Book Review: Kembar Keempat

Judul Buku   : Kembar Keempat
Penulis          : Sekar Ayu Asmara
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Tebal              : 271 halaman
Tahun Terbit : 2010

Bhara, Bhadra, Bhajra kembar tiga yang sulit dibedakan. Tinggi ketiganya sama. Sama-sama tegap dan atletis. Ketiganya berwajah tampan. Berhidung mancung dan bermata elang. Senyum dari bibir mereka susah dibedakan. Gaya rambut dan selera penampilan mereka pun sama. Meskipun begitu kembar tiga ini punya kepribadian berbeda.

Bhara kembar yang extrovert, ceria dan paling banyak bicara. Bhajra, si bungsu cenderung introvert, pemurung, serius dan pendiam. Sedangkan Bhadra adalah perpaduan kedua saudara kembarnya.

Kembar tiga ini memiliki seorang bunda luar biasa bernama Savitri Pusponegoro. Bagi kembar tiga, bunda lah poros kehidupan. Bagi bunda, kembar tiga adalah poros kehidupannya.

Sampai datang suatu hari dimana kembar tiga satu persatu harus meninggalkan bunda. Bhadra pergi ke Istanbul untuk mengejar mimpinya di dunia musik, Bhajra menyisir pulau Jawa dan Bali untuk film dokumenter, dan terakhir Bhara harus meninggalkan bunda dan terbang ke New York untuk audisi peran sebuah drama musikal yang diimpikannya.

Takdir mempertemukan kembar tiga dengan seorang yang mereka anggap soulmate masing-masing. Bhara bertemu dengan Axena, Supermodel Internasional asal Indonesia yang sukses menjadi model dunia. Bhadra bertemu dengan Havana, perempuan cantik, berbakat, seorang fotografer yang lebih suka tampil dengan kepala plontos. Terakhir Bhajra bertemu dengan seorang perempuan Bali bernama Bunga.

Ketiganya sama-sama merasakan jatuh cinta. Ketiganya merasakan menemukan belahan jiwa mereka. Mereka merasa bahagia dengan perempuan mereka masing-masing.

Namun sesuatu dari masa lalu mengusik kisah cinta mereka. Masa lalu Axena, masa lalu Havana, masa lalu bunga, masa lalu kembar tiga. Siapa kembar keempat? Pelan-pelan semua rahasia terkuak. Juga tentang pesan terakhir ayah yang membisik di telinga Bhara untuk memaafkan Bunda. Semua kejadian seperti jaring-jaring yang terhubung di akhir.

Saya tidak pernah sekalipun kecewa membaca Novel Sekar Ayu Asmara. Dulu, pertama kali saya membaca Pintu Terlarang. Awalnya sekedar coba-coba karena buku ini dijual dengan harga murah di sebuah book fair. Setelah membaca Pintu Terlarang, saya tidak berhenti berdecak kagum dengan kemahiran Sekar Ayu Asmara menjalin cerita. Saya selalu menemukan semacam bom dashyat di akhir cerita. Selalu. Selalu seperti itu. Itu juga saya rasakan setelah membaca Doa Ibu dan novel ini, kembar keempat.

Sebenarnya saya sedikit terusik dengan cover buku kembar keempat ini. Covernya terlalu metropop menurut saya. Ya….terlalu umum. Saya lebih suka cover yang senada dengan cover Pintu Terlarang dan Doa Ibu, ada ciri khas di sana. Saya tidak tahu, mungkin pemilihan cover yang ‘merakyat’ ini bertujuan untuk menarik segmen pembaca lebih luas lagi. Entahlah.

Saya juga sedikit terganggu dengan gaya bahasa yang dipakai Sekar Ayu Asmara di Bab awal. Benda-benda mati yang menjadi subjek aktif. Mungkin Sekar Ayu ingin menampilkan gaya bahasa yang berbeda. Namun untungnya gaya bahasa seperti itu tidak diteruskan sampai akhir. Karena tentu saja membacanya cukup melelahkan.

Selebihnya Sekar Ayu terasa sempurna menyajikan novel ini. Saya suka di setiap novel Sekar Ayu ada ciri khas. Saya menemukannya sebagai kalimat yang diulang-ulang, seperti mantra. Ciri khas misteri dan alur cerita yang sulit diprediksi juga membuat saya jatuh cinta pada tulisan-tulisan perempuan asal Jakarta ini. Kecerdasan Sekar Ayu juga tampak dari latar tempat yang berbeda-beda seperti New York, Istanbul, Mesir, dan tentu saja Indonesia. Sekar ayu secara mendetail mengungkapkan budaya dari masing-masing tempat.

Ini buku bagus. Memang agak berat dan membuat kita berpikir dan bertanya-tanya, namun buku ini patut sekali untuk dimiliki dan dikoleksi. Buku kembar keempat ini saya dapat dengan harga miring (20.000 rupiah) di stand diskon depan gramedia Royal Surabaya. Saya senang mendapat buku bagus dengan harga murah, tapi di sisi lain saya juga bertanya-tanya kenapa buku bagus ini dijual murah. Well! Sepertinya hanya orang-orang toko buku yang bisa menjawabnya…..

image

Cover “Kembar Keempat” by GPU, 2010

image

“Kembar Keempat” versi penerbit Akoer

image

image

Cover “Pintu Terlarang” dan “Doa Ibu” yang khas

Advertisements

4 thoughts on “Book Review: Kembar Keempat

  1. Uchi, aku baru baca pintu terlarang sama yg ini kembar ke empat. Aku lebih suka pintu terlarang apalagi dgn gaya bahasanya dan mengambil tema psikologis. Sampai terakhir bacanya, aku lempar bukunya ke lantai karena sebal ternyata semua cerita adalah omong kosong hahaha tapi yg kembar ke empat, aku juga melempar bukunya ke lantai bukan karena terkejut dgn endingnya, selama aku baca dan memaksakan diri untk menikmati isinya, aku ngerasa lagi nonton sinetron. Kesal. Apalagi gaya bahasanya seperti dibuat2 ngepop dikit. Tapi g bisa dipungkiri, aku banyak menemukan kata2 yg ganjil dan g pernah aku temui di bacaan mana pun. Namun sekar ayu asmara, tetap masih jadi idolaku hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s