Flash Fiction : Senyum

Mereka bilang aku harus datang dan tersenyum. Senyum yang semanis mungkin. Selebar dan seriang mungkin. Mereka bilang aku harus berdandan dengan cantik. Aku harus menjadi yang paling cantik.

Maka merekapun mengajariku tersenyum. Susah sekali sebenarnya. Bibirku sudah begitu kaku. Otot-otot tersenyumku sudah tegang. Tidak lentur lagi. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku tersenyum. Senyum adalah hal yang semakin asing di hidupku.

Awalnya mereka menyuruh menarik paksa kedua sudut bibirku. Sakit rasanya. Tapi mereka terus memaksa. Ini agar kau bisa tersenyum lagi Lana. Itu dalih mereka. Tapi tetap saja sesuatu yang dipaksakan itu sakit. Lalu aku memutuskan untuk mencoba tersenyum sendiri. Tanpa ditarik-tarik. Tanpa dipaksa-paksa. Di hadapan mereka kucoba menarik dua sudut bibirku untuk tersenyum. Tapi mereka malah tertawa tak henti-henti. Senyummu aneh Lana. Sungguh aneh. Hahahahaha. Aku tidak pernah melihat senyum seaneh ini. Kau parah Lana. Mereka tertawa keras sekali. Aku sebal. Aku lalu melangkah menuju cermin di sudut ruangan. Kulihat diriku di sana. Benar saja, di hadapanku kini kulihat seorang gadis dengan senyum yang sungguh aneh. Senyum yang menakutkan. Rasanya ingin kuhantam dan kupecahkan saja cermin di hadapanku itu.

Pada akhirnya mereka berhenti tertawa. Aku tahu mereka susah payah menghentikan tawa mereka. Bahkan sesekali masih terdengar cekikik yang ditahan-tahan. Tenanglah Lana, nanti juga kau akan bisa tersenyum semanis dulu lagi. Percayalah. Kau akan datang kesana dengan senyuman paling manis. Aku cuma diam dan mengalihkan pandanganku dari cermin sial itu.

Tiap hari aku melatih senyumku. Otot tersenyumku lama-lama menjadi lentur. Dan senyumku tidak seaneh dulu lagi. Mereka sangat senang dengan kemajuanku ini. Mereka bahkan bersorak-sorai saat kupamerkan senyumku. Gaduh sekali.

Mereka bilang aku harus menjadi yang paling cantik. Mereka menyuruhku pergi ke mall untuk membeli gaun. Kuturuti saja perkataan mereka. Di toko langgananku aku masuk. Mereka mulai membuat kegaduhan-kegaduhan lagi saat aku memilih-milih gaun.

Itu terlalu kuno!

Itu tidak seksi!

Ini kurang elegan!

Warnanya tidak cocok!

Mereka ramai sekali. Kepalaku hampir meledak mendengarkan ocehan mereka. Untunglah akhirnya mereka bersepakat memilih sebuah gaun berenda yang dikenakan manekin di sudut ruangan. Gaun itu memang cantik. Panjangnya selutut dengan renda-renda di ujungnya. Tapi warnanya putih dan itu membuatku ragu. Tapi mereka bilang tidak apa-apa, kau sah-sah saja memakainya. Kau pasti kelihatan cantik. Kucoba gaun itu di ruang ganti dan takjub betapa baju itu sangat pas di tubuhku. Akhirnya kuputuskan untuk membelinya.

***

Aku ingat tanggalnya. 29 Juni 2011. Tanggal yang tidak akan kulupakan seumur hidupku.

Mereka bilang aku harus datang dan tersenyum. Senyum yang semanis mungkin. Selebar dan seriang mungkin. Mereka bilang aku harus berdandan dengan cantik. Aku harus menjadi yang paling cantik.

Maka aku datang dan tersenyum. Sejak aku turun dari mobil semua memandangku dengan tatapan tak biasa. Entah takjub, entah heran atau kasihan. Tapi seseorang, entah siapa membisikiku ”Kamu cantik sekali. Lebih cantik dari mempelai perempuan.” aku cuma tersenyum. Senyum yang sudah kulatih berhari-hari yang lalu.

