Ada yang Salah dengan Kepalaku

Ini membuatku takut. Ingatan berulang kali mengkhianatiku. Ayolah!

Advertisements

Review : I Hear your Voice ( K- Drama)

I hear Your Voice adalah salah satu drama Korea yang mendapatkan animo positif, begitupun dengan rating, 8 dari 10 stars. Film ini diperankan oleh Lee Jong Soek, yang pasti digemari para remaja dan ABG, juga Lee Bo Young dan Yong Sang Kyung, aktris dan aktor senior di jagat perfilman Korea.

And Here the synopsis.

Sebuah drama dengan elemen fantasi dan komedi romantic. Menceritakan tentang Jang hye Sung (Lee Bo Young) seorang yang cuek, semaunya sendiri, dingin dan tidak peduli. Hye Sung menjadi seorang pengacara yang semaunya sendiri karena sebuah ketidakadilan dari masa lalunya.  Hye Sung  menjadi pengacara yang serius sejak bertemu dengan Park Soo Ha (Lee Jong Suk), anak SMA 19 tahun yang bias membaca pikiran orang lain denganmelihat matanya, dan Cha Kwan Woo (Yoon Sang Hyun), seorang pengacara polos yang hidup dengan sangat disiplin.

Jang Hye Sung sebenarnya adalah cinta pertama Park Soo Ha setelah Hye Sung menjadi saksi kunci pembunuhan ayah Soo Ha 10 tahun lalu. Soo Ha berjanji akan melindungi gadis yang bersaksi itu dari pembunuh ayahnya yang ingin balas dendam.

Judul I hear your Voice mungkin diambil dari kemampuan Soo Ha yang bias mendengarkan suara pikiran  orang lain, namun saya berpikir kalau ini bisa juga diambil dari cerita pengacara Jang dan Pengacara Cha yang mendengar suara kebenaran dari orang-orang yang tidak bersalah yang terjerat kasus hukum.

Film ini banyak menceritakan kasus-kasus hukum yang unik serta bagaimana cara Pengacara Jang dan Pengacara Cha melawan ataupun bekerja sama dengan jaksa Do Yoen menyelesaikan kasus tersebut. Beberapa kasus diantaranya adalah kasus Sun Bin, seorang gadis SMA yang dituduh melakukan percobaan pembunuhan pada teman sekelasnya yang sering diejeknya, Kasus tentang saudara kembar yang salah satunya membunuh orang dan terekam kamera CCTV namun menjadi masalah karena tidak ada yang bias membedakan siapa sebenarnya si pembunuh karena mereka kembar identic, kasus tentang bapak-bapak tua yang mencuri Koran, kasus 26 tahun pembunuhan 5 jari, juga kasus Min Joon Gook, pembunuh ayah Soo Ha.

Film ini akhirnya berputar pada masalah kasus peradilan tersebut dan juga cerita pembalasan dendan Min Joon Gook. Tidak salah bila film ini mendapat rating tinggi karena ceritanya selalu membuat penasaran pada setiap episodenya. Kakak saya sudah mewanti-wanti sebelum saya melihat film ini, kalau saya akan ketagihan bila melihatnya.

Well! Namun saya sedikit kecewa dengan ending yang terlalu bahagia seperti di film ini. Entah Kenapa!

 

“Whether it’s the world or relationship, what makes it peaceful can more often be the lies rather than the truth. Lies temporary seal a conflict, put anxiety to sleep. Some truth put discomfort to people. So they will rather disregard them. Telling the truth