[FF Ninelights] Percakapan Musik

“Kenapa mereka menyalahkanku? Bukan aku yang melakukannya!” suara berirama dangdut terdengar putus asa.

Suasana gegap gempita. Tangan-tangan melambai ke atas. Badan-badan bergoyang sempoyongan. Bau menyengat minuman keras. Penyanyi berpakaian seksi.

“Mereka begitu karenamu. Kaulah pemicunya!” tuduh suara merdu beraliran pop.

Suasana makin panas. Akal-akal mulai hilang. Saweran-saweran. Goyangan-goyangan tak terkendali. Sebuah tangan mengenai tangan lain. Tangan lain kesakitan tidak terima. Saling hajar tak dapat lagi dihindarkan.

“Dasar favorit kalangan bawah!” sebuah suara beraliran rock menyahut. Suara berirama dangdut pun makin putus asa.

* * *


“Cinta satu malam oh indahnya. Cinta satu malam buatku melayang….” sambil menyanyi dan bersiul-siul si Madun mengayuh becaknya. Keriangan nampak benar di wajahnya.

“Sekian lama aku menunggu, untuk kedatanganmu. Bukankah engkau telah berjanji…..” Inah bergoyang-goyang. Tangannya santai mengepel lantai, padahal pakaian-pakaian majikannya sudah menggunung dan merindukan bau sabun.

“Hahaaa…..lihat! kau hanya milik tukang becak dan pembantu. Favorit kalangan bawah. Lihatlah diriku, penikmatku adalah kalangan pejabat dan konglomerat,” kata suara bernada jazz angkuh.

“Itu tidak benar! Aku milik siapa saja yang mencintaiku!” balas suara berirama dangdut membela diri.

* * *

Dia pejabat kaya yang dikagumi karena wibawa dan sikap rendah hatinya. Setelah kelelahan bertugas seharian, dia ingin menghibur dirinya. DVD itu sudah siap memainkan musik kesukaannya.

“Kita buktikan apa yang akan dimainkan olehnya,” tantang suara bernada jazz.

DVD itupun diputar. Mengalirlah suara merdu mendayu-dayu milik Ike Nurjannah.

Bawalah diriku oh sayang. Kuingin selalu bersamamu. Tak sanggup lagi diri ini….

Suara beirama dangdut tersenyum. Tidak ada kalangan bawah atau atas. Musik adalah milik siapapun yang mencintainya.


jumlah kata 250 kata

FF ini diikutkan dalam lomba

Advertisements

DuapuluhdelapanJuni Duapuluhempatkali

Mungkin kau ragu bagaimana fasihnya aku mengepaknya.
Dua puluh delapan Juni kau ulang dua puluh empat kali.
Hitam dan gelap, aku bahkan menandainya sebagai sebuah tragedi.
Apa kau mengerti?

Kau percaya?
Tidak akan ada lagi senyum yang senantiasa rekah tersebab telah
kau tukar dengan kotak pandora.
Tidak akan ada lagi lengan yang menjadi pagar bambu di
sekelilingmu, tersebab telah kau patahkan mereka sedemikian
liarnya.
Tidak akan ada lagi kata-kata, tersebab telah kau rampas semua
maknanya.

Dan kalau kau tanya,
Tidak akan ada lagi hati untuk dikuras, tersebab betapa luka telah
mengeras.
Hitungan-hitungan, tentu saja haram dilupakan.
Tapi ucapan selamat alangkah bijak pabila dialpakan.

Karena tidak akan ada,

Selamat mengulang hitungan-hitungan.
Dua puluh delapan Juni, dua puluh empat kali.

Lagi.

Tidak akan terbit di sisimu.

Surabaya, 28 Juni 2012
Satu tanggal yang bikin kehilangan napas.

Tersebab Arah

Berton-ton kenangan sudah duduk manis dan siap diangkut sewaktu-waktu. Kapan perjalanan ini akan dimulai?
Telah kau siapkan kepalamu di atas meja, siap mencatat peristiwa, atau dipenggal kapan saja!
Kini kau sadar waktu itu golok yang melibas dengan seksama, apa saja yang diam tentu saja!

Sudah betapa larut,
Kenangan yang mengkerut,
Telah begitu surut,

Ah!
Tersebab,
Tersebab!
Tersebab arah hati telah berganti,
Betapa engkau mengerling cerah kini.

Surabaya, 27 Juni 2012

Setumpuk Puisi yang Hijrah

Setumpuk puisi telah lama hijrah dari matamu.
Pelan-pelan lalu menetap pada kertas waktu.
Seusang-usangnya. Selawas-lawasnya.
Bertumpuk-tumpuk lainnya kini masih mengantri untuk ditulisi.

Sedang malam kian giat mencatat cacat-cacat.
Kisah yang musnah kemudian menjelma perih akibat.

Mungkin nanti, airmata akan berpindah mengukiri diri pada dinding basah.
Mungkin nanti, benang kusut mengurai diri menjadi sajak yang ribut.

Prosa-prosa bercerita tentang masa, lalu masa.
Tentang duka, kemudian duka.
Selanjutnya lara dan lara.

Ah!
Tersebab engkau, aku makin mahir menulis kesedihan.

Gresik, 17 Juni 2012

Asap

Sore tadi kucium asap-asap yang menyengat, tapi bukan kepul kopi.
Mungkin kau lupa cara meracik hangat, sibuk meninggikan diri.

Lihat….lihat….!!
Pahit kau gantung sempurna di lidahku dan susah pergi.

“Sebegitu mahal kabar atau kesombongan?” aku tanyakan.
“Sebegitu lupa atau ego semata?”

Asap-asap makin menjangkiti.
Secangkir kopi kau ukiri gambar-gambar dan senyum kemenangan diri.
Kau tidak mengerti!
Yang terlihat cuma ampas dan semburan api.
Api!

Gresik, 16 Juni 2012

Gantungkanlah harapan, kebahagiaan, kepercayaan atau apapun pada manusia, maka bersiap-siaplah untuk kecewa.