Cause she miss you body and soul so strong and it takes her breath away. And she brings you into her heart and prays for the strength to stand today. Cause she love you whether it wrong or right.

Alamat yang Membuat Tersesat

Mereka mulai lupa alamat, tapi kepadaku memang bukan jalan mereka pulang. Keledai-keledai selalu membawa pencerahan.
”Jangan jatuh pada lubang yang sama dua kali.”
Tersesat padaku berkali-kali tentu bagi mereka melukai menara harga diri.
Tidak apa-apa. Suatu saat remah itu tidak akan bersisa dan mereka akan menghilang dalam satu ‘kling’. Mereka mungkin akan mengutuki waktu-waktu yang mereka sia-siakan untuk ketersesatan itu.

Sudah tanggal 29, sudahkah kalian menemukan jalan yang benar untuk pulang?
Ah…Apa kabar waktu, apa kabar kamu?

Gresik, 290513

Kamu yang mana?

Aku berbahagia jika kau pun berbahagia, meskipun dengan orang lain.
Benarkah ada yang seperti itu?
Atau lebih tepat begini,
aku serahkan kebahagiaan yang aku punya demi melihat kau bahagia.

#memikirkanpilmkalhonaho

Analogi Almari

Ruang-ruang di almariku selalu berupaya keras memilah-milah kebencian pada bau pakaianmu yang menguar.
Ketika udara menjadikannya samar dan sulit dibedakan.
Apalagi ingatan yang tersimpan kadang menjadi terlalu tajam dan seringkali lalai,
Bulat kapur barus ataupun pewangi semprot yang rajin-rajin kau buat berkunjung rupa-rupanya terlalu alpa untuk sampai pada tempatnya,
hingga pada akhirnya bau-baumu yang sebenarnya sampai pada hidungku juga.

Lalu apa-apa saja yang giat kau gantung-gantungkan padaku kini menjadi seolah-seolah yang bagaimanapun selalu gagal aku gengam.
Apa-apa saja yang sepenuh kemampuan kau lipat rapi selalu menjadi kata yang kusut kembali.

Kini kamu tidak tercium lagi, berkoper-koper pakaianmu mungkin sudah memilih pergi mengemasi dirinya sendiri, lalu berpindah arah pada almari yang mau tidak mau harus kau tempati.
Almari baru yang entah bagaimana dia akan menyimpanmu.

Tetapi, pakaian-pakaianmu, bau badanmu, kapur barus dan pewangi semprot itu akan selalu tahu almari mana yang seluas-luasnya mampu menyimpan dan menerima.
Almari mana yang selalu gagal memilih kebencian yang seharusnya.
Pakaian-pakaianmu, bau badanmu, kapur barus dan pewangi semprot itu akan selalu sadar seberapa mewah apa yang kau tinggalkan.

Gresik, 250513

Homo Egoistik

Orang-orang ini, kenapa semakin egois dan semaunya sendiri? Masing-masing kita punya kepentingan yang bersinggungan, apakah tidak bisa berpikir secara wajar, menghormati dan tidak mengambil hak-hak orang lain?
Apa gunanya itu kepala bila tidak digunakan untuk berpikir??

Butterfly Effect Theory, Benjamin Button, dan Garis Nasib

Butterfly effects. Teori yang pertama kali saya baca dari buku Dewi Lestari yaitu Supernova Ksatria, putri dan bintang jatuh. Awalnya tentu saja membingungkan. Saya sama sekali tidak tahu teori itu sebelumnya. Guru fisika di sekolah tidak pernah menyebut-nyebut soal itu. Materi kuliah tidak satupun menyinggung-nyinggung soal itu,  teman- teman saya tidak pernah membahasnya kecuali sebuah film berjudul butterfly effect yang pernah mereka tonton. Dengan segala rasa keingintahuan akhirnya saya bertanya pada Opa Google yang menghubungi mbah Wikipedia yang ternyata punya jawabannya,

Efek kupu-kupu (bahasa Inggris: Butterfly effect) adalah istilah dalam “Teori Chaos” (Chaos Theory) yang berhubungan dengan “ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal” (sensitive dependence on initial conditions), di mana perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem non-linear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian. Istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Perubahan yang hanya sedikit pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal misalnya 2, maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.