Aku melihatmu di sana dengan setelah jas hitam yang rapi. Kamu terlihat tampan dan tambah manis. Di sampingmu berdiri seorang wanita bergaun putih. Kalian berdampingan dan menjadi pusat perhatian. Kamu sibuk menyalami para tamu. Wanita itu juga. Aku mendekati tempatmu berdiri. Kupandangi matamu, kulihat alismu, kuperhatikan bibirmu untuk memastikan kalau yang berdiri di sana benar-benar kamu. Karena aku belum bisa percaya sesungguhnya. Tapi itu memang kamu. Tidak salah.

Aku semakin mendekat, dan sekarang kamu melihatku dengan ekspresi seperti melihat hantu. Aku hanya tersenyum. Senyum yang telah kulatih berhari-hari yang lalu.

Kamu, lelaki yang kucintai sampai hampir gila. Kamu yang pernah berkata ingin bersamaku, mempunyai sebelas anak dan hidup bahagia sampai tua. Kini kamu berdiri di sana bersama seorang wanita yang tak pernah kukenal. Yang sekalipun tak pernah kau sebut namanya.

Setan-setan di kepalaku bilang aku harus datang dan tersenyum. Mereka tidak tahu lubang di hatiku terus menerus mengeluarkan cairan mirip airmata. Deras. Deras sekali.

160212

Flash Fiction : Bidadari

Aku yakin aku pastilah sedang bermimpi saat kudapati seorang perempuan bersayap di depan pintu rumahku. Malam itu aku sedang sendirian di rumah. Ayah dan Ibuku menginap di rumah nenek, sedang kakak perempuanku ada acara dengan teman kerjanya di luar kota. Jadilah aku yang dititahkan sebagai penjaga rumah. Tidak apa-apa. Sendirian di rumah enak juga. Aku menguasai sendiri TV di ruang tengah pada pagi hari, menghancurkan dapur untuk memasak pada siang hari, lalu menyetel playlist keras-keras pada sore hari. Tanpa omelan ibuku. Tanpa ocehan kakak perempuanku yang cerewet.

Malam ini aku berencana mengerjakan beberapa tugas kuliahku lalu tidur lebih cepat. Jam delapan malam mataku sudah terasa berat. Kubersihkan tempat tidurku, kupasang obat nyamuk elektrik beraroma lavender, kuganti cahaya lampu belajar yang benderang dengan cahaya lampu tidur yang redup, lalu kurebahkan diriku di kasur yang empuk. Nyaman sekali.

Aku pastilah bermimpi saat kudengar suara-suara memanggil namaku.

”Kanaya…kanaya…kanaya…”

Suara yang sangat halus dan merdu hingga aku sangsi kalau suara itu berasal dari dunia. Suara itu pastilah suara dari langit. Dan aku sedang bermimpi. Maka suara itu mungkin saja memang berasal dari langit.

”Kanaya…kanaya….kanaya…”

Suara itu semakin keras dan jelas. Aku bangkit menuju ke sumber suara itu, ke arah ruang tamu. Suara itu berasal dari luar rumah.

Aku pastilah sedang bermimpi saat kubuka pintu rumah dan kusaksikan cahaya-cahaya berpendar putih kekuningan dan menyilaukan. Cahaya-cahaya itu berhamburan seperti kunang-kunang. Terurai, terburai dan pelan-pelan membentuk sesosok tubuh. Seorang perempuan bergaun putih dan bersayap sewarna gaunnya kini berdiri di hadapanku. Wajahnya putih berseri dan sungguh cantik. Kulihat kakinya tak menjejak tanah. Inikah yang disebut bidadari?

”Kanaya…” bidadari itu kembali menyebut suaraku.

”Kamu…kamu siapa?” tanyaku dengan kebingungan yang nyata.

”Aku bidadari Elen..” jawabnya lembut.

”Kau mau apa kau kemari? Apa yang kau inginkan dariku?” kataku gelisah. Untuk apa seorang bidadari menemui seorang manusia yang sangat biasa sepertiku? Aku kembali bingung. Gelisah tak henti-henti. Aku baru tenang setelah mengingat kalau semua ini cuma bunga tidurku.

”Aku…aku diutus untuk menyerahkan bingkisan ini untukmu Kanaya.”

