Dari Al kepada Kanaya

“Kamu yang meruntuhkan jembatan itu,
Al. Jembatan yang dengan sekuat tenaga
aku bangun,” percakapan telepon ini
sepertinya menjadi terlalu suram untuk
Kanaya. Awalnya aku hanya ingin
menelponnya dengan satu alasan, rindu.
Rindu lah yang menjadi alibiku untuk
nekat menelpon Kanaya, walaupun aku
tahu itu tidak boleh kulakukan mengingat
apa yang telah terjadi. Tapi, rindu….Ah!
aku terlalu merindukan Kanaya. Aku
merindukan suaranya, aku merindukan
kata-katanya, aku merindukan kata ‘heh?’
kalau dia tidak mendengar atau tidak
mengerti, juga kata ‘hmm…’ yang keluar
bila dia sedang malas. Rindu pun akhirnya
menjadi pembenaran atas apa yang
seharusnya tidak aku lakukan.
“Kamu harus membangun kembali
jembatan itu Kanaya. Kamu harus
membangun jembatan baru yang tidak
menujuku,”
“Sangat mudah mengatakannya, Al. Tapi
bagaimana bisa? Bagaimana aku bisa, Al?”
“Kamu pasti bisa melakukannya Kanaya,”
“Jangan memaksaku Al! Kamu tidak
berhak! Kamu yang membuat semua ini
menjadi begini. Kamu yang telah
menghancurkannya Al,”
“Maaf Kanaya. Aku seharusnya tidak
menelponmu jika ini hanya menambah
kesuramanmu,”
“…..”
“Maaf Kanaya…aku akan segera menutup
telepon bodoh ini,” Kanaya diam saja.
Aku hafal benar kediamannya berarti
tangisan. Aku menunggu untuk Kanaya
sekedar mengatakan ‘iya’ atau ‘sampai
jumpa’ tapi tidak juga kudengar kata-kata
dari telepon genggamku.
“Aku berjanji aku tidak akan menelponmu
lagi Kanaya. Ini yang terakhir. Aku minta
maaf. Selamat tinggal Kanaya,” aku
menunggu Kanaya merespon tapi dia
tetap diam. Hampir saja kuakhiri
sambungan ini tapi kemudian aku
mendengar suara Kanaya.
“Al,” suara Kanaya terdengar berat.
“Al, sering-sering lah menelponku. Aku
merindukanmu Al. Kumohon sering-
sering lah menelpon,” aku juga
merindukan Kanaya, tetapi telepon-
telepon dariku hanya akan semakin
melemahkan Kanaya. Kanaya harus
belajar menghilangkanku dari hidupnya.
“Aku tidak bisa Kanaya, maaf. Semua
sudah berbeda. Aku tidak bisa
menelponmu lagi seperti dulu. Aku tidak
bisa tengah malam berlama-lama
berbicara denganmu lagi. Ada dia di
sampingku sekarang. Ada dia yang selalu
bersamaku dan menemani hari-hariku.
Maaf Kanaya. Maaf semua harus menjadi
seperti ini.”
Orang bilang cinta tidak harus memiliki.
Orang bilang dua orang bisa saja
ditakdirkan saling mencintai tapi tidak
ditakdirkan untuk hidup bersama. Semua
itu benar. Aku dan Kanaya saling
mencintai, tapi takdir menuliskan bahwa
aku harus menikah dengan orang lain.
Hanya waktu yang akan membuktikan
apakah cinta seperti ini akan bertahan,
sedang di sisi lain aku harus mencintai
wanita yang telah kunikahi. Entah! aku
tidak tahu bagaimana ini akan berakhir.
Tuhan Maha Membolak-balikkan hati.

211012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s