Hi Uchi!

Image

image

Advertisements

Gen Sosial

Kau kenapa? Kau semakin pendiam akhir-akhir ini. Biasanya kau akan sibuk membikin bebunyian-bebunyian. Kegaduhan yang sering aku abaikan. Bukan aku tidak peduli, namun kemarin aku menjadi terlalu sibuk. Sibuk memindahkan pusat gravitasi diriku. Memindahkan area abstrak yang begitu kucintai menjadi area logika dan ilmiah. Hidup yang nyata, aku bilang. Demi gelar itu, yang nantinya menjadi sumber kantong-kantong keringku.

Apa kabar kamu? Apa kamu bosan menciptakan kegaduhan-kegaduhan? Apa kamu jenuh terus berbunyi tanpa kusahuti?
Ya…kamu pasti telah terlalu lelah denganku. Aku tahu aku orang yang menyebalkan. Cuek yang kelewatan dan semaunya sendiri. Kelak, aku pasti akan sadar ketidakbaikan ini, namun aku masih terus melakukannya sekarang. Bukan hanya padamu, tapi pada semua orang. Kau tahu? Aku selalu curiga ada gen yang hilang dalam diriku. Gen itu selalu aku cari-cari namun selalu gagal aku temukan dan tanamkan dalam diriku. Namanya gen sosial. Gen yang membikin orang-orang mudah berinteraksi dengan orang lain. Dan kau tebaklah sendiri apa jadinya bila gen ini hilang. Antisosial? Aku bilang, mungkin. Sangat mungkin.

Hai, apa kabar? Kau tetap diam. Apa kau marah padaku? Apa kau marah karena aku kehilangan gen sosial dari darahku? Aku merasa perlu ditolong, tapi aku tidak punya teman. Kau satu-satunya temanku, kini mendiamkanku.

Kau pernah mendengar istilah ‘introvert’. Itu adalah salah satu jenis kepribadian yang aneh, yang cenderung menjadi penyendiri dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Aku juga pernah membaca di sebuah ruang di internet bahwa orang introvert membutuhkan energi yang besar untuk bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Aku merasa telah menjadi introvert akut.

Kau tahu? Aku pernah menjadi cocok dengan seseorang. Aku tidak perlu mengeluarkan energi untuk berinteraksi dengannya. Aku bahkan merasa dilengkapi. Dia menghidupkan hidupku. Dan, padanya pernah aku titipkan pusat diriku. Tapi dia menghancurkannya. Dia memporak-porandakan gravitasi yang aku titipkan. Dia pergi, atau aku yang mengusirnya pergi. Sama saja. Dia menghilangkan separuh gen pada diriku bernama kepercayaan. Maka jangan marah bila kadang aku tidak percaya padamu. Gen kepercayaanku tinggal separuh.

Aku menulis ini dengan napas yang terengah-engah. Sesak napas. Bukan! Bukan karena isi tulisan ini. Aku sudah asma dari kemarin malam. Bahkan terbawa sampai mimpi. Akhir-akhir ini bibit-bibit penyakit seolah berlomba tumbuh di tubuhku. Ah! Siapa juga yang peduli!

Aku masih ingin berlama-lama menulis. Apa lagi yang bisa kuceritakan dari hidupku yang datar? Tanpa dia yang membuat gelombang-gelombang. Ah! Aku merindukannya lagi. Sedikit. Tapi, seperti yang selalu kubilang merindukannya adalah kesalahan. Yah…

Hei kau terus diam. Kau percaya aku tidak sedang menulis fiksi?

Rumah

Di dunia yang semakin asing dan tidak aku kenal.

Aku menyebutnya rumah bagi (si)apa yang menerima segala kekusutan yang ada pada diri kita. Rambut kusut kita, baju kusut kita, muka kusut kita.
Aku menyebutnya rumah bagi (si)apa saja yang menerima segala apa yang kita sebut sebagai kejelekan dan kekurangan.
Yang tidak peduli kebiasaan paling gila yang kita punya, yang selalu menyiapkan ruang-ruang yang nyaman untuk kita berada.
Tidak akan ada tempat berlindung paling aman yang lain selain rumah. Tidak ada tempat istirahat paling nyaman selain rumah. Tidak akan ada penerimaan yang paling gila selain rumah.

Rumah selalu punya dua tangan terbuka yang merentang memeluk kita.

Ketika semua telah selesai, masih ada yang mengganjal dengan halaman yang tidak berwarna dan kertas yang terlalu tipis. Begitulah kelewat apa adanya dan menjadikan semua tidak masalah, kadang juga menciptakan ganjalan.

Kanaya memeriksa lagi buku tebal yang ada di tangannya. Dibolak-balik dengan gelisah setiap lembaran pada buku tersebut. Halaman itu tampak ganjil. Semuanya hitam putih. Harusnya di halaman ke 23 ada sentuhan warna yang menghiasi lembarannya.

PERISTIWA

Peristiwa satu: Kita sebut ini antisosial untuk orang yang tidak mau dekat dengan orang lain.
Apatis untuk orang-orang yang kelewat tidak peduli. Dan aneh untuk orang-orang yang tidak biasanya. Lalu, jika kau memiliki ketiganya, akan disebut apakah kau, sayang?

Peristiwa dua: sedikit-sedikit kau kumpulkan serpihan kepalamu yang tercecer dari kekosongan yang melayang. Perihal-perihal penting menjadi gampang hilang dan susah dipanggil, kadang tertukar menempelkan kejadian. Kepalamu yang pendek dan menjadi selalu tidak tahu berkali-kali mengerdilkanmu.

Mungkin hanya salah tempat.

Peristiwa tiga: Bapak dengan rambut putih berinisial J yang pernah beberapa waktu menawarkan perjodohan kepada engkau, sore itu datang dengan mulut berbusa-busa dan tampang yang seangkasa menawarkanmu bisnis piramida. Ini kali kedua kau harus terdiam dan mengangguk-angguk memasang tampang percaya. Sifat so(k)sial dan rasa sungkan diam-diam bersengkongkol mendudukanmu dalam akting paling lugu.

Peristiwa empat: Kau harus berhenti jatuh kepada (si)apa yang hanya berpura-pura jatuh padamu. Satu kali salah tidak masalah, berkali-kali salah hanya keledai yang dicocok hidungnya.