Selamat Ulang Tahun untuk ( Mantan) Kekasih

Untuk Hatimu yang Sudah Reda

Apa yang berhenti mengalir dari mata sejarah kita telah pelan-pelan menghapus namaku dari belahan rambutmu. 

Esok yang dulu begitu langkah kaki takutkan sampai gemetar telah menginjak jejak-jejak kabur yang meninggalkan aku pada tempatku pertama berdiri canggung meraba-raba kamu dan raut muka yang tidak akan aku lupa.

Perihal-perihal paling krusial yang bermalam-malam mulut engkau adukan kini menjadi bayang abu-abu yang meninggalkanmu.

Rintik-rintik, hujan deras, atau badai yang mengoyak kita pastilah pada engkau sudah reda. Namun diam-diam aku selalu berdoa menjelmakan tanganku jaring-jaring dan membungkam kepalamu dalam bising, mencegah kau tanggalkan ranting-ranting hari kemarin.

Diam-diam aku berharap memasangkan kurungan. Mencegah ingatan kabur perlahan. 

Tetapi selalu jatuh.
-Waktu dan hati baru- katamu adalah tempat bagaimanapun arahmu menuju.
Sudahkah tanganmu menemukan apa yang kamu mau?

Apa kabar?
Entah, apa kelak aku akan sampai pada rasa bosan mengucap apa kabar?- padamu, pada diriku sendiri.

Sudah 28 Juni. Tanggal keramatmu. Sudah 3 tahun dan aku masih menandai tanggal ini dan terus mengingatnya walaupun kamu sama sekali tidak ingat satu tanggalpun tentang aku.

Kamu.
Kamu yang demi melihat senyummu yang lebar itu, meski hanya dalam selayar tak bergerak. Demi tahu kamu bahagia dan baik-baik saja, aku sudah menjadi rela menukar sekerat bahagiaku untuk aku tukar dengan selautan air mataku dulu. Rela menjalani hari-hari dengan mengurung diri di kamar dengan bantal yang basah, rela sesegukan di kamar mandi dan terus mengguyur kepalaku dengan air demi melarutkan lelehan airmata di pipiku, rela menulis puluhan atau ratusan puisi dan cerita dengan tinta airmata. Demi melihatmu bahagia.

Itu dulu. Semua itu sudah lewat sekarang. Ya…ternyata aku masih bisa hidup setelah menguras air mata sebegitu banyak dan menguras hatiku sebegitu dalam. Aku masih hidup, bisa bernapas, bisa tersenyum dan tertawa terbahak-bahak dengan teman-temanku. Aku ternyata bisa menjadi baik-baik saja.

Apa kabar?
Kata yang ingin setiap hari kuulang dan kutanyakan padamu.
Bukan sekedar retorik karena aku benar-benar ingin tahu bagaimana kabarmu sekarang.
Kamu tidak pernah menelpon sekarang, aku tidak pernah mendengar nyanyian dan candaanmu lagi. Kamu sibuk? Lupa padaku? Pergi dariku? Tidak peduli? Atau memenuhi permintaanku terakhir kali itu? Untuk berhenti dan menjadi orang asing.
Apapun itu, memang lebih baik begini kan? Menjalani hidup kita masing-masing tanpa bising.

Jujur saja kadang aku merindukan kamu yang bernyanyi. Kamu yang membuatku tertawa. Namun, rindu sudah menjadi tidak pantas sekarang. Merindukan ternyata bisa menjadi sesuatu yang terlarang.

Kamu berulang tahun hari ini. Sudah seperempat abad usiamu. Sudahkah kamu berubah atau masih yang itu-itu saja?
Aku tidak sempat memberimu kado ulang tahun, dulu sudah kusiapkan kado untukmu di ulang tahunmu yang ke 22. Sekotak kado yang kubungkus dengan kertas kado warna pink. Tidak sempat kuberikan dan tidak mau lagi kuberikan. Tergeletak di atas lemari dan enggan kubuka dan bongkar lagi. Setelah itu aku menjadi tidak pantas memberimu kado ulang tahun kecuali kado-kado tulisan maupun puisi patah hati yang tidak pernah sampai padamu. Kau pasti tidak menyukai kado seperti itu.

Kamu ingin kado apa sekarang?
Kemeja jeans? Sepasang sandal? Jam tangan?
Tapi aku ingin memberimu helm baja, agar ingatan tentangku tidak semena-mena pergi dari kepalamu.