”Bingkisan? Bingkisan apa? Dari siapa?” kuamati bingkisan berwarna putih itu.

”Kau pasti akan tahu sendiri setelah membukanya. Tugasku hanya mengantar Kanaya. Sekarang aku harus pergi. Sampai jumpa.” Detik itu juga udara seperti dihujani cahaya-cahaya menyilaukan lagi. Pelan-pelan sosok bidadari itu terurai terbuai menjadi cahaya-cahaya kecil yang lalu hilang tak berbekas.

Aku terbangun dengan kepala sedikit pusing. Mimpi semalam masih kuingat dengan jelas setiap detailnya. Cahaya, bidadari, dan bingkisan putih yang tidak sempat kuketahui isinya karena mimpi itu begitu cepat berakhir.

Aku beranjak dari tempat tidur menuju meja rias. Dan aku begitu terkejut ketika kudapati sebuah bingkisan putih yang sama persis dengan yang ada di mimpiku tergeletak di atas meja rias. Aku yakin sekali itu bingkisan yang kulihat di mimpiku.

Pelan-pelan kubuka tali pengait bingkisan itu. Kuambil isinya. Dan kudapati sebentuk hati berwarna merah merona. Hati yang masih hidup dan berdegup.

Ingatanku terseret pada peristiwa kemarin lusa. Dia, lelaki yang selalu kuragukan cintanya mengatakan padaku satu kalimat yang entah kenapa begitu kuingat,

”Kamu jangan kaget bila seorang bidadari datang mengantar hatiku padamu.”

Sekarang aku tahu. Dia tidak main-main dengan ucapannya.

140212

Terinspirasi dari seseorang yang mengirimiku sms serupa. Aku tunggu bidadarinya ya…hehe


Bahagia

Pada sudut ini, saya pastilah harus tersenyum melihatmu tertawa bahagia di sana.

Ya…saya ikut bahagia bila kamu bahagia. Sederhana saja kan. Sesederhana itu.

Bahagia bisa mewujud berbagai rupa. Dan saya memilih tersenyum diam-diam di sini.

Kamu tidak pernah tahu. Kamu tidak perlu tahu.

120212

Flash Fiction : Jantung

Lana terbaring di sana. Masih sadar. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Entah apa yang dia pikirkan. Aku tidak mengerti. Aku memang tidak pernah mengerti jalan pikirannya.

Ruangan ini sedikit menyeramkan bagiku. Mungkin karena tembok-temboknya yang terlalu putih. Mungkin karena alat-alat di depanku ini terlihat menakutkan. Mungkin karena Lana -perempuan yang aku cintai diam-diam- berada di pembaringan sana. Entahlah. Hawa ruangan ini tidak begitu aku sukai.

Aku mendekati pembaringan Lana. Mempergunakan 10 menit waktu yang tersisa sebelum prosesi pembedahan itu. 10 menit tersisa, untuk terakhir kalinya membujuk Lana agar membatalkan semua prosesi yang tidak masuk akal ini.

”Lana, lo gag perlu ngelakuin ini Lan.”

”Sudahlah Teo. Keputusan ini sudah bulat. Tidak akan ada yang bisa merubah keputusanku.” mata Lana berkilat. Kilat yang aku hafal sebagai ketetapan hatinya.

”Tapi Lan. Semua ini konyol Lan. Semua ini bodoh.”

”Lo gag ngerti Teo. Gue sakit. Dan sakit ini harus segera disembuhkan.”

”Gue ngerti Lan. Tapi bukan cara ini.”

”Gue udah nyoba semua cara. Semua Teo! Tapi sakit ini tak juga sembuh. Gue udah gag tahan terus-terusan hidup seperti ini Teo.”

”Tapi Lan….”

”Teo gue mohon. Ini keputusan gue.”

Pintu tiba-tiba terbuka. Beberapa orang masuk.

”Lo yakin Lan?” aku bertanya pada Lana untuk terakhir kali.

”Tidak pernah seyakin ini Teo.” jawab Lana sambil tersenyum. Lana sudah memutuskan. Dan aku, seorang Teo tidak bisa berbuat apa-apa.

Dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Mereka di sini. Di ruangan yang sama denganku dan Lana. Mengenakan setelan hijau-hijau mirip sekali dengan dokter bedah profesional.

