Low Creativity

Aku merasa semakin kehilangan kemampuan menulisku. Tidak ada lagi cerita yang tercipta. Tidak ada puisi lagi. I wonder, ketidakmampuan ini apakah berkorelasi dengan hidup yang sekarang datar saja. Aku yang telah menghilangkan semua episode drama menye-menye yang dulu pernah begitu derasnya mengalirkan airmata. Apa karena semua aliran ini telah sampai muaranya. Telaga yang tenang tanpa terganggu ternyata mampu melumpuhkan kreativitas menulisku.

Aku sudah  beberapa kali mencoba menuliskan apa yang bercokol di kepalaku. Ide-ide yang kukira bisa dituliskan dan direalisasikan menjadi sebuah cerita, sebuah puisi, atau tulisan apa saja. Tapi nihil. Cerita-cerita itu selalu berhenti di tengah jalan. Puisi-puisi itu menjadi menjemukan. Aku juga mencoba merangsang saraf-saraf kreativitasku dengan membaca sejumlah buku favoritku. Namun, semua itu berakhir dengan rasa yang terlalu menikmati tulisan itu sampai lupa belajar di sana. Dan semua  berakhir dengan kekagumanku pada mereka. Bisa ya membuat tulisan sebagus ini, sedetail ini, semenarik ini. Aku juga kepingin. Tapi….tapi…

Ah…aku selalu ingin menulis bagus, tapi tidak juga berusaha memulainya. Aku tahu, itu masalahku. Ah ! entahlah…

Advertisements

3 thoughts on “Low Creativity

  1. aku sudah hampir dua tahun begitu, uchi. bahkan aku tidak punya ide untuk membuat status setiap hari. fesbukku jadi lengang. Sekarang2 inilah puncaknya. berkali2 aku coba mendobraknya. aku sempat menangis saat baca tulisanmu yang benar2 waw! aku juga menangis saat membaca beberapa tulisanku yang dulu. sampai aku lelah melawan pikiran yang ingin istirahat saja dari menulis dan hati yang begitu menggebu-gebu ingin terus menuangkan imajinasi dengan tulisan. aku mencoba, sedikit demi sedikit. terakhir, aku berhasil menulis satu cerpen dengan 7 halaman dalam waktu 4 minggu. (kembali ke kebiasaan lama menulis cerpen yg terlalu panjang). dulu aku cukup beberapa jam saja menulis cerpen dan menamatkannya. sekarang berminggu2. bukan karena kesulitan mencari kata-kata atau cerita (inspirasi bagiku tak pernah putus) tapi aku rasa lebih kemasalah kecamuk dalam pikiran dan ternyata aku baru sadar, bukan, sudah lama aku sadar, aku menyalahkan fungsi menulis menjadi suatu kewajiban. sehingga pada waktu aku tidak bisa menuntaskan kewajiban itu barang beberapa waktu saja, kewajiban itu telah berubah fungsi menjadi beban. aku telah menjadikan menulis sebagai beban. jadi aku berpikir, jika aku tidak lagi bisa menulis, aku merasa telah terpuruk begitu dalam, kalah perang, dan timbul rasa malu, tidak percaya diri.

    tapi yang terpenting, walau dengan jujur aku katakan menulis bagiku menjadi suatu beban untuk saat ini, aku masih menunggu untuk kembali dan menjadi baru. menulis itu memang paling mengasyikkan, uchi 🙂

    tetap semangat! terus berjuang lewat tulisan 🙂

    • Aku menulis banyak saat jatuh cinta, lebih banyak saat patah hati. Dalam ketenangan seperti ini seperti tidak ada pemacu untuk kreativitasku hihi….

      Aku sama sepertimu jee. Merasa menjadi sia-sia kalau tidak bisa menghasilkan tulisan. Aku jg smpat membaca tulisan-tulisanku yang dulu dan merasa waw dulu koq aku bisa nulis begini ya. Sekarang aku selalu berfikir bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus. Ide2 itu ada tapi tidak tahu bagaimana menuliskannya dengan indah.

      Tapi kita memang harus tetap menulis Jee…tulisan apapun…

      • iya, balik ke prinsip dasar. yang penting menulis. apa pun itu.

        selamat pagi, uchi. pagi ini aku sama kak ekohm membicarakan kita ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s