Analogi Almari

Ruang-ruang di almariku selalu berupaya keras memilah-milah kebencian pada bau pakaianmu yang menguar.
Ketika udara menjadikannya samar dan sulit dibedakan.
Apalagi ingatan yang tersimpan kadang menjadi terlalu tajam dan seringkali lalai,
Bulat kapur barus ataupun pewangi semprot yang rajin-rajin kau buat berkunjung rupa-rupanya terlalu alpa untuk sampai pada tempatnya,
hingga pada akhirnya bau-baumu yang sebenarnya sampai pada hidungku juga.

Lalu apa-apa saja yang giat kau gantung-gantungkan padaku kini menjadi seolah-seolah yang bagaimanapun selalu gagal aku gengam.
Apa-apa saja yang sepenuh kemampuan kau lipat rapi selalu menjadi kata yang kusut kembali.

Kini kamu tidak tercium lagi, berkoper-koper pakaianmu mungkin sudah memilih pergi mengemasi dirinya sendiri, lalu berpindah arah pada almari yang mau tidak mau harus kau tempati.
Almari baru yang entah bagaimana dia akan menyimpanmu.

Tetapi, pakaian-pakaianmu, bau badanmu, kapur barus dan pewangi semprot itu akan selalu tahu almari mana yang seluas-luasnya mampu menyimpan dan menerima.
Almari mana yang selalu gagal memilih kebencian yang seharusnya.
Pakaian-pakaianmu, bau badanmu, kapur barus dan pewangi semprot itu akan selalu sadar seberapa mewah apa yang kau tinggalkan.

Gresik, 250513

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s