Aku hanya berdiri di sudut. Mengamati dengan hati tidak tenang. Apa yang akan mereka lakukan pada Lana?

Pertama-tama mereka menyuntikkan beberapa ml cairan di tubuh Lana. Aku menerka cairan itu adalah anastesi. Dan benar saja. Tidak berapa lama kemudian Lana mulai tidur dan tak sadarkan diri.

Lelaki itu mulai mengambil gunting dan membelah dada Lana. Pelan-pelan menyobeknya seperti memotong sehelai kain. Entah apa lagi yang mereka lakukan pada tubuh Lana. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku terus memejamkan mataku, dan baru membukanya ketika salah satu dari tiga perempuan itu berseru.

”Ini jantungnya!”

Detik itu juga aku membuka mata. Dan bergerak mendekat. Melihat jantung Lana.

Jantung itu penuh guratan luka. Lukanya belum kering. Masih basah dan dalam. Sangat dalam.

Sedalam inikah kesakitanmu Lan. Sesakit itukah. Kini aku tahu.

Merekapun mulai menyiapkan alat-alat untuk menjahit luka-luka Lana. Sempat kulihat jarum jahit yang berbeda dengan jarum jahit ibuku. Jarum yang biasa digunakan ibu untuk menjahit celanaku yang sobek bentuknya lurus pipih dan ada lubang kecil di pangkalnya. Sedangkan jarum yang dibawa para doketer bedah itu bentuknya melengkung. Jarum itulah yang akan digunakan untuk menjahit luka-luka Lana. Akankah ini berhasil? Bisakah semua ini menyembuhkan luka di dada Lana?

***

Seminggu yang lalu Lana datang dengan kilat di matanya. Di tangannya dia menggenggam selembar kertas yang kelak mengantarkannya ke ruangan menyeramkan di daerah pinggiran Jakarta. Dan tidak diragukan lagi bahwa kota metropolitan itu adalah sumber segala kegilaan. Dan Lana mengamini kegilaan itu.

Aku sedang duduk di taman saat itu. Senja sedang memerah. Lana datang dengan kertas gila itu. Kertas yang entah dia dapat dari mana. Rona mukanya lebih ceria dari biasanya. Sudah Lama sekali aku tidak menjumpai rona seperti ini. Rona yang hilang selama setahun. Ya! Setahun ini aku tidak pernah melihat wajah Lana ceria. Wajahnya selalu terlihat sedih dan tertekan. Dan kalau segalanya sedang kacau, Lana bisa menangis berjam-jam. Menyudut sendirian. Sesegukan dan menghampa. Dan alasan semua kesakitan dan kesedihannya itu satu, lelaki itu. Lelaki yang dicintai Lana sampai gila. Lelaki yang sama yang mencampakannya sedemikian rupa.

”Lihat Teo, gue tau bagaimana harus menyembuhkan luka ini Teo.” katanya berapi-api. Ku lihat ada kilat di matanya.

”Oh ya? lo menemukan seorang kiai? ulama? guru spiritual? Psikolog?” kataku tak kalah berapi-api.

”Bukan Teo. Gue menemukan dokter bedah.”

”Dokter bedah?”

”Iya Teo. Dokter bedah. Dia akan ngebedah dada gue. Lalu ngejahit luka di jantung gue Teo. Sesederhana itu dan gue akan sembuh Teo.”

”Lo gila ya Lana? Apa-apaan ini? Sederhana? Hal seperti itu lo bilang sederhana? Itu gila Lana! Itu gila! Bukan sederhana! Bahkan lo sekarang gag bisa ngebedain mana yang gila dan mana yang sederhana.” teriakku. Meledak seketika. Aku tidak menyangka Lana bisa punya pikiran segila itu. Operasi bedah? Gila!

”Lo gag ngerti Teo. Lo gag pernah ngerti. Ini satu-satunya cara yang tersisa Teo.” Lana terlihat lemah dan putus asa.

”Tidak Lana. Gue gag mengijinkan lo melakukannya.”

”Tidak Teo, gue akan melakukannya.”

”Lana gue mohon Lan. Jangan gila Lan.”

