Orang Asing!

Kamu tidak tahu, setelah hari-hari panjang perdebatan kita tentang cinta, takdir, dan kesalahan. Setelah kita menarik diri kira masing-masing pada ribuan kilometer jarak. Setelah kita tidak pernah menatap dengan pandangan yang selalu kita simpan dalam ingatan. Ketika kita saling merindukan tetapi pertemuan telah menjadi haram. Lalu, setelah ingatan dengan kejam terampas dan terhempas dari isi kepala. Setelah kita tiba-tiba menjadi orang asing.

Ya…saat itu aku selalu membayangkan. Bagaimana bila dua orang yang sudah merasa asing ini tiba-tiba dipertemukan. Bukan di jalan. Karena tidak akan terjadi apa-apa ketika kita sama-sama melaju dan tidak saling menyadari keberadaan. Yang aku bayangkan adalah ketika pada suatu ruang kita dipertemukan, ruang dimana kita cukup dekat untuk menatap dan cukup waktu untuk saling melihat. Mungkin tangan Tuhan tiba-tiba mempertemukan kita di toko baju favoritku, atau mungkin di toko dengan akhiran ‘mart’, di sebuah warung, atau di rumah salah seorang sahabat kita. Aku selalu penasaran, dengan apa yang akan terjadi? Apakah kita akan saling diam? Berpura-pura tidak saling mengenal dan menjadi dua orang asing yang sebenarnya? Atau, pada skenario berikutnya, mungkin kau menyapa, mengajakku bicara, menggodaku seperti yang kau lakukan dulu. Tapi mungkin aku hanya akan diam, pura-pura tidak mengenalmu, mengabaikanmu. Pada skenario yang lain mungkin kita akan saling bicara seperti dulu, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Lalu kita tertawa dan saling menepuk punggung, melempar senyum, lalu mencari segelas minuman untuk meneruskan obrolan. Begitukah? Aku tidak begitu yakin. Mungkin aku akan (me)lari(kan) (diri) darimu.

Kau tahu? Sebenarnya, aku kadang heran sendiri, bagaimana orang yang semula asing menjadi dekat. Atau, bagaimana orang yang begitu dekat menjadi asing. Tapi itu terjadi. Kamu yang semula asing, menjadi sangat berarti sebelum akhirnya menjadi seorang yang kembali asing. Ya….Orang datang, orang pergi. Memiliki, dan kehilangan.

Dan setelah semua ini, aku tahu, aku memang memilih terus berlari dari kamu. Mengharamkan pertemuan dengan alasan yang tak bisa kujelaskan. Tapi kamu akan baik-baik saja. Kamu akan bahagia. Dan aku akan ikut berbahagia dengan kebahagiaanmu. Orang asing ini akan selalu bahagia dengan setiap kembang senyummu.

Satu-satunya yang harus kamu lakukan adalah berbahagia.
Itu saja.

November (rain), 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s