Can you read this, Dad?

Somehow I suddenly crying when I saw your face dad. Your face in the silent picture of course. I remember you, then I think it’s too fast. It’s too fast for you to go. I miss you, Dad. I miss your joke, your voice, your angryness, your word. You have to fix my watch Dad. It was broken, and I can’t fix it by my self. You have to keep our shop Dad. Fix everything broken. You have to drive our car Dad, noone can drive that car in home except you. You have to came to my ‘Sumpah Apoteker’. But it’s okay, Dad. Mom, sister and I have to live our life without you around Dad. It’s okay. We will try to stand strongly. We will always pray for you. We miss you always.

Advertisements

Apa kabar, peri(h)?

“Apa kabar, peri pemetik airmata?
Berapa kantong airmata yang telah lunas kau beli.
Bahagia kan sekarang?
Aku bahagia atas kebahagiaanmu, klise bukan?” aku tanya pada sekian kilometer jalan yang kita tempuh masing-masing.

“Tertawa sambil menangis, tersenyum sambil merindu, berlari sambil menghapus. Kamu pasti tahu?” itu jawabanmu, dan aku ragu.

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu kamu bahagia. Sudah. Kamu harus bahagia. Titik.”

Sudahkah kau lihat di seberang, ketulusan, peri(h)?

111212

Kepada Ayah

Aku kian rajin bertanya-tanya, Ayah. Arah mana yang akan menemukan kepercayaan pada kepergian engkau. Orang-orang menangis di luar. Mata ibu bengkak. Mata kakak sembab. Airmata seperti gorengan yang laris manis. Kenapa mereka menangis Ayah? sedang engkau tidak kemana-kemana. Mereka mengira Ayah sudah pergi. Aku tidak. Ayah masih di sini. Aku tahu.

Orang-orang mengepak baju Ayah, kopyah Ayah, sarung Ayah, celana Ayah. Aku bilang, biarkan. Biarkan benda-benda itu mewakili keberadaan Ayah di sini. Biarkan, aku bilang.

Beras berkilo-kilo, Gula berkilo-kilo, uang koin. Perlambang apa Ayah?

Lalu hari-hari berlalu dengan menggandeng doa Ayah. Yang tak putus mengalir dari mulut aku, dari mulut Ibu, dari mulut kakak, dari mulut mereka yang menyayangimu Ayah. Doa, bukankah itu satu-satunya yang membuatmu tidak lapar, dan merasa dingin di sana Ayah?

Aku tahu, sekarang saat aku merindukan, aku hanya bisa mengulang-ulang wajah Ayah di kepala, mengulang-ulang suara ayah, melihat ayah diam di gambar, lalu melihat pesan-pesan Ayah yang tersisa.

Aku sudah banyak belajar menerima kehilangan, Ayah. MilikNya lah segala yang ada di langit dan di bumi. KepadaNya lah semua kembali. Yang paling melegakan adalah Ayah memilih(atau dipilihkan) waktu yang tepat.  Ayah pasti bahagia di sana.

Tidak ada kekuatan yang menandingi kekuatanNya.

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Kerelaanmu menerima segala tiba,

Tak kutahu setinggi itu atas debu.

Dan duka maha tuan bertahta.

(Chairil Anwar)

Image