Apa kabar, peri(h)?

“Apa kabar, peri pemetik airmata?
Berapa kantong airmata yang telah lunas kau beli.
Bahagia kan sekarang?
Aku bahagia atas kebahagiaanmu, klise bukan?” aku tanya pada sekian kilometer jalan yang kita tempuh masing-masing.

“Tertawa sambil menangis, tersenyum sambil merindu, berlari sambil menghapus. Kamu pasti tahu?” itu jawabanmu, dan aku ragu.

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu kamu bahagia. Sudah. Kamu harus bahagia. Titik.”

Sudahkah kau lihat di seberang, ketulusan, peri(h)?

111212

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s