Kita menjadi  orang asing yang tidak saling menyapa, aku menerima. Tapi keegoisan ingin sebagian aku terus tumbuh menjadi bayang-bayang di kepalamu. Semua boleh hilang kecuali ingatan. Kamu,aku harus tetap hidup dengan itu. Kau mengerti?

Dengan apa yang kamu punya sekarang, aku bisa mengira-ngira seberapa bahagianya kamu. Kamu mendapatkan semuanya yang kamu inginkan. Kamu dikelilingi orang-orang yang kamu cintai dan mencintaimu. Kamu tidak akan kesepian. Kamu bahagia kan? Aku bahagia untuk kebahagiaanmu.

Kamu kelihatan semakin kurus, jangan lupa makan dan selamat ulang tahun.

Image

Gresik, 28 Juni 2013

Tentang Mimpi dan Aku

Mimpi adalah perpanjangan angan-angan dan harapan. (LDE, 2013)

Siapa yang mengendalikan mimpi? Tuhan? Pikiran kita sendiri? Entahlah. Aku hanya tau, dalam mimpi terjadi hal-hal yang aku harapkan terjadi di dunia nyata.

Saat aku merindukan seseorang, ayah misalnya, maka dalam tidur, dalam mimpiku aku akan menemuinya dalam cerita yang sama. Ayah hidup lagi. Ayah masih hidup. Itu hal yang paling aku inginkan yang tidak akan terjadi di dunia nyata, maka dalam mimpilah hal itu terjadi.

Seperti halnya tentang Ndra, aku selalu bermimpi kami bisa bicara, berbincang, dekat dan saling mengenal. Dalam mimpi, semua itu terasa nyata dan benar membahagiakan. Kadang aku lupa itu cuma mimpi.

Kata orang, jatuh cinta adalah saat dimana kamu merasa bahwa dunia nyata lebih indah daripada dunia mimpi. Aku tidak sedang jatuh cinta. Tidak ada kupu-kupu yang bermain di dadaku. Aku tidak mencium bau bunga-bunga yang bermekaran di sekelilingku, maka bagiku sekarang, dunia mimpi memang lebih indah daripada dunia nyata.

Apakah aku salah ketika aku ingin terus bermimpi dan tidak ingin bangun? Apakah aku salah ketika aku menyimpan angan-angan itu, mimpi itu?

Aku ingin terus bermimpi tentang ayah, tentang Ndra, tentang aku dan orang-orang yang aku cintai. Akankah Tuhan memeluk mimpi-mimpiku itu?


Setiap perkataan yang menjatuhkan tak lagi kudengar
dengan sungguh
Juga tutur kata yg mencela
Tak lagi kucerna dalam jiwa
Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil
Yang berangan ‘tuk merubah nasibnya

Bukankah ku pernah meilhat bintang
Selau menghasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya
Yang sedih hatinya

Ku gerakkan langkah kaki
Dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yg terputus
Masih ku coba mengejar rindu
Meski peluh membasahi tanah
Lelah penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia
(Padi-Sang Penghibur)

Untuk Hatimu yang Sudah Reda

Apa yang berhenti mengalir dari mata sejarah kita telah pelan-pelan menghapus namaku dari belahan rambutmu. Esok yang dulu begitu langkah kaki takutkan sampai gemetar telah menginjak jejak-jejak kabur yang meninggalkan aku pada tempatku pertama berdiri canggung meraba-raba kamu dan raut muka yang tidak akan aku lupa.
Perihal-perihal paling krusial yang bermalam-malam mulut engkau adukan kini menjadi bayang abu-abu yang meninggalkanmu.
Rintik-rintik, hujan deras, atau badai yang mengoyak kita pastilah pada engkau sudah reda. Namun diam-diam aku selalu berdoa menjelmakan tanganku jaring-jaring dan membungkam kepalamu dalam bising, mencegah kau tanggalkan ranting-ranting hari kemarin. Diam-diam aku berharap memasangkan kurungan yang mencegah ingatan kabur perlahan.
Tetapi selalu jatuh.
-Waktu dan hati baru- katamu adalah tempat bagaimanapun arahmu menuju.
Sudahkah tanganmu menemukan apa yang kamu mau?

Apa kabar?
Entah, apa kelak aku akan sampai pada rasa bosan mengucap apa kabar?- padamu, pada diriku sendiri.

Gresik, 9 Juni 2013