Flash Fiction : Bidadari

Aku yakin aku pastilah sedang bermimpi saat kudapati seorang perempuan bersayap di depan pintu rumahku. Malam itu aku sedang sendirian di rumah. Ayah dan Ibuku menginap di rumah nenek, sedang kakak perempuanku ada acara dengan teman kerjanya di luar kota. Jadilah aku yang dititahkan sebagai penjaga rumah. Tidak apa-apa. Sendirian di rumah enak juga. Aku menguasai sendiri TV di ruang tengah pada pagi hari, menghancurkan dapur untuk memasak pada siang hari, lalu menyetel playlist keras-keras pada sore hari. Tanpa omelan ibuku. Tanpa ocehan kakak perempuanku yang cerewet.

Malam ini aku berencana mengerjakan beberapa tugas kuliahku lalu tidur lebih cepat. Jam delapan malam mataku sudah terasa berat. Kubersihkan tempat tidurku, kupasang obat nyamuk elektrik beraroma lavender, kuganti cahaya lampu belajar yang benderang dengan cahaya lampu tidur yang redup, lalu kurebahkan diriku di kasur yang empuk. Nyaman sekali.

Aku pastilah bermimpi saat kudengar suara-suara memanggil namaku.

”Kanaya…kanaya…kanaya…”

Suara yang sangat halus dan merdu hingga aku sangsi kalau suara itu berasal dari dunia. Suara itu pastilah suara dari langit. Dan aku sedang bermimpi. Maka suara itu mungkin saja memang berasal dari langit.

”Kanaya…kanaya….kanaya…”

Suara itu semakin keras dan jelas. Aku bangkit menuju ke sumber suara itu, ke arah ruang tamu. Suara itu berasal dari luar rumah.

Aku pastilah sedang bermimpi saat kubuka pintu rumah dan kusaksikan cahaya-cahaya berpendar putih kekuningan dan menyilaukan. Cahaya-cahaya itu berhamburan seperti kunang-kunang. Terurai, terburai dan pelan-pelan membentuk sesosok tubuh. Seorang perempuan bergaun putih dan bersayap sewarna gaunnya kini berdiri di hadapanku. Wajahnya putih berseri dan sungguh cantik. Kulihat kakinya tak menjejak tanah. Inikah yang disebut bidadari?

”Kanaya…” bidadari itu kembali menyebut suaraku.

”Kamu…kamu siapa?” tanyaku dengan kebingungan yang nyata.

”Aku bidadari Elen..” jawabnya lembut.

”Kau mau apa kau kemari? Apa yang kau inginkan dariku?” kataku gelisah. Untuk apa seorang bidadari menemui seorang manusia yang sangat biasa sepertiku? Aku kembali bingung. Gelisah tak henti-henti. Aku baru tenang setelah mengingat kalau semua ini cuma bunga tidurku.

”Aku…aku diutus untuk menyerahkan bingkisan ini untukmu Kanaya.”

”Bingkisan? Bingkisan apa? Dari siapa?” kuamati bingkisan berwarna putih itu.

”Kau pasti akan tahu sendiri setelah membukanya. Tugasku hanya mengantar Kanaya. Sekarang aku harus pergi. Sampai jumpa.” Detik itu juga udara seperti dihujani cahaya-cahaya menyilaukan lagi. Pelan-pelan sosok bidadari itu terurai terbuai menjadi cahaya-cahaya kecil yang lalu hilang tak berbekas.

Aku terbangun dengan kepala sedikit pusing. Mimpi semalam masih kuingat dengan jelas setiap detailnya. Cahaya, bidadari, dan bingkisan putih yang tidak sempat kuketahui isinya karena mimpi itu begitu cepat berakhir.

Aku beranjak dari tempat tidur menuju meja rias. Dan aku begitu terkejut ketika kudapati sebuah bingkisan putih yang sama persis dengan yang ada di mimpiku tergeletak di atas meja rias. Aku yakin sekali itu bingkisan yang kulihat di mimpiku.

Pelan-pelan kubuka tali pengait bingkisan itu. Kuambil isinya. Dan kudapati sebentuk hati berwarna merah merona. Hati yang masih hidup dan berdegup.

Ingatanku terseret pada peristiwa kemarin lusa. Dia, lelaki yang selalu kuragukan cintanya mengatakan padaku satu kalimat yang entah kenapa begitu kuingat,

”Kamu jangan kaget bila seorang bidadari datang mengantar hatiku padamu.”

Sekarang aku tahu. Dia tidak main-main dengan ucapannya.

140212

Terinspirasi dari seseorang yang mengirimiku sms serupa. Aku tunggu bidadarinya ya…hehe


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s