Mata Kapakmu

Seperti sebelum-sebelumnya kau selalu rajin menebang dan betapa aku giat menanam.
Kapakmu telah menjadi senjata yang melumpuhkan ingatan. Yang memenggal kejadian-kejadian menjadi keping yang berserakan. Aku adalah jati yang kau libas kepalanya, yang kau cerai beraikan kulitnya.
Mata kapakmu menjadi terlalu kejam dan tidak peduli.
Terima kasih.

Oktober, 2012

Dari Al kepada Kanaya

“Kamu yang meruntuhkan jembatan itu,
Al. Jembatan yang dengan sekuat tenaga
aku bangun,” percakapan telepon ini
sepertinya menjadi terlalu suram untuk
Kanaya. Awalnya aku hanya ingin
menelponnya dengan satu alasan, rindu.
Rindu lah yang menjadi alibiku untuk
nekat menelpon Kanaya, walaupun aku
tahu itu tidak boleh kulakukan mengingat
apa yang telah terjadi. Tapi, rindu….Ah!
aku terlalu merindukan Kanaya. Aku
merindukan suaranya, aku merindukan
kata-katanya, aku merindukan kata ‘heh?’
kalau dia tidak mendengar atau tidak
mengerti, juga kata ‘hmm…’ yang keluar
bila dia sedang malas. Rindu pun akhirnya
menjadi pembenaran atas apa yang
seharusnya tidak aku lakukan.
“Kamu harus membangun kembali
jembatan itu Kanaya. Kamu harus
membangun jembatan baru yang tidak
menujuku,”
“Sangat mudah mengatakannya, Al. Tapi
bagaimana bisa? Bagaimana aku bisa, Al?”
“Kamu pasti bisa melakukannya Kanaya,”
“Jangan memaksaku Al! Kamu tidak
berhak! Kamu yang membuat semua ini
menjadi begini. Kamu yang telah
menghancurkannya Al,”
“Maaf Kanaya. Aku seharusnya tidak
menelponmu jika ini hanya menambah
kesuramanmu,”
“…..”
“Maaf Kanaya…aku akan segera menutup
telepon bodoh ini,” Kanaya diam saja.
Aku hafal benar kediamannya berarti
tangisan. Aku menunggu untuk Kanaya
sekedar mengatakan ‘iya’ atau ‘sampai
jumpa’ tapi tidak juga kudengar kata-kata
dari telepon genggamku.
“Aku berjanji aku tidak akan menelponmu
lagi Kanaya. Ini yang terakhir. Aku minta
maaf. Selamat tinggal Kanaya,” aku
menunggu Kanaya merespon tapi dia
tetap diam. Hampir saja kuakhiri
sambungan ini tapi kemudian aku
mendengar suara Kanaya.
“Al,” suara Kanaya terdengar berat.
“Al, sering-sering lah menelponku. Aku
merindukanmu Al. Kumohon sering-
sering lah menelpon,” aku juga
merindukan Kanaya, tetapi telepon-
telepon dariku hanya akan semakin
melemahkan Kanaya. Kanaya harus
belajar menghilangkanku dari hidupnya.
“Aku tidak bisa Kanaya, maaf. Semua
sudah berbeda. Aku tidak bisa
menelponmu lagi seperti dulu. Aku tidak
bisa tengah malam berlama-lama
berbicara denganmu lagi. Ada dia di
sampingku sekarang. Ada dia yang selalu
bersamaku dan menemani hari-hariku.
Maaf Kanaya. Maaf semua harus menjadi
seperti ini.”
Orang bilang cinta tidak harus memiliki.
Orang bilang dua orang bisa saja
ditakdirkan saling mencintai tapi tidak
ditakdirkan untuk hidup bersama. Semua
itu benar. Aku dan Kanaya saling
mencintai, tapi takdir menuliskan bahwa
aku harus menikah dengan orang lain.
Hanya waktu yang akan membuktikan
apakah cinta seperti ini akan bertahan,
sedang di sisi lain aku harus mencintai
wanita yang telah kunikahi. Entah! aku
tidak tahu bagaimana ini akan berakhir.
Tuhan Maha Membolak-balikkan hati.

