Sheila on 7 conser

At tridharma gresik
25 January 2014
Ticket box : Rp 35.000
Partner : Siska Elviana

image

image

image

image

image

image

Advertisements

Pergilah dengan Bahagia

Aku mengemas satu persatu koperku yang kau lemparkan dengan sejuta alasan. Kau bekali aku dengan tiket pergi sekali jalan. Hanya bunyi deru kereta, tanpa bau badanmu, yang akan mengantarku ke tempat yang kau paksa aku untuk menuju. Setelah ini kamu akan tertawa. Meneguk kopimu dengan bahagia. Menghisap rokok kretekmu tanpa rasa bersalah.

Bangku-bangku kereta bicara padaku,
”Pergilah dengan bahagia, kau hanya sedang meninggalkan satu dosa.”

Review : Konser

Judul buku           : Konser
Penulis                  : Meiliana K. Tansri
Penerbit                 : Gramedia
Tahun Terbit          : 2009
Tebal                       : 296 halaman

Fajar, seorang pianis andalan Simfoni Bintang yang sangat berambisi menggelar sebuah konser tunggal. Ambisinya itu membawanya pada hubungan rumah tangga tanpa cinta dengan Elise, seorang putri konglomerat. Elise begitu mencintai Fajar, sedang Fajar hanya berpura-pura mencintai Elise supaya mertuanya bisa menyokong dana konser tunggalnya.

Semua rencana Fajar akan berjalan mulus andai saja tidak muncul gadis manis bernama Kirana. Kirana, seorang pemain biola berbakat yang langsung melejit dan menjadi idola di Simfoni Bintang. Kirana, dengan segala sifat dan kepolosannya mampu menumbuhkan benih-benih cinta dalam diri Fajar.

Manakah yang akan dipilih Fajar? Ambisinya menggelar sebuah konser tunggal yang megah, atau cintanya kepada Kirana? Bagaimana nasib Rumah tangganya dengan Elise?

Tidak dipungkiri bahwa hal pertama yang menarik dari sebuah buku adalah covernya karena bagaimana pun pepatah yang mengatakan don’t judge the book from it’s cover, tetap saja pertama kali saya pasti menjudge sebuah buku dari covernya. Perkecualian pada buku-buku penulis yang kita suka. Seburuk apapun covernya, pasti masuk keranjang belanja.

Menurut saya cover novel ini cukup elegan dan membuat penasaran. Tuts piano yang tampak di close up. Sederhana namun saya suka. Melihat cover ini entah kenapa membuat saya berpikir ‘sepertinya ini buku bagus’. Dan untuk novel metropop buku ini cukup bagus. Meskipun membaca ini, saya seperti melihat sebuah sinetron. Mudah ditebak alur ceritanya. Entah mungkin ini efek dari sisa membaca ‘Kembar Keempat’ karya Sekar Ayu yang menimbulkan kejutan-kejutan saat membacanya, sehingga otak saya secara tidak sadar membandingkannya.

Sosok Fajar membuat saya membayangkan seorang Nicholas Saputra sedang sosok Kirana mungkin akan pas dimainkan Maudy Ayunda bila seandainya saja Novel ini difilmkan. Ini hanya pendapat pribadi saya. Beda pembaca pastilah beda imajinasi dan bayangan.

Gaya bahasa di novel ini, seperti novel metropop lainnya, lancar, ringan dan mudah dimengerti. Novel ini membuat saya mempunyai sedikit bayangan tentang dunia musik orkestra, meskipun tidak dibahas secara mendalam. Paling tidak saya jadi tahu beberapa judul komposisi dari Mozart dan Beethoven. Saya juga mendapat sedikit pengetahuan tentang biola, dan ternyata sebuah biola bermerk stardivarius rupanya sangat di idolakan oleh pemain orkestra dan ternyata harganya dapat mencapai 1,2 milyar, setara dengan harga sebuah rumah.

Ada beberapa adegan dalam novel yang terasa janggal misalnya ketika Kirana diganggu oleh Elbert, seorang pemuda kaya dan ditolong oleh Sudarto Seperti adegan tempelan yang dipasang demi mempertemukan Kirana dan Sudarto.

Untuk menghabiskan akhir pekan dengan tenang dan bacaan ringan. Novel ini bisa jadi pilihan.

image

Dia Perempuan, Dia Lelaki

”Kenapa kamu pergi?”
”Karena kamu tidak memintaku untuk tinggal.”

