Cerpen : Bingkisan Hitam

Bentuknya hati, warnanya hitam. Gelap dan pekat sekali. Hitam yang sempurna. Dibagian tengahnya ada seuntai tali pita berwarna merah. Bingkisan ini harus sampai padamu, entah dengan cara apa. Mungkin akan kusuruh anak kecil berambut kuncung yang biasa bermain di bawah pohon mangga seberang rumahku mengantarkannya. Kuberi imbalan uang lima ribu perak baru yang cuma disentuh oleh tangan mbak-mbak pekerja bank yang cantik dan tanganku.

Maka anak kecil itu akan dengan segera mengayuh sepedanya ke arah barat, masuk ke kampung RW I lalu belok kiri masuk gang I, gang rumahmu. Di rumah dengan pagar hijau dan meja Billiard yang terlihat dari luar anak itu akan berhenti, mengetuk pintu dengan sopan, bingkisan terlihat sedikit kusut di tangannya. Lalu kau akan muncul dengan kaos singlet warna putih dan celana selutut. Bertanya bingkisan apa? Dari siapa? Dan anak kecil itu hanya akan tersenyum, mengangkat bahu lalu menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian bergegas pergi melarikan diri dengan sepeda mininya.

Atau bila anak kecil itu malas, bingkisan itu akan dia letakkan di pintu rumahmu. Lalu bergegas pergi. Kau akan kebingungan ketika keluar, membuka pintu, dan mendapati sebuah bingkisan hitam dengan pita merah di lantai rumahmu.

Tapi mengantarkan bingkisan itu melalui seorang anak kecil. Anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan cenderung sembrono. Anak kecil yang tidak tahu seberapa berharganya barang di dalamnya. Membuatku berpikir ulang. Cara ini tidak bisa dilakukan. Lagipula bila bingkisan ini terguncang-guncang mengikuti irama sepeda mereka bisa-bisa sesuatu di dalamnya jadi rusak dan porak poranda.

Maka aku mulai memikirkan cara lain untuk menyampaikan bingkisan ini padamu. Cara yang mudah, tapi aman dan tidak merusak isi di dalamnya. Seketika aku ingat, mereka yang soal keprofesionalan tidak perlu diragukan. Mereka yang disebut tukang pos. Mereka yang tegap dan berseragam. Mereka yang dulu berkeliling dengan sepeda onta. Membawa tas oranye besar berisi puluhan surat. Entah ucapan selamat tahun baru dari bank-bank swasta, entah surat tugas pegawai, surat kantor, surat keluarga, ataupun surat cinta. Yang terakhir jelas membuatku iri. Di jaman serba elektronik, serba instan, serba sms, serba facebook, serba twitter, serba melayang, sangat maya dengan fasilitas serba canggih, surat cinta menjadi sesuatu yang langka. Kini sudah tidak ada lagi pak pos bersepeda onta, mereka telah beralih menggunakan mobil atau sepeda motor.

Lalu aku menuju kantor pos. Lucu sekali rasanya, rumahku dan rumahmu hanya berjarak 1-2 kilometer dan aku menggunakan layanan pos untuk mengirim barang ke rumahmu. Kantor pos itu adalah kantor pos kecil, tapi saat aku kesana pengunjungnya lumayan banyak. Aku menunggu giliran di sebuah kursi kayu panjang. Memangku bingkisan untukmu dan memegangnya erat-erat.

Tiba-tiba aku bimbang. Aku tiba-tiba takut bila prosedur pengiriman barang lewat pos harus membuka bingkisan yang kubawa ini. Ya! Mungkin mereka ingin memastikan bingkisan yang mereka kirim tidak berbahaya. Bukan bom atau senjata api ilegal. Sungguh, bingkisan di pangkuanku ini bukan bom atau senjata api, tapi mereka tidak bisa membukanya. Mereka, petugas-petugas berseragam ini tidak boleh membukanya karena bingkisan ini spesial untukmu. Hanya kamu yang boleh membukanya. Cuma kamu.

Seketika kuurungkan niatku menggunakan jasa tenaga profesional itu, mungkin lain kali saat aku ingin mengirim surat cinta, entah untuk siapa aku akan menggunakan jasa mereka.

