airmata ini akhirnya si cewek sadar kalau sulit sekali mencari orang-orang yang tulus mencintainya.

Saya jadi berpikir, pernahkah kita secara tulus menangis untuk orang lain? Kita sering menangis. Ketika kita sakit hati. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi bukankah airmata itu untuk diri kita sendiri?

Peri pemetik airmata. Saya ingat selain saya menangis karenanya, saya juga sering menangis untuknya. Saat tangannya terluka karena terlalu keras bekerja. Saat dia sakit dan terlihat sangat menyedihkan. Saya menangis. Saat dia bernyanyi lagu sedih untuk saya. Saya menangis. Jika kamu roh yang mencari tiga tetes airmata dari tiga orang berbeda. Maka dapat dipastikan sayalah salah satunya. Saya yang akan memberikan airmata itu untukmu. Tidak hanya setetes. Jika kamu meminta hujan dari mata saya. Saya bisa saja melakukannya.

Tapi kamu tidak pernah mengerti.

100112