Tidak! Kamu bahkan tidak pernah bertanya kenapa aku pergi. Kamu dengan mudah saja melepaskanku. Membiarkan aku pergi dengan mudah. Tanpa kata ‘Jangan!!’ apalagi kata-kata ‘Tetaplah di sini! Aku mencintaimu.’ Mungkin aku harus tidur dan bermimpi dulu untuk mendapatkan kata-kata itu keluar dari mulutmu yang manis. Menyakitkan? Pasti! Kamu bilang tidak ingin ambil pusing dengan semua ini. Kamu bilang aku membuat sebuah hubungan menjadi ruwet. Aku bilang, aku hanya ingin disayangi. Titik. Tapi kamu tidak pernah mengerti semua itu. Aku sudah mencoba bersabar mendapatkan kasih sayang yang sedikit, perhatian yang sedikit. Aku mencoba menjadi seorang yang memberikan kamu perhatian. Tapi tidak bisa. Aku adalah tipe perempuan yang selalu ingin disayang. Selalu ingin diperhatikan. Aku tipe perempuan yang ingin dicintai dengan ‘gila’. Beberapa lelaki lain mencintaiku dengan gila, tapi aku memilihmu, yang mencintaiku biasa saja. Kukira waktu akan membuatmu lebih mencintaiku. Tapi ternyata kau biasa saja. Sampai pada saat aku pergi pun, kamu dengan sangat mudah melepasku. Seolah aku adalah daun jatuh yang mudah saja kau tepis dari belahan rambutmu.

Aku menunggu. Menunggu kamu berubah pikiran. Menunggu kamu memanggilku kembali. Aku sedang menahan diriku untuk tidak menyapamu dan berkata ‘halo’. Aku sedang berusaha menahan jari-jariku yang begitu ingin menulis pesan untukmu. Aku ingin tahu bagaimana hidupmu, bagaimana perasaanmu. Apa kau merasa kehilangan? Apa kau merasa merindukanku? Aku ingin kamu yang datang dan menyapaku terlebih dahulu. Hal yang mungkin saja tidak akan pernah kamu lakukan. Dan bagiku itu artinya jelas. Kamu tidak pernah menyayangiku. Dan semua memang tidak layak dipertahankan.

Ada hujan yang mendera perempuan itu dan membuat pipinya basah. Perempuan itu duduk di taman ini sejak 51 menit yang lalu. Dia duduk di sana tetapi pikirannya sedang berada di tempat lain. Beberapa kali dia melihat ponselnya dengan gelisah. Seperti menunggu. Dan sepertinya dia tidak mendapatkan apa yang dia tunggu karena puncaknya adalah air mata itu. Perempuan itu akhirnya menangis setelah 51 menit bergulat dengan pikirannya yang entah apa. Bulir-bulir itu deras menghujani pipinya.

* * *

”Bagaimana perasaanmu setelah aku pergi?”
”Aku merasa bebas”

Dia, perempuan itu adalah tali, diikatnya aku dengan erat. Aku tidak suka. Aku adalah lelaki. Yang aku inginkan adalah kebebasan. Aku sudah bosan dengan rengekan-rengekannya. Aku bosan padanya yang berkata merindukanku setiap hari. Aku jengah dengan pesan-pesannya yang membanjiri poselku setiap hari. Aku ini lelaki yang sederhana. Tidak mau ambil pusing. Dia perempuan yang banyak maunya. Dia ingin aku mengiriminya pesan lebih dulu, dia ingin aku menemuinya setiap hari. Berlebihan sekali. Terlalu banyak aturan. Terlalu banyak acara dalam suatu hubungan. Tidak cukupkah selama ini aku meladeni pesan-pesannya yang tidak penting itu? Tidak cukupkah selama ini kusempatkan waktuku dua minggu sekali untuk mengantarnya kesana kemari? Itu tidak pernah cukup baginya. Maka ketika dia mulai mengeluh. Ketika dia mulai lelah denganku. Aku pun juga lelah dengannya. Ya…maka saat dia berkata akan pergi meninggalkanku aku diam saja. Tidak menahannya. Tidak berkata ‘jangan’. Tidak berusaha mencegahnya pergi. Aku ini lelaki yang simpel dan sederhana. Tidak mau repot. Tidak mau ambil pusing. Dia ingin pergi, biarlah dia pergi. Jangan berharap aku akan memanggilnya kembali. Aku tahu dia akan menangis menghadapi semua ini. Dia akan menangis berhari-hari karena menunggu pesanku yang tidak akan pernah dia temukan di ponselnya. Biarlah! Dia memang cengeng. Hal kecil semacam keterlambatanku menjemputnya saja bisa membuatnya menangis. Dia kekanak-kanakan. Dia harus diajari untuk belajar dewasa. Biarlah dia menangis. Aku tidak peduli. Aku tidak akan mengirim pesan padanya. Bagaimanapun. Aku lebih mementingkan harga diriku. Aku ini lelaki yang simpel dan sederhana. Tidak mau repot. Tidak mau ambil pusing. Biarlah. Tanpanya aku mendapatkan kebebasanku. Dia pergi? Biarlah.

Disulutnya rokok kesayangannya itu. Beberapa menit kemudian asap melambung dari mulutnya. Lelaki itu tampak berpikir. Beberapa kali dia tampak mendesah jengah. Sebelum akhirnya tersenyum. Setelah ini dia akan makan dan tidur. Lalu pergi ke bengkel untuk minum kopi dan membicarakan part motor yang dicarinya. Dia lelaki bebas sekarang.