Hujan Deras, Mati Lampu, Kepergianmu, dan Kegelapanku

Apa hubungan hujan deras dan mati lampu?

Hujan deras sekali di luar. Hujan yang sama dengan malam itu. Suasana yang juga sama. Lampu sudah padam sejak lima belas menit yang lalu. Pertanyaan itu terngiang-ngiang kembali di kepalaku. Apa hubungan hujan dan mati lampu? Kenapa hujan sering kali diikuti oleh lampu yang padam? Apa hubungan kepergianmu dan kegelapanku? Kenapa semua nampak gelap semenjak kau pergi?

Pikiranku yang komplek entah kenapa selalu  menghubungkan hujan deras, mati lampu, kegelapan dan kepergianmu. Sekarang aku lebih tertarik dengan pertanyaanku yang terakhir tadi, apa hubungan kepergianmu dan kegelapanku? Sudah lama ingin kutanyakan padamu, apa kau membawa serta cahaya hidupku saat kau pergi dulu?
Dulu aku tidak sempat berucap apa-apa saat kau pergi. Kata-kata seperti terenggut dari mulutku. Aku mungkin terlalu kaget mengalami semua kejutan yang kau hadiahkan dengan semena-mena padaku.

Aku ingat dengan jelas. Saat itu petir menyambar, hujan menerjang tak henti-henti bagai jutaan jarum yang berebut turun ke bumi. Malam itu langit seperti menumpahkan air bah. Aku tergolek di kasur sambil membebat tubuhku dengan selimut. Tissue-tissue bertebaran di lantai kamarku. Udara yang sedingin ini, tentu saja memicu alergi dinginku kambuh. Aku menggigil. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku bersin-bersin. Suhu tubuhku pastilah sudah naik beberapa derajat. Aku sendirian meringkuk di kamar kos.

Kamu datang dengan muka berantakan. Celanamu basah. Bajumu basah. Rambutmu, model jeprak yang kusukai terlihat sudah tidak berbentuk lagi. Kamu basah kuyup dan kedinginan. Apa yang membuatmu nekat datang ke rumahku pada cuaca yang begitu jahat ini? Kamu sedang tidak ingin menambah jumlah orang yang menggigil di sini kan? Aku saja sudah cukup kan?

”Aku harus bicara padamu Kanaya,” katamu cepat begitu melihatku di hadapanmu. Tiba-tiba aku merasa takut. Berita macam apa yang kau bawa hingga kau susah payah menerjang hujan seperti ini. Berita apa yang kau bawa hingga kau tidak sempat menyapa ‘halo’ atau menanyakan kabarku yang sedang tidak baik ini. Ini benar-benar membuatku takut.
Aku menemuimu dengan menggigil. Satu wadah tissue masih kubawa di tanganku. Sekilas matamu menangkap wajah pucatku dan tissue itu, kau pun menyadarinya. Kau baru ingat aku tidak kuat dengan cuaca dingin.
”Alergimu kambuh Kanaya?” katamu khawatir. Aku cuma diam. Kalimatmu di awal tadi masih terngiang-ngiang, membuatku takut dan habis-habisan kepalaku berputar memikirkannya. Ada apa?
”Kanaya….” panggilnya, mencoba menyadarkanku dari kediamanku.
”Jangan khawatir. Aku biasa begini. Aku yang harusnya khawatir padamu. Ambillah handuk dan kaos kering di lemari,” kau segera beranjak. Pilihan yang bijak. Kau tentu saja sadar jangan sampai ada dua orang sakit di sini. Aku kembali merebahkan diriku di kasur dan menggulung diriku dengan selimut.

Kau muncul dengan kaos jogja milikku yang kebesaran bila kupakai. Tapi kaos itu kini terlihat begitu pas di badanmu.
”Kamu ingin mengatakan apa tadi?” tanyaku. Sambil bangkit dan duduk di sampingmu. Kamu cuma diam di pinggir kasur. Tampak bingung.
”Hal apa yang ingin kamu katakan sehingga kamu rela kehujanan seperti tadi? Ini pasti hal penting kan?” desakku. Kau tetap membisu. Kurasakan udara semakin dingin menyelimuti kita. Aku kembali menggigil dan bersin berkali-kali.