211012

Thank’s God, You Saved Him

Kemarin itu adalah hari yang mendebarkan buat kelangsungan hidup kucing gw yang paling tersayang di keluarga gw. Namanya Mollynawati Sinaga. Meskipun make nama wati kucing gue itu asli jantan, dan meskipun pake nama belakang Sinaga, dia gag ada darah Batak sama sekali (I’m not really sure about it).
Pas lagi di kampus kakak gw ngirim sms kalo Si Molly atit. Gue kira sakit biasa, muntah-muntah kayak biasanya. Tapi ternyata engga. Ternyata Molly ‘dingklang’ alias pincang. Something wrong with one of his foot. We don’t know why.
Gw sebenernya khawatir juga dengan kondisi Molly, mengingat itu kucing gw satu-satunya yang paling (sok) manis. Tapi kegiatan kuliah ngebuat gue sejenak melupakan doi. Sampe akhirnya pas gw pulang ke rumah. Pertama kali yang gw cari adalah Molly. Gw tanya kakak gw dimanakah Molly berada. Kakak gw bilang Molly lagi mendekam di bunga-bunga di belakang rumah gw. Gw tanpa pikir panjang langsung menjelajahi seisi taman bunga untuk menemui Molly. Tapi gag ada. Molly gone. Ndak ada dimana-mana. Sampe kakak gw akhirnya ikutan ke belakang dan menunjukkan ke gw posisi tepatnya Molly berada. Dan ternyata, ini sangat mengejutkan dan membuat gw panik. Molly berada di antara dua tembok rumah gw sama rumah tetangga gw. Celahnya sempit sekali. Pas perfecly sama ukuran badannya Molly. Dan gue lihat di belakang doi (Molly membelakangi pintu keluar) ada sebuah genteng. Itu berarti Molly gag bisa jalan mundur ke belakang karena genteng itu membelakanginya. Gw juga gag tau gmn sampe Molly yang kakinya terluka bisa sampe di lorong sempit nan membahayakan itu. Dan gw juga gag ngerti bagaimana genteng itu bisa ada di belakang Molly. Dan kakak gw yang katanya care sama Molly malah tenang-tenang aja dan nganggep Molly fine dan cuma pengen menyendiri. Gw, ngelihat posisi Molly yang seperti itu langsung panik. Gw langsung teriak ke kakak gw. “Deer, cariin sapu! Kita musti mengeluarkan Molly.” Kakak gw pun masih dengan santainya ngasih sapu ke gw. Gw coba menggapai genteng di belakang Molly, tapi kurang panjang. Masih jauh. Gw udah mikir macem-macem. “Deer, Molly gimana. Dia gag bisa keluar deer.” Gw takut kalo Molly bakal terjebak di sana selamanya dan gag bisa keluar lagi. Gw langsung nangis sesegukan karena kekhawatiran gw. Kakak gw yang tadinya tenang-tenang aja ikutan mewek juga.

Gw dah mikir macem-macem mulai manggil sodara untuk nyelametin Molly meskipun caranya dengan membongkar tembok rumah. Gue juga udah mikir mau manggil panggilan darurat. Nomer yang gw ingat 911. Sampe akhirnya gw nyoba ke gudang dan nyari sesuatu yang panjang yang bisa ngejangkau ke sana. Beruntung gw nemu kayu yang panjang dan beruntung pula di kayu itu ada paku yang bisa digunakan untuk menyeret genteng itu keluar. Setelah genteng bisa dikeluarin, masalah berikutnya adalah bisakah Molly yang terjepit dan kakinya sedang terluka itu berjalan mundur keluar. Gue coba manggil-manggil nama dia “Molly….Molly….ayo keluar Mol.” sambil airmata dengan gemulai berlinangan dari mata gue. Molly tidak juga beranjak. Cuma mengeang-ngeong lemah. Sampai pada suatu titik akhirnya Molly bangkit dan melangkahkan kakinya mundur perlahan. Gw ma kakak gw cuma bisa nyemangatin Molly dari luar lorong. “Ayoo Mol….ayo keluar Mol.” di luar kakak gw udah nyiapin makanan buat Molly. Sampai akhirnya Molly dengan terpincang-pincang berhasil keluar dari lorong laknat itu dan langsung gw gendong ke tempat yang nyaman dan mempersilakan doi menikmati santapan yang dihidangkan kakak gw.
Beruntung sekali, kucing kesayangan keluarga gw itu selamat. Gue gag mbayangin kalo sampe Molly gag bisa keluar.