“Teori Chaos” adalah teori yang berkenaan dengan sistem yang tidak teratur seperti awan, pohon, garis pantai, ombak dll : random, tidak teratur dan anarkis. Namun bila dilakukan pembagian (fraksi) atas bagian-bagian yang kecil, maka sistem yang besar yang tidak teratur ini didapati sebagai pengulangan dari bagian-bagian yang teratur. Secara statistik: Chaos adalah kelakuan stokastik dari sistem yang deterministik. Sistem yang deterministik (sederhana, satu solusi) bila ditumpuk-tumpuk akan menjadi sistem yang stokastik (rumit, solusi banyak).

Edward Norton Lorenz menemukan efek kupu-kupu atau apa yang menjadi landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917 di Amerika Serikat dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan meteorologi dari MIT. Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (…,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (…,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali.[1]

Pada tahun 1963 Lorenz menerbitkan studi teoritis efek ini dalam artikel terkenal yang berjudul Deterministic Nonperiodic Flow (“Aliran non-periodik yang menentukan”)[2]. Berdasarkan artikel itu, kemudian ia mengatakan: “Seorang meteorolog mendapati bahwa jika teori ini benar, maka satu kepakan sayap burung camar laut (seagull) dapat mengubah jalannya cuaca untuk selamanya.” Atas anjuran rekan-rekan sejawatnya, dalam kuliah-kuliah dan publikasi selanjutnya, Lorenz menggunakan contoh yang lebih puitis, yaitu memakai kupu-kupu. Menurut Lorenz, suatu kali ia tidak mempunyai judul untuk ceramahnya pada pertemuan ke-139 American Association for the Advancement of Science tahun 1972, Philip Merilees mengusulkan judul “Does the flap of a butterfly’s wings in Brazil set off a tornado in Texas?” (“Apakah kepakan sayap kupu-kupu di Brasil menyulut angin ribut di Texas?”). Meskipun kepakan sayap kupu-kupu tetap konstan dalam konsep ini, lokasi kupu-kupu, dampaknya dan lokasi dari dampak-dampak selanjutnya dapat bervariaasi luas.[3]

Kepakan sayap kupu-kupu secara teori menyebabkan perubahan-perubahan sangat kecil dalam atmosfir bumi yang akhirnya mengubah jalur angin ribut (tornado) atau menunda, mempercepat bahkan mencegah terjadinya tornado di tempat lain. Kepakan sayap ini merujuk kepada perubahan kecil dari kondisi awal suatu sistem, yang mengakibatkan rantaian peristiwa menuju kepada perubahan skala besar (bandingkan: “efek domino” atau domino effect). Jikalau kupu-kupu itu tidak mengepakkan sayapnya, trayektori sistem tersebut akan berbeda jauh.

Perhatikan bahwa kupu-kupu tidak menyebabkan angin ribut atau tornado. Kepakan sayapnya adalah bagian dari kondisi awal; satu himpunan kondisi menghasilkan tornado, sedangkan himpunan kondisi lain tidak. Mungkin saja himpunan kondisi yang tidak melibatkan kepakan sayap kupu-kupu menjadi penyebab angin ribut.

(www.wikipedia.co.id)

300px-TwoLorenzOrbits

Butterfly effect merupakan teori yang dikemukakan oleh Edward Norton Lorenz. Teori ini
merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Dulu membaca artikel yang tertulis di Wikipedia ini, saya masih kebingungan mencerna, sulit sekali membayangkan. Bagaimana hal kecil di suatu tempat bisa mempengaruhi hal lain di tempat yang lain dan berjauhan?

Lalu sebuah film mengantarkan pemahaman saya dengan cara lain tentang teori ini. Ya…malam kemarin saya yang bosan dan menganggur memutuskan untuk menonton koleksi film saya di laptop. Sebenarnya awalnya saya ingin menonton film Harry Potter. Tapi entah kenapa dorongan hati saya memilih untuk membuka kembali folder Benjamin Button. The Curious Case of Benjamin Button merupakan sebuah film Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 2008. Film yang disutradarai oleh David Fincher ini pemainnya ialah Brad Pitt, Cate Blanchett, Teraji P Henson, Julia Ormond, dan masih banyak lagi..Saya sudah pernah menontonnya beberapa kali. Namun, karena filmnya yang cukup panjang (sekitar dua setengah jam), biasanya saya tertidur di tengah-tengah film dan hanya mengetahui cerita besarnya saja. Yaitu seorang yang mempunyai hidup terbalik, terlahir dengan kondisi tua, lalu menjadi muda dari waktu ke waktu.

