Lalu Saya Tahu

Hari ini saya tahu, tiap orang punya mekanisme ego. Kadar ke’aku’an yang tinggi dan menetap pada tiap-tiap diri seseorang. Bahwa apa yang di mata kita benar, kadang menjadi tidak benar di mata orang lain. Bahwa terkadang ke’aku’an kita bergesekan dengan ke’aku’an orang lain. Dan dua permukaan keras yang saling bergesekan kemungkinan besar menimbulkan lecet atau baret. Bahkan dua batu yang bergesekan mampu menyulut api.

Dan kadang melempar dan memecahkan benda-benda menjadi sarana yang ampuh untuk memadamkan api.

Mendung yang Sebentar

Hari ini mendung cuma menengok.
Setengokan saja. Pura-pura peduli.
Seperti mantan pacar kita.
Atau mungkin dia terburu-buru.
Tapi mau kemana?

Mungkin kali lain mendung singgah.
Lebih lama.
Mungkin bisa kita tawarkan duduk dulu,
lalu minum teh, atau kopi, atau capucinno saja?
Lalu kita tahan dia lebih lama.
Dengan alasan apa saja.
Seperti seorang pecinta yang enggan berpisah dengan kekasihnya.
“Jangan pergi dulu, aku masih rindu.”
Terlalu klise? Biarlah.
Yang penting mendung tidak cepat-cepat pergi lagi.
Rindu memang. Rindu sekali.
Rindu ketenangan itu.
Keteduhan itu.

Continue reading

Kami (tidak) Sabar

Kamu harusnya datang siang ini, cuaca begitu tidak ramah. Harusnya kau datang.

Tapi kamu tidak juga datang. Semakin banyak yang menunggu. Beberapa kepala mereka kulihat mendidih tapi kamu tidak bisa dipaksa, ada otoritas yang tidak terbantahkan mengatur tiap detail kedatangan dan kepergian. Semuanya. Termasuk kamu.

Kau pasti tahu, peluh itu berkembang sejahtera sekali. Kelak cuaca juga yang menguapkan, sepertinya.

Aku ingin menjadi orang kaya, lalu memasang AC di kepalaku.
Orang kaya tenang-tenang saja.
Orang miskin sudah biasa.
Orang sedang-sedang seperti aku ini yang menggeliat-geliat penuh serapah.

Kau belum datang. Kau terlambat lagi. Kami (tidak) sabar menunggu.

HUJAN

image