”Gue emang sudah gila Teo. Lo tau sendiri gue sudah gila Teo.” Lana menangis. Gadis yang aku cintai itu menangis. Aku tidaj tahan dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mengamini keputusan Lana.

* * *

Dan di sini akhirnya kegilaan itu diwujudkan Lana. Demi menyembuhkan Luka di jantungnya, Lana rela mempertaruhkan nyawanya dengan melakukan operasi bedah dengan dokter yang sangat kupertanyakan keprofesionalannya. Ini sungguh gila.

Luka di jantung Lana telah selesai dijahit. Detak jantungnya lemah. Teramat lemah. Entah bagaimana jantung itu akan berdetak lagi.

Teo, Kalau aku bisa, aku ingin mengganti jantungku dengan jantung baru, dimana tak ada namanya dalam setiap degupannya.”

110212

Flash Fiction : Pada Suatu Sore

Pada suatu sore, rintik hujan jatuh di jalanan, di atap gedung-gedung, di atas mobil-mobil mewah, membasahi dedaunan juga manusia-manusia yang tak sempat berteduh. Pengamen itu basah, pengemis berambut kelabu itu basah, mbak-mbak bersepatu high heel itu basah, lelaki berperut buncit itu juga basah. Rintik hujan juga membasahi rambut gadis itu, meski telah berusaha berlari sekencang mungkin untuk mencapai halte bus, tetap saja takdir berkata kalau gadis itu harus bersentuhan dengan hujan. Takdir menentukan bahwa dia harus basah.

Pada suatu sore di halte bus. Seorang gadis berseragam SMA basah kuyup. Gemericik air hujan masih berjatuhan di jalan-jalan. Gadis itu menggigil kedinginan. Duduk sendirian di antara deretan bangku halte yang kosong. Kenapa sore ini sepi sekali? Gadis itu menatap jalanan di depannya sepeda-sepeda dengan pengendara berbaju kelelawar, mobil-mobil dengan tangan-tangan otomatis yang mengelap kaca, pejalan-pejalan yang berpayung warna-warni. Sebuah siulan kecil mengagetkan gadis yang basah kuyup itu. Siulan merdu yang berkompetisi dengan suara rintik hujan. Gadis itu makin menggigil. Bukankah dia sendirian di sana?

Gadis itu segera memasang indera-indera pendengaran lebih teliti lagi. Siulan itu semakin lama semakin mengalunkan nada-nada yang merdu. Dan gadis itu menyukainya. Maka gadis itu berjalan ke sisi kiri halte, memeriksa asal siulan tersebut. Pelan-pelan gadis itu melangkah menuju arah suara. Pelan-pelan siulan itu terdengar makin jelas dan makin keras. Gadis itu terkejut. Ternyata di pojokan halte sana, di belakang bangku halte yang berderet. Tepat di hadapannya. Seorang pemuda beralis tebal sedang tidur terlentang di samping sebuah gitar, tangannya mengalasi kepala, dan mulutnya menyiulkan bebunyian merdu yang tadi ia dengar.

Pada suatu sore di sebuah halte bus, seorang gadis berambut sebahu, berseragam SMA tampak mengamati seorang pemuda berpakaian hitam dan bercelana jeans yang entah sobek atau sengaja disobek di bagian lututnya. Wajah gadis itu begitu heran dan penuh rasa ingin tahu, matanya tetap menatap pemuda yang sedang tidur terlentang sambil menyiulkan bebunyian-bebunyian. Dan, seperti mengerti sedang diamati, pemuda itu membuka mata tiba-tiba. Gadis itu terkejut dan tidak sempat mengantisipasi. Tak sempat mengarahkan matanya kemana-mana. Seperti satu kilatan. Matanya dan mata gadis berseragam SMA itu bertemu. Ada panah yang terlepas dan menusuk.

”Mau apa lo?” kata pemuda itu sambil bangun dari posisi telentangnya. Alis matanya yang lebat dan bola matanya yang hitam pekat menghasilkan tatapan yang tajam dan menusuk.

”Eh…emm…gu..e…gag mau apa-apa.” jawab gadis itu gemetar. Tatapan itu terlalu menusuk matanya. Terlalu menusuk hatinya.

”Kanaya Cirrus Sandikala.” pemuda itu mengeja nama yang tertera pada baju seragam gadis itu.

