“Chi, bagaimana lagi aku hidup bila dunia semakin sepi dan kubenci? Bagaimana lagi aku hidup, Chi? Bila diri sendiri begitu aku benci!” katanya padaku di subuh yang kelu.

“Chi, bagaimana lagi aku hidup bila dunia semakin sepi dan kubenci? Bagaimana lagi aku hidup, Chi? Bila diri sendiri begitu aku benci!” katanya padaku di subuh yang kelu.

Advertisements

Apatis

Malam ini aku sedang tidak ingin bertemu dengan manusia sebenarnya. Kepalaku berat, dan sakit. Dan sepertinya sifat apatis sedang mendominasi diriku dengan sedemikian rupa. Mereka bilang aku tidak berekspresi. Memang. Memang. Memang aku sedang malas. Aku ingin sendirian. Di kamar, mengunci pintu, mematikan lampu, lalu merasakan sakit ini sendiri. Kesepian ini. Lebih baik tidur. Dunia mimpi sepertinya lebih menyenangkan. Dunia nyata? Bahkan aku tidak tahu alasanku untuk hidup. Alasanku untuk melakukan semua ini. Kuliah, bertemu orang-orang, (pura-pura) tersenyum dan bahagia. Hidup itu, harus bagaimana? Ah! Sudah kubilang tadi, aku sedang apatis. Aku sedang berseteru dan mempertanyakan norma-norma misalnya kenapa kita harus menyapa saat bertemu, kenapa kita harus tersenyum pada semua orang saat kita tidak ingin, kenapa kita harus bicara basa-basi padahal kita ingin diam.
Aku makin sering bertanya, bagaimana menjadi manusia? Bagaimana harusnya? Bagaimana kita harus hidup? Hidup seperti apa?
Bahkan aku akhir-akhir ini seperti kehilangan emosi. Semua hal tidak mempengaruhi emosiku. Aku tidak peduli pada kata orang, aku tidak marah pada orang-orang yang mefitnahku. Aku tidak sedih oleh apapun. Aku curiga apakah saraf -sarafku tidak mampu lagi menghantarkan emosi ke bagian amygdala di otakku?

aku tidak ingin pergi. Bolehkah aku tidak datang sekali ini? Kepalaku sakit dan rasanya aku butuh lebih dari analgesik.

Diri

Apakah yang lebih gelap dari ketidakmampuan mengenal nama-nama kita di dada?
Dari sekian perjalanan masih saja kita meraba-raba muka, bagaimana masing-masing?
Rupa-rupa kita yang kering apakah semakin asing?
Alamat-alamat yang kita cari sudahkah kita temui?
Hitungan-hitungan tampaknya makin samar.
Langit menggelap di luar.
Lampu yang telah padam, dapatkah dihidupkan?

Gresik, 12 Mei 2012

Mata yang Terbakar

Di ujung jalan itu matamu lagi-lagi terbakar.
Apa yang menjadi masa lalu memang pantas disampahkan.
Tapi ingatan selalu saja begitu kejam menebarkan asin pada luka-luka yang menganga.
Dan kau tidak bisa menutup mata pada apa yang muncul di kepala.
Maka wajahnya menjadi dua muka.
Satu yang kau rindu sampai gila, satu lagi yang kau benci sampai mati.
Maka suaranya menjadi dua sisi, satu yang ingin kau dengar saat dia bernyanyi, satu lagi yang ingin kau caci dengan nada tinggi.Memang kita pantasnya memelihara keasingan demi keasingan.
Memang kita harus memberi kilometer yang ribuan pada ingatan.
Memang…

070512