Perjalanan pulang dari kantor pos, aku kembali gelisah. Otakku mencari-cari bagaimana menyampaikan bingkisan ini padamu. Sebenarnya aku ingin pergi sendiri ke rumahmu. Diam-diam meletakkannya di pintu. Tapi aku takut bila tetanggamu memergoki, lalu bertanya macam-macam padaku. Apalagi tetangga-tetangga rumahmu sudah sangat mengenal wajahku. Dan ketakutanku berlipat ganda bila kamu yang memergokiku. Aku bisa hangus terbakar sorot matamu. Aku bisa mati tertusuk pedang-pedang dari mulutmu. Dan aku bisa-bisa mati tenggelam dalam aliran tak henti-henti yang kubuat sendiri. Menyeramkan sekali membayangkan itu semua. Cara ini kueliminasi sejak pertama tadi.

Aku gelisah, bingung harus menyampaikan bingkisan ini dengan cara apa lagi. Kepalaku berdenyut-denyut memikirkannya. Kupandangi lagi bingkisan itu. Semakin kupandangi semakin aku ingin kamu menerimanya cepat-cepat. Aku sudah menyiapkannya sejak dua bulan yang lalu. Saat kita berpisah di ujung jalan rumahmu. Kamu pasti akan terkejut bila tau isinya.

Malam ini, di depan jendela kamarku aku memikirkannya lagi. Malam sudah larut, tapi aku tidak bisa terlelap. Dari dalam kamar kupandangi langit malam. Hitam, bintang dan bulan membentuk kesatuan yang harmoni. Apalalagi bulan sedang purnama malam ini. Bentuknya bulat utuh dan cahayanya lebih benderang dari biasanya. Samar-samar aku juga melihat lukisan kelinci di permukaan bulan. Aku mengenalinya dari bentuk dua telinganya. Tapi kenapa ada sebuah titik hitam di bulan? Titik itu kecil awalnya. Lalu membesar…membesar dan membesar seolah menuju bumi. Makin lama. Makin jelas bentuknya. Sebuah kereta kencana. Mengingatkanku pada dongeng Cinderella yang sering kulihat di televisi. Kereta itu ditarik oleh dua kuda hitam, dan bagian belakangnya dilapisi emas. Kereta itu berhenti tepat di jendela kamarku. Melayang-layang di udara. Awalnya aku juga tidak percaya. Kukira aku sedang bermimpi atau berjalan saat tidur. Tapi ketika kucubit lenganku rasanya perih barulah aku yakin kalau ini semua nyata. Dari kursi kemudi, kudapati pria tampan berwajah bule dan berkulit putih. Dia tampan sekali. Tapi aku lebih mencintaimu. Kamu lebih manis dengan kulitmu yang hitam. Aku suka kamu yang manis. Kamu yang tidak macam-macam.

”Selamat malam nona..” sapa si pria tampan itu. Aku takjub dia bisa bicara bahasa manusia. Apalagi bahasa indonesia. Bahasaku.

”Eh em…selamat malam. Kamu ini apa? Ehm maksudku kamu ini siapa?” kataku tanpa berkedip.

”Saya utusan dari langit, sepertinya nona butuh bantuan.”

”Ban…tu..an?” aku berpikir keras bantuan apa yang kuperlukan hingga langit mengirim utusannya untuk membantuku. Hmm? Mencuci pakaian kotorku yang menumpuk, mengerjakan deadline skripsi? Membersihkan rumah? Atau….. Bingkisan itu….ya.. Bingkisan itu. Kenapa aku bisa melupakannya.

”Kau bisa mengantarkan bingkisan?” tanyaku.

”Ya…tentu saja” jawabnya dengan percaya diri.

”Tapi kau tidak boleh sekalipun membuka isi bingkisan itu!”

”Tenang saja nona.”

”Bagaimana aku bisa percaya?” pria tampan itu lalu mengeluarkan secarik kertas berwarna coklat dan sebuah cermin seukuran kepala.