Tapi malam ini lain. Saya menonton film ini di kamar sendirian dan tidak mengantuk.Saya mengikuti semua adegan peradegan. Dan baru malam inilah saya menyadari ada part yang begitu melekat di kepala saya. Itu adalah part kejadian kecelakaan yang dialami oleh Daisy.

Seorang wanita di Paris akan pergi berbelanja, namun dia melupakan mantelnya sehingga dia harus kembali ke hotel untuk mengambilnya. Saat dia mendapatkan mantelnya, telepon berdering, diapun berhenti untuk mengangkat teleponnya dan berbicara selama beberapa menit. Saat wanita itu berbicara di telepon, Daisy sedang bersiap  berlatih untuk tampil di sebuah gedung opera di Paris. Saat Daisy mulai berlatih, wanita yang berbicara di telepon menyudahi percakapannya dan pergi keluar untuk mencegat taksi. Di saat yang sama, sopir taksi sudah menurunkan penumpang dan berhenti untuk membeli secangkir kopi. Saat itu juga Daisy sedang berlatih. Sopir taksi itu pergi dan menjemput wanita yang ingin pergi berbelanja yang melewatkan taksi sebelumnya. Saat dalam perjalanan taksi itu sempat terhenti oleh seorang pria yang menyebrang jalan. Pria itu terlambat 5 menit dari rutinitas yang biasa dia kerjakan karena dia lupa untuk menyalakan alarm jamnya. Saat pria itu selesai menyebrang jalan, Daisy telah selesai berlatih dan mulai mandi. Saat Daisy mandi, Taksi itu menunggu di luar butik karena wanita yang ingin pergi berbelanja itu akan mengambil paket, paket itu ternyata belum selesai dibungkus karena gadis yang seharusnya membungkusnya sedang patah hati pada malam sebelumnya. Saat paket itu selesai dibungkus, wanita yang akan pergi berbelanja itu kembali ke dalam taksi dan meneruskan perjalanan namun terhenti karena terhalang oleh sebuah truk. Di saat yang sama, Daisy sedang mulai berpakaian.,truk itu minggir dan taksipun kembali melaju. Daisy menjadi yang terakhir berpakaian  terhenti untuk menunggu temannya yang sedang mengaitkan tali sepatu. Saat taksi berhenti menunggu lampu merah, Daisy dan temannya pergi keluar untuk kembali ke Teater.

Dan bila satu saja hal berjalan berbeda. Jika saja tali  sepatu itu tidak lepas, atau truk itu tidak menghalangi taksi, atau bila paket itu sudah dibungkus karena gadis itu tidak putus dengan pacarnya, atau jika pria itu menyalakan alarmnya dan bangun lima menit lebih awal, atau bila sopir taksi itu tidak berhenti membeli secangkir kopi, atau bila saja wanita itu tidak melupakan mantelnya dan naik taksi yang sebelumnya, Daisy dan temannya akan selamat menyebarang jalan, dan taksi itu akan terus melaju. Tapi hidup terjadi dengan semestinya. Beberapa garis yang saling bersilangan tanpa bisa seseorang mengontrolnya.
Taksi itu tidak terus melaju, sopir taksi itu kehilangan fokus dan menabrak Daisy dan mematahkan kakinya.

MV5BMTkyMDc2MDAxOV5BMl5BanBnXkFtZTcwNzI2NDQzMg@@._V1_SY317_CR5,0,214,317_

Part dalam film Benjamin Buttons ini memberi pemahaman baru tentang efek kupu-kupu yang dimaksud Lorenz. Betapa garis nasib kita sebenarnya bersinggungan dengan orang lain tanpa kita sadari. Keteraturan semesta di dalam ketidakberaturan. Satu kepakan sayap kupu-kupu bisa menimbulkan badai. Betapa dunia memang dirancang sedemikian rupa. Betapa garis nasib sudah ditentukan sedemikian teliti. Betapa setiap pertemuan dan kejadian memang sudah dirancang dan pilihan-pilihan yang kita ambil bisa saja sangat berpengaruh pada hidup orang lain, yang tidak kita kenal sekalipun.

Seandainya saya memutuskan untuk melihat film Harry Potter, seandainya saya tertidur saat bagian ini diputar, seandainya kakak saya memanggil dan mengajak saya jalan-jalan, seandainya kamu menelpon, mungkin tulisan ini. Tidak pernah ada.