Untuk Hatimu yang Sudah Reda

Apa yang berhenti mengalir dari mata sejarah kita telah pelan-pelan menghapus namaku dari belahan rambutmu. Esok yang dulu begitu langkah kaki takutkan sampai gemetar telah menginjak jejak-jejak kabur yang meninggalkan aku pada tempatku pertama berdiri canggung meraba-raba kamu dan raut muka yang tidak akan aku lupa.
Perihal-perihal paling krusial yang bermalam-malam mulut engkau adukan kini menjadi bayang abu-abu yang meninggalkanmu.
Rintik-rintik, hujan deras, atau badai yang mengoyak kita pastilah pada engkau sudah reda. Namun diam-diam aku selalu berdoa menjelmakan tanganku jaring-jaring dan membungkam kepalamu dalam bising, mencegah kau tanggalkan ranting-ranting hari kemarin. Diam-diam aku berharap memasangkan kurungan yang mencegah ingatan kabur perlahan.
Tetapi selalu jatuh.
-Waktu dan hati baru- katamu adalah tempat bagaimanapun arahmu menuju.
Sudahkah tanganmu menemukan apa yang kamu mau?

Apa kabar?
Entah, apa kelak aku akan sampai pada rasa bosan mengucap apa kabar?- padamu, pada diriku sendiri.

Gresik, 9 Juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s