”Kedua orang tuamu pasti pecinta langit.” lanjut pemuda itu. Untuk kesekian kali gadis itu terkejut. Hanya sedikit orang yang mengerti apa itu cirrus, apa itu sandikala. Dan dia salah satunya. Gadis itu tidak menyangka. Pemuda berpakaian lusuh itu. Dia tahu.

Pada suatu hari di halte bus, dua orang asing dipertemukan oleh takdir. Takdir dari langit. Langit yang kini hanya menyisakan rintik gerimis. Sebuah bus melaju dan berhenti tepat di halte itu. Gadis bernama Kanaya itupun segera masuk, diikuti pemuda berkaos hitam dan berambut acak-acakan dengan sebuah gitar di tangan. Gadis itu memilih tempat di dekat jendela. Tempat favoritnya. Dari jendela itu dia bisa menyaksikan film-film nyata di luar sana. Seorang lelaki berkaki satu yang giat menjajakan koran di seberang sana, lelaki berdasi yang menelpon dengan wajah kesal, ataupun tukang becak yang ketiduran di atas becaknya. Sedangkan pemuda tadi maju ke depan dan mulai memetik gitarnya.

Jreng…jreng…jreng…

Sungguh kumenyesal telah mengenal dia.

Dan aku kecewa telah menyayanginya.

Dan aku tak akan mengulang kedua kalinya.

Suara itu mengalun merdu, mengalihkan gadis bernama Kanaya itu dari film-film di luar jendela. Pandangannya beralih ke arah pemuda di halte tadi yang kini sedang bernyanyi dengan suara yang semerdu siulannya. Dan entah kebetulan, entah takdir. Pemuda itu juga sedang menatap ke arahnya. Kombinasi alis dan bola mata yang menghasilkan tatapan menusuk. Gadis itu tertusuk lagi.

Pada suatu sore, di bus yang sedang melaju kencang. Suara merdu nyanyian terdengar.

Kusimpan rindu di hati.

Gelisah tak menentu.

Berawal dari kita bertemu.

Kau akan kujaga.

Kuingin engkau mengerti betapa kau kucinta.

Hanya padamu, aku bersumpah kau akan kujaga.

Sampai mati.

Pemuda beralis tebal, berambut acak-acakan dan berwajah manis itu terus menyanyi. Suara merdunya melenakan semua yang ada di dalam bus itu. Selain Kanaya, ada mbak-mbak berseragam berwajah lelah, dua anak lelaki berseragam SMP yang sejak tadi mengobrolkan game online, ibu-ibu berjilbab dengan anak perempuannya yang juga berjilbab, seorang kakek dengan tas besar, dan seorang pemuda berbaju putih yang tampak mengikuti nyanyian.

Pada suatu sore, di sebuah jalan Kanaya berteriak

”Jalan Jawa Pak. Kiri”

Bus itu segera menepi. Kanaya melangkah turun tapi menyempatkan matanya memandang pemuda itu. Sekali lagi. Dan sekali lagi entah kebetulan, entah takdir, pandangan mereka bertemu. Sepasang alis yang sempurna, bola mata yang hitam pekat menghasilkan tatapan yang menusuk. Kanaya tertusuk. Untuk kesekian kali. Dengan berat hati gadis itu turun.

Pada suatu sore, di sebuah jalan perumahan. Kanaya berjalan kaki menuju rumahnya. Pakaiannya masih lembab. Rambutnya masih lembab. Dan kepalanya masih di penuhi wajah pemuda tadi.

Jreng…jreng…jreng…

Kuingin tahu siapa namamu.

Kuingin tahu dimana rumahmu.

Walau sampai akhir hanyat ini.

Jalan hidup kita berbeda.

Aku hanyalah seorang punk rock jalanan.

Yang tak punya harta melimpah tuk dirimu sayang.

Sekali lagi Kanaya dikejutkan. Suara merdu itu…Dengan cepat Kanaya menoleh ke belakang dan mendapati pemuda berkaos hitam, berambut acak-acakan sedang memetik gitar dan bernyanyi. Kanaya melangkahkan kakinya ke sebuah bangku di taman perumahan. Pemuda itu mengikutinya. Mereka terdiam. Satu detik. Dua detik. Lima detik. Sepuluh detik.

