Titik

“Sekarang kamu tahu, dia bukan sekedar patung batu.”

Kau kira dia akan selamanya di sana. Terdiam pada titik tempatnya. Titik yang kau yakin benar paling aman. Tidak terlalu dekat dan menjerat, namun tidak pula terlalu jauh hingga masih bisa kau gapai dengan ujung tanganmu. Tapi tidak, dia makhluk berkehendak. Pada suatu moment akhirnya dia memutuskan untuk beranjak dari titik stagnan yang kau tetapkan. Ada perasaan sedikit menyesal yang membayang di dirimu. Menyesal tidak menariknya lebih dekat padamu. Tetapi tidak apa-apa. Itu namanya pilihan. Pilihannya untuk berhenti dan menyerah. Pilihannya untuk pergi dan meninggalkan. Konon, dari sini dirimu tahu, seberapa kadar cinta yang dia punya. Dan kau menyimpulkan. Tidak ada. Bagimu ini berarti hanya perasaan suka, karena mereka yang mencintaimu, akan selalu bertahan di sisimu. Selamanya.

Image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s