”Ini surat perjanjian dan ini cermin untuk melihat apakah bingkisan ini sampai apa tidak. Silakan tanda tangan.” katanya sambil menyerahkan pena bulu ayam. Aku segera menandatangani surat itu. Lihat, bahkan langitpun membantuku. Akupun segera menyerahkan bingkisan ditanganku pada pria tampan itu.

”Bingkisan ini harus sampai padanya. Kau tahu alamatnya kan?”

”Tentu saja nona, kami selalu tahu semua hal. Anda tenang saja.”

Kereta kencana itupun melesat pergi. Di tanganku kini tergenggam cermin, kulihat wajahku pada cermin itu. Tidak ada. Tidak ada pantulan wajahku. Tapi dari cermin ini aku bisa melihat kereta kencana itu semakin mendekati rumahmu. Beberapa detik kemudian kereta itu sudah mencapai pintu rumahmu. Pria tampan itupun mengetuk pintumu keras-keras.

Kemudian kamu membuka pintu, muncul dengan kaos singlet putih dan kain sarung yang tidak rapi. Wajahmu ingin marah, tapi berubah begitu melihat pria tampan berp
akaian aneh itu beserta kereta kencananya. Kau pasti berpikir kalau kau sedang bermimpi. Tapi kau lalu menepuk pipimu dan merasa sakit. Kau tahu ini bukan mimpi. Lalu kamu ketakutan, kau kira pria tampan ini malaikat maut yang menjemputmu, atau malaikat yang akan menghakimimu. Kamu gemetaran di tempatmu berdiri.

Belum hilang rasa takutmu, pria itu mengeluarkan bingkisan aneh berbentuk hati berwarna hitam, berpita merah. Bingkisan itu dia berikan padamu. Lalu pria tampan itu menaiki kereta kencananya dan melesat pergi ke angkasa. Kamu ternganga, sampai lupa menutup mulutmu.

Dan kau menimang-nimang bingkisan apakah yang sekarang kau pangku itu. Pelan-pelan kau membuka ikatan pita merah itu. Lalu pelan-pelan juga kau buka tutup atasnya. Lalu kamu menemukan sebuah pesan di sana. Secarik kertas dengan gambar hati patah.

”Terima kasih telah menebar luka di jantungku.”

Dari: hati yang terlalu mencintaimu.

”Kanaya” kau serta merta menyebut namaku lalu cepat-cepat membuka lapisan kedua bingkisan itu. Sebuah jantung penuh irisan luka itu mengagetkanmu. Jantung seukuran kepalan tanganku itu berdenyut lemah. Hampir mati. Luka-lukanya tergores dalam. Teramat dalam. Entah bagaimana dia bisa sembuh. Jantung yang begitu menyedihkan itu dengan cepat kau lempar ke lantai seiring dengan entah keterkejutan, entah ketakutanmu.

Sekarang jantung itu semakin menyedihkan. Tergeletak di lantai.

Dan kau berlari ke kamarmu. Naik ke kasurmu dan menutup kepalamu dengan bantal. Kamu berharap ini cuma mimpi. Kalau ini tidak nyata.

Andai kamu tahu aku juga berharap semua yang kamu lakukan padaku cuma mimpi.

Betapa aku berharap kalau saat kamu menghianati cinta tulusku itu cuma mimpi.

Betapa aku berharap kalau semua kebohonganmu itu cuma mimpi.

Betapa aku berharap kalau pelukan dan ciumanmu dengan wanita lain itu mimpi.

Betapa aku berharap kalau luka-luka yang kau tinggalkan di jantung hatiku ini cuma mimpi.

Aku ingin segera bangun bila semua itu cuma mimpi. Aku ingin tetap percaya kalau kamu yang kukenal adalah kamu yang setia dan mencintaiku.

Tapi ini nyata. Luka-luka ini nyata andai kau tahu. Andai kau rasakan sakitnya.

Jantung itu terus berdenyut lemah di sana. Di lantai dan kau tinggalkan. Luka-luka di tubuhnya semakin dalam…semakin dalam…semakin dalam…

250112

Sedang ingin menulis cerita yang abstrak dan sedikit psycho

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s