Flash Fiction : Pada Suatu Sore

Pada suatu sore, rintik hujan jatuh di jalanan, di atap gedung-gedung, di atas mobil-mobil mewah, membasahi dedaunan juga manusia-manusia yang tak sempat berteduh. Pengamen itu basah, pengemis berambut kelabu itu basah, mbak-mbak bersepatu high heel itu basah, lelaki berperut buncit itu juga basah. Rintik hujan juga membasahi rambut gadis itu, meski telah berusaha berlari sekencang mungkin untuk mencapai halte bus, tetap saja takdir berkata kalau gadis itu harus bersentuhan dengan hujan. Takdir menentukan bahwa dia harus basah.

Pada suatu sore di halte bus. Seorang gadis berseragam SMA basah kuyup. Gemericik air hujan masih berjatuhan di jalan-jalan. Gadis itu menggigil kedinginan. Duduk sendirian di antara deretan bangku halte yang kosong. Kenapa sore ini sepi sekali? Gadis itu menatap jalanan di depannya sepeda-sepeda dengan pengendara berbaju kelelawar, mobil-mobil dengan tangan-tangan otomatis yang mengelap kaca, pejalan-pejalan yang berpayung warna-warni. Sebuah siulan kecil mengagetkan gadis yang basah kuyup itu. Siulan merdu yang berkompetisi dengan suara rintik hujan. Gadis itu makin menggigil. Bukankah dia sendirian di sana?

Gadis itu segera memasang indera-indera pendengaran lebih teliti lagi. Siulan itu semakin lama semakin mengalunkan nada-nada yang merdu. Dan gadis itu menyukainya. Maka gadis itu berjalan ke sisi kiri halte, memeriksa asal siulan tersebut. Pelan-pelan gadis itu melangkah menuju arah suara. Pelan-pelan siulan itu terdengar makin jelas dan makin keras. Gadis itu terkejut. Ternyata di pojokan halte sana, di belakang bangku halte yang berderet. Tepat di hadapannya. Seorang pemuda beralis tebal sedang tidur terlentang di samping sebuah gitar, tangannya mengalasi kepala, dan mulutnya menyiulkan bebunyian merdu yang tadi ia dengar.

Pada suatu sore di sebuah halte bus, seorang gadis berambut sebahu, berseragam SMA tampak mengamati seorang pemuda berpakaian hitam dan bercelana jeans yang entah sobek atau sengaja disobek di bagian lututnya. Wajah gadis itu begitu heran dan penuh rasa ingin tahu, matanya tetap menatap pemuda yang sedang tidur terlentang sambil menyiulkan bebunyian-bebunyian. Dan, seperti mengerti sedang diamati, pemuda itu membuka mata tiba-tiba. Gadis itu terkejut dan tidak sempat mengantisipasi. Tak sempat mengarahkan matanya kemana-mana. Seperti satu kilatan. Matanya dan mata gadis berseragam SMA itu bertemu. Ada panah yang terlepas dan menusuk.

”Mau apa lo?” kata pemuda itu sambil bangun dari posisi telentangnya. Alis matanya yang lebat dan bola matanya yang hitam pekat menghasilkan tatapan yang tajam dan menusuk.

”Eh…emm…gu..e…gag mau apa-apa.” jawab gadis itu gemetar. Tatapan itu terlalu menusuk matanya. Terlalu menusuk hatinya.

”Kanaya Cirrus Sandikala.” pemuda itu mengeja nama yang tertera pada baju seragam gadis itu.

”Kedua orang tuamu pasti pecinta langit.” lanjut pemuda itu. Untuk kesekian kali gadis itu terkejut. Hanya sedikit orang yang mengerti apa itu cirrus, apa itu sandikala. Dan dia salah satunya. Gadis itu tidak menyangka. Pemuda berpakaian lusuh itu. Dia tahu.

Pada suatu hari di halte bus, dua orang asing dipertemukan oleh takdir. Takdir dari langit. Langit yang kini hanya menyisakan rintik gerimis. Sebuah bus melaju dan berhenti tepat di halte itu. Gadis bernama Kanaya itupun segera masuk, diikuti pemuda berkaos hitam dan berambut acak-acakan dengan sebuah gitar di tangan. Gadis itu memilih tempat di dekat jendela. Tempat favoritnya. Dari jendela itu dia bisa menyaksikan film-film nyata di luar sana. Seorang lelaki berkaki satu yang giat menjajakan koran di seberang sana, lelaki berdasi yang menelpon dengan wajah kesal, ataupun tukang becak yang ketiduran di atas becaknya. Sedangkan pemuda tadi maju ke depan dan mulai memetik gitarnya.

Jreng…jreng…jreng…

Sungguh kumenyesal telah mengenal dia.

Dan aku kecewa telah menyayanginya.

Dan aku tak akan mengulang kedua kalinya.

Suara itu mengalun merdu, mengalihkan gadis bernama Kanaya itu dari film-film di luar jendela. Pandangannya beralih ke arah pemuda di halte tadi yang kini sedang bernyanyi dengan suara yang semerdu siulannya. Dan entah kebetulan, entah takdir. Pemuda itu juga sedang menatap ke arahnya. Kombinasi alis dan bola mata yang menghasilkan tatapan menusuk. Gadis itu tertusuk lagi.