Kau tiba-tiba saja merengkuh aku dalam pelukanmu. Hal yang biasa kamu lakukan. Tapi kenapa aku merasa pelukanmu berbeda malam itu. Kau memelukku lebih erat dari biasanya. Aku segera mengabaikan prasangka-prasangka yang memenuhi kepalaku dan mulai menikmati hangat yang kurasakan karena pelukanmu. Jika ada satu momen yang paling ingin aku kekalkan, barangkali adalah saat ini, berada dalam pelukanmu selamanya.
Malam itu kau memelukku lebih lama dari biasanya. Lebih erat dari biasanya. Dan aku merasakan hangat yang lebih dari biasanya.
Malam ini memang tak biasa kan? Ada apa?

Tiba-tiba saja aku ingin menangis. Airmataku, entah kenapa tiba-tiba jatuh dan mengenai pundakmu. Kau melepaskan pelukanmu, melihat wajahku dan menemukan pipiku yang basah. Kau serta merta menghapus airmataku lalu merengkuh aku dalam pelukanmu lebih erat lagi. Airmataku pun meleleh lagi. Lebih deras.

Apa hubungan hujan dan mati lampu? Di luar hujan turun dengan deras. Di dalam kamar perasaan-perasaan kita mengalir dengan deras. Lampu tiba-tiba padam. Dalam pekat kegelapan malam itu, kita masih saja berpelukan.

”Maafkan aku Kanaya,” kau mengatakan itu setelah tiga jam kita bertahan pada posisi yang sama dalam diam. Aku kembali merasakan takut. Inikah waktunya?
”Maaf untuk apa?” tanyaku sambil meraba wajahmu  demi mengira-ngira ekspresi apa yang kau pasang di wajahmu. Aku mendengar keraguan, ketakutan, dan penyesalan di kalimatmu tadi.
”Aku tidak bisa melanjutkan semua ini lagi.” itu adalah kalimat yang paling kubenci. Kalimat yang tidak pernah aku inginkan itu akhirnya kau ucapkan juga.
”Kau tidak mencintaiku lagi?” aku tetap tidak rela kau mengucapkannya meskipun aku tahu saat ini akan terjadi.
”Aku mencintaimu dan aku tidak tahu bagaimana harus menghentikannya. Tapi kamu harus menikahinya Kanaya. Lelaki pilihan ibumu. Aku harus pergi mengalah. Bagaimanapun cinta tidak harus memiliki kan Kanaya? Satu yang harus kamu tahu, dengan siapapun kamu atau aku menikah, akan tetap ada ruang-ruang dalam hatiku yang sedemikian dalam menyimpanmu.”

Tidakkah kau pikir kisah kita ini begitu klise? Dua orang yang tidak bisa bersama karena berbeda status sosial. Kamu yang kata mereka tidak punya apa-apa, padahal bagiku kamu mempunyai segala apa yang aku inginkan. Mereka selalu salah bila mengukur kebahagiaan dari nominal rupiah yang bisa kau hasilkan. Aku tahu kebahagiaanku. Aku tahu harga setiap tawa ketika aku bersamamu. Tapi mereka tidak tahu. Jika bisa, aku ingin mempertahankanmu sampai akhir. Tapi kini kamu menyerah, aku bisa apa? Apa yang bisa kulakukan untuk mencegahmu meninggalkanku?

Di luar hujan mulai reda. Lampu kamarku kembali menyala namun aku tidak melihat apa-apa. Hal yang terakhir kulihat adalah punggungmu yang berlalu meninggalkanku. Setelah itu hanya kegelapan yang ada di mataku.

Apa hubungan hujan dan mati lampu? Apa hubungan kegelapan dan kepergianmu?

Image

picture taken from

http://terribleeker.wordpress.com/2010/05/18/day-148-rainy-day/

 

Cerita ini terinspirasi dari status facebook seorang kawan yang bertanya, apa hubungan hujan dan mati lampu?

Advertisements

4 thoughts on “Hujan Deras, Mati Lampu, Kepergianmu, dan Kegelapanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s