”Kamu…kenapa kamu mengikutiku?” akhirnya pada detik kelima belas Kanaya memecah kebisuan yang menyelimuti mereka berdua.

”Aku gag tau. Kakiku…seperti ada medan magnet yang menariknya untuk terus mengikutimu.” Pemuda itu menunduk memandangi kakinya yang bersandal jepit, lalu merasa aneh dengan dengannya.

”Bagaimana bisa seperti itu?” Kanaya heran.

”Aku juga tidak mengerti, tapi seperti berat sekali untuk berpisah denganmu. Di halte bus tadi, di tempat kamu berhenti tadi. Diriku seperti tidak mau kehilangan kamu.”

kata pemuda itu sambil menatap Kanaya dengan ekspresi bingung.

”Kenapa? Kenapa begitu?” tanya Kanaya meskipun hatinya juga merasakan yang sama dengan pemuda itu. Berat untuk berpisah dengannya.

”Sudah kubilang aku tidak tahu. Kamu…sejak pertama bertemu di halte tadi, aku merasa telah sangat lama mengenalmu.”

”Tapi kita baru bertemu tadi. Kau tidak mungkin mengenalku sebelumnya.”

”Entahlah, mungkin di kehidupan yang lain aku pernah mengenalmu.”

”Kau percaya ada yang seperti itu?”

”Entahlah!”

”Entahlah!”

”Sepertinya aku mencintaimu.” kata pemuda beralis tebal itu sambil menatap mata Kanaya. Tatapan yang seribu kali lebih menusuk dibandingkan tatapan-tatapan sebelumnya. Kanaya tertusuk lagi dan lagi. Di dadanya kini berdesir sesuatu yang entah apa.

”Aku tahu aku cuma pengamen jalanan yang nggak punya apa-apa. Yang hidup
nya terlunta-lunta. Yang lusuh dan jauh dari bau uang. Tapi aku sungguh mencintaimu. Aku tidak pernah seyakin ini. Entah apa yang sekarang harus aku lakukan.”

Kanaya terdiam lama.

”Tidak masalah. Aku juga mencintaimu.”

Kanaya tersenyum. Pemuda itu juga. Mereka tersenyum bersama.

Pada suatu sore di sebuah jalan. Dua orang asing yang tak lagi asing bergandengan tangan.

Tidak pernah ada kebetulan.

Kusimpan rindu di hati.

Gelisah tak menentu.

Berawal dari kita bertemu.

Kau akan kujaga.

Kuingin engkau mengerti.

Hanya padamu aku bersumpah.

Kau akan kujaga sampai mati.

090212

yang dicetak miring adalah lirik lagu Punk Rock Jalanan

Dia, yang Jauh

Ada yang ingin kau peluk selain bau bantal, boneka beruang dan kesendirian. Tapi alamat kehadiran terlalu mewah untuk yang terlanjur berikatan dengan kehilangan-kehilangan. Kau urut-urut waktu, dan detik-detik menjadi semacam jarak yang panjang untuk ingatan. ”Yang paling jauh adalah masa lalu” semacam mantra, yang kau ulang-ulang tanpa bosan.

Tapi masih saja kau ingin menarik waktu, membuat keonaran-keonaran agar dia menoleh ke belakang. Di sana kau sudah siap melambai-lambaikan tangan. ”Hai tolong kau ulang pada bagian ini. Ada yang perlu dihapus, ada yang perlu diganti, ada yang perlu diperbaiki.”

Lalu kau menjumpai ribuan adegan tangis dan beberapa keping tawa yang setengah-setengah. Ternyata masa lalu adalah airmata dilahirkan dan berkembang menjadi lautan.

Dan kau tak lagi ingin tenggelam

070211

… … …

Detik-detik yang kukumpulkan dari kediaman adalah intan yang selalu kau jauhkan.

Kegaduhan yang tak rela kau tanggalkan kini menjelma bentuk nyata.

Kemenyerahan yang bukan kamu sebenarnya.

Dan seperti lupa yang sedang merangkul kepalamu dan kepalaku, kini kita sama-sama mengangkat kaki dan pergi.

Tidak pernah kembali.

040212