Gen Sosial

Kau kenapa? Kau semakin pendiam akhir-akhir ini. Biasanya kau akan sibuk membikin bebunyian-bebunyian. Kegaduhan yang sering aku abaikan. Bukan aku tidak peduli, namun kemarin aku menjadi terlalu sibuk. Sibuk memindahkan pusat gravitasi diriku. Memindahkan area abstrak yang begitu kucintai menjadi area logika dan ilmiah. Hidup yang nyata, aku bilang. Demi gelar itu, yang nantinya menjadi sumber kantong-kantong keringku.

Apa kabar kamu? Apa kamu bosan menciptakan kegaduhan-kegaduhan? Apa kamu jenuh terus berbunyi tanpa kusahuti?
Ya…kamu pasti telah terlalu lelah denganku. Aku tahu aku orang yang menyebalkan. Cuek yang kelewatan dan semaunya sendiri. Kelak, aku pasti akan sadar ketidakbaikan ini, namun aku masih terus melakukannya sekarang. Bukan hanya padamu, tapi pada semua orang. Kau tahu? Aku selalu curiga ada gen yang hilang dalam diriku. Gen itu selalu aku cari-cari namun selalu gagal aku temukan dan tanamkan dalam diriku. Namanya gen sosial. Gen yang membikin orang-orang mudah berinteraksi dengan orang lain. Dan kau tebaklah sendiri apa jadinya bila gen ini hilang. Antisosial? Aku bilang, mungkin. Sangat mungkin.

Hai, apa kabar? Kau tetap diam. Apa kau marah padaku? Apa kau marah karena aku kehilangan gen sosial dari darahku? Aku merasa perlu ditolong, tapi aku tidak punya teman. Kau satu-satunya temanku, kini mendiamkanku.

Kau pernah mendengar istilah ‘introvert’. Itu adalah salah satu jenis kepribadian yang aneh, yang cenderung menjadi penyendiri dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Aku juga pernah membaca di sebuah ruang di internet bahwa orang introvert membutuhkan energi yang besar untuk bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Aku merasa telah menjadi introvert akut.

Kau tahu? Aku pernah menjadi cocok dengan seseorang. Aku tidak perlu mengeluarkan energi untuk berinteraksi dengannya. Aku bahkan merasa dilengkapi. Dia menghidupkan hidupku. Dan, padanya pernah aku titipkan pusat diriku. Tapi dia menghancurkannya. Dia memporak-porandakan gravitasi yang aku titipkan. Dia pergi, atau aku yang mengusirnya pergi. Sama saja. Dia menghilangkan separuh gen pada diriku bernama kepercayaan. Maka jangan marah bila kadang aku tidak percaya padamu. Gen kepercayaanku tinggal separuh.

Aku menulis ini dengan napas yang terengah-engah. Sesak napas. Bukan! Bukan karena isi tulisan ini. Aku sudah asma dari kemarin malam. Bahkan terbawa sampai mimpi. Akhir-akhir ini bibit-bibit penyakit seolah berlomba tumbuh di tubuhku. Ah! Siapa juga yang peduli!

Aku masih ingin berlama-lama menulis. Apa lagi yang bisa kuceritakan dari hidupku yang datar? Tanpa dia yang membuat gelombang-gelombang. Ah! Aku merindukannya lagi. Sedikit. Tapi, seperti yang selalu kubilang merindukannya adalah kesalahan. Yah…

Hei kau terus diam. Kau percaya aku tidak sedang menulis fiksi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s