Pada suatu sore, di bus yang sedang melaju kencang. Suara merdu nyanyian terdengar.

Kusimpan rindu di hati.

Gelisah tak menentu.

Berawal dari kita bertemu.

Kau akan kujaga.

Kuingin engkau mengerti betapa kau kucinta.

Hanya padamu, aku bersumpah kau akan kujaga.

Sampai mati.

Pemuda beralis tebal, berambut acak-acakan dan berwajah manis itu terus menyanyi. Suara merdunya melenakan semua yang ada di dalam bus itu. Selain Kanaya, ada mbak-mbak berseragam berwajah lelah, dua anak lelaki berseragam SMP yang sejak tadi mengobrolkan game online, ibu-ibu berjilbab dengan anak perempuannya yang juga berjilbab, seorang kakek dengan tas besar, dan seorang pemuda berbaju putih yang tampak mengikuti nyanyian.

Pada suatu sore, di sebuah jalan Kanaya berteriak

”Jalan Jawa Pak. Kiri”

Bus itu segera menepi. Kanaya melangkah turun tapi menyempatkan matanya memandang pemuda itu. Sekali lagi. Dan sekali lagi entah kebetulan, entah takdir, pandangan mereka bertemu. Sepasang alis yang sempurna, bola mata yang hitam pekat menghasilkan tatapan yang menusuk. Kanaya tertusuk. Untuk kesekian kali. Dengan berat hati gadis itu turun.

Pada suatu sore, di sebuah jalan perumahan. Kanaya berjalan kaki menuju rumahnya. Pakaiannya masih lembab. Rambutnya masih lembab. Dan kepalanya masih di penuhi wajah pemuda tadi.

Jreng…jreng…jreng…

Kuingin tahu siapa namamu.

Kuingin tahu dimana rumahmu.

Walau sampai akhir hanyat ini.

Jalan hidup kita berbeda.

Aku hanyalah seorang punk rock jalanan.

Yang tak punya harta melimpah tuk dirimu sayang.

Sekali lagi Kanaya dikejutkan. Suara merdu itu…Dengan cepat Kanaya menoleh ke belakang dan mendapati pemuda berkaos hitam, berambut acak-acakan sedang memetik gitar dan bernyanyi. Kanaya melangkahkan kakinya ke sebuah bangku di taman perumahan. Pemuda itu mengikutinya. Mereka terdiam. Satu detik. Dua detik. Lima detik. Sepuluh detik.

”Kamu…kenapa kamu mengikutiku?” akhirnya pada detik kelima belas Kanaya memecah kebisuan yang menyelimuti mereka berdua.

”Aku gag tau. Kakiku…seperti ada medan magnet yang menariknya untuk terus mengikutimu.” Pemuda itu menunduk memandangi kakinya yang bersandal jepit, lalu merasa aneh dengan dengannya.

”Bagaimana bisa seperti itu?” Kanaya heran.

”Aku juga tidak mengerti, tapi seperti berat sekali untuk berpisah denganmu. Di halte bus tadi, di tempat kamu berhenti tadi. Diriku seperti tidak mau kehilangan kamu.”

kata pemuda itu sambil menatap Kanaya dengan ekspresi bingung.

”Kenapa? Kenapa begitu?” tanya Kanaya meskipun hatinya juga merasakan yang sama dengan pemuda itu. Berat untuk berpisah dengannya.

”Sudah kubilang aku tidak tahu. Kamu…sejak pertama bertemu di halte tadi, aku merasa telah sangat lama mengenalmu.”

”Tapi kita baru bertemu tadi. Kau tidak mungkin mengenalku sebelumnya.”

”Entahlah, mungkin di kehidupan yang lain aku pernah mengenalmu.”

”Kau percaya ada yang seperti itu?”

”Entahlah!”

”Entahlah!”

”Sepertinya aku mencintaimu.” kata pemuda beralis tebal itu sambil menatap mata Kanaya. Tatapan yang seribu kali lebih menusuk dibandingkan tatapan-tatapan sebelumnya. Kanaya tertusuk lagi dan lagi. Di dadanya kini berdesir sesuatu yang entah apa.

”Aku tahu aku cuma pengamen jalanan yang nggak punya apa-apa. Yang hidup
nya terlunta-lunta. Yang lusuh dan jauh dari bau uang. Tapi aku sungguh mencintaimu. Aku tidak pernah seyakin ini. Entah apa yang sekarang harus aku lakukan.”

Kanaya terdiam lama.

”Tidak masalah. Aku juga mencintaimu.”

Kanaya tersenyum. Pemuda itu juga. Mereka tersenyum bersama.

Pada suatu sore di sebuah jalan. Dua orang asing yang tak lagi asing bergandengan tangan.

Tidak pernah ada kebetulan.

Kusimpan rindu di hati.

Gelisah tak menentu.

Berawal dari kita bertemu.

Kau akan kujaga.

Kuingin engkau mengerti.

Hanya padamu aku bersumpah.

Kau akan kujaga sampai mati.

090212

yang dicetak miring adalah lirik lagu Punk Rock Jalanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s