Setumpuk Puisi yang Hijrah

Setumpuk puisi telah lama hijrah dari matamu.
Pelan-pelan lalu menetap pada kertas waktu.
Seusang-usangnya. Selawas-lawasnya.
Bertumpuk-tumpuk lainnya kini masih mengantri untuk ditulisi.

Sedang malam kian giat mencatat cacat-cacat.
Kisah yang musnah kemudian menjelma perih akibat.

Mungkin nanti, airmata akan berpindah mengukiri diri pada dinding basah.
Mungkin nanti, benang kusut mengurai diri menjadi sajak yang ribut.

Prosa-prosa bercerita tentang masa, lalu masa.
Tentang duka, kemudian duka.
Selanjutnya lara dan lara.

Ah!
Tersebab engkau, aku makin mahir menulis kesedihan.

Gresik, 17 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s