Dia Perempuan, Dia Lelaki

”Kenapa kamu pergi?”
”Karena kamu tidak memintaku untuk tinggal.”

Tidak! Kamu bahkan tidak pernah bertanya kenapa aku pergi. Kamu dengan mudah saja melepaskanku. Membiarkan aku pergi dengan mudah. Tanpa kata ‘Jangan!!’ apalagi kata-kata ‘Tetaplah di sini! Aku mencintaimu.’ Mungkin aku harus tidur dan bermimpi dulu untuk mendapatkan kata-kata itu keluar dari mulutmu yang manis. Menyakitkan? Pasti! Kamu bilang tidak ingin ambil pusing dengan semua ini. Kamu bilang aku membuat sebuah hubungan menjadi ruwet. Aku bilang, aku hanya ingin disayangi. Titik. Tapi kamu tidak pernah mengerti semua itu. Aku sudah mencoba bersabar mendapatkan kasih sayang yang sedikit, perhatian yang sedikit. Aku mencoba menjadi seorang yang memberikan kamu perhatian. Tapi tidak bisa. Aku adalah tipe perempuan yang selalu ingin disayang. Selalu ingin diperhatikan. Aku tipe perempuan yang ingin dicintai dengan ‘gila’. Beberapa lelaki lain mencintaiku dengan gila, tapi aku memilihmu, yang mencintaiku biasa saja. Kukira waktu akan membuatmu lebih mencintaiku. Tapi ternyata kau biasa saja. Sampai pada saat aku pergi pun, kamu dengan sangat mudah melepasku. Seolah aku adalah daun jatuh yang mudah saja kau tepis dari belahan rambutmu.

Aku menunggu. Menunggu kamu berubah pikiran. Menunggu kamu memanggilku kembali. Aku sedang menahan diriku untuk tidak menyapamu dan berkata ‘halo’. Aku sedang berusaha menahan jari-jariku yang begitu ingin menulis pesan untukmu. Aku ingin tahu bagaimana hidupmu, bagaimana perasaanmu. Apa kau merasa kehilangan? Apa kau merasa merindukanku? Aku ingin kamu yang datang dan menyapaku terlebih dahulu. Hal yang mungkin saja tidak akan pernah kamu lakukan. Dan bagiku itu artinya jelas. Kamu tidak pernah menyayangiku. Dan semua memang tidak layak dipertahankan.

Ada hujan yang mendera perempuan itu dan membuat pipinya basah. Perempuan itu duduk di taman ini sejak 51 menit yang lalu. Dia duduk di sana tetapi pikirannya sedang berada di tempat lain. Beberapa kali dia melihat ponselnya dengan gelisah. Seperti menunggu. Dan sepertinya dia tidak mendapatkan apa yang dia tunggu karena puncaknya adalah air mata itu. Perempuan itu akhirnya menangis setelah 51 menit bergulat dengan pikirannya yang entah apa. Bulir-bulir itu deras menghujani pipinya.

* * *

”Bagaimana perasaanmu setelah aku pergi?”
”Aku merasa bebas”

Dia, perempuan itu adalah tali, diikatnya aku dengan erat. Aku tidak suka. Aku adalah lelaki. Yang aku inginkan adalah kebebasan. Aku sudah bosan dengan rengekan-rengekannya. Aku bosan padanya yang berkata merindukanku setiap hari. Aku jengah dengan pesan-pesannya yang membanjiri poselku setiap hari. Aku ini lelaki yang sederhana. Tidak mau ambil pusing. Dia perempuan yang banyak maunya. Dia ingin aku mengiriminya pesan lebih dulu, dia ingin aku menemuinya setiap hari. Berlebihan sekali. Terlalu banyak aturan. Terlalu banyak acara dalam suatu hubungan. Tidak cukupkah selama ini aku meladeni pesan-pesannya yang tidak penting itu? Tidak cukupkah selama ini kusempatkan waktuku dua minggu sekali untuk mengantarnya kesana kemari? Itu tidak pernah cukup baginya. Maka ketika dia mulai mengeluh. Ketika dia mulai lelah denganku. Aku pun juga lelah dengannya. Ya…maka saat dia berkata akan pergi meninggalkanku aku diam saja. Tidak menahannya. Tidak berkata ‘jangan’. Tidak berusaha mencegahnya pergi. Aku ini lelaki yang simpel dan sederhana. Tidak mau repot. Tidak mau ambil pusing. Dia ingin pergi, biarlah dia pergi. Jangan berharap aku akan memanggilnya kembali. Aku tahu dia akan menangis menghadapi semua ini. Dia akan menangis berhari-hari karena menunggu pesanku yang tidak akan pernah dia temukan di ponselnya. Biarlah! Dia memang cengeng. Hal kecil semacam keterlambatanku menjemputnya saja bisa membuatnya menangis. Dia kekanak-kanakan. Dia harus diajari untuk belajar dewasa. Biarlah dia menangis. Aku tidak peduli. Aku tidak akan mengirim pesan padanya. Bagaimanapun. Aku lebih mementingkan harga diriku. Aku ini lelaki yang simpel dan sederhana. Tidak mau repot. Tidak mau ambil pusing. Biarlah. Tanpanya aku mendapatkan kebebasanku. Dia pergi? Biarlah.

Disulutnya rokok kesayangannya itu. Beberapa menit kemudian asap melambung dari mulutnya. Lelaki itu tampak berpikir. Beberapa kali dia tampak mendesah jengah. Sebelum akhirnya tersenyum. Setelah ini dia akan makan dan tidur. Lalu pergi ke bengkel untuk minum kopi dan membicarakan part motor yang dicarinya. Dia lelaki bebas sekarang.

Advertisements

2 thoughts on “Dia Perempuan, Dia Lelaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s