Kediaman

Karena keramaian-keramaian telah dilahap setan-setan yang keluar dari mulutmu yang manis,

dan kediaman seperti hitungan yang ditakdirkan tidak selesai di ujung mataku.

“Apa kabar?”

Kata yang kugantung tinggi-tinggi di lorong tenggorokanku, tercekat tak pernah kuteruskan.

Padamu,

Cukup kugambarkan mantra-mantra selamat sejahtera di pintu-pintu kemana kau membawai tiap-tiap langkah.

Di tapak-tapak kakimu telah kutempel seribu macam doa-doa yang mengalir tak putus-putus dari dadaku.

Meski yang ku baui tetap saja aroma sunyi.

Meski yang kau dapati tetap saja sepetak sepi.

Bukankah bagi kita sunyi telah menjelma harga mati dan konsekuensi?

Ada yang perlu dihindari dari tiap diri, ada yang perlu dibungkam bila tidak ingin saling menghunus pedang.

Ah! Telinga kiriku mulai susah mendengar bebunyian dan alarm.

Malam-malam ramai yang kurindukan, apa kabar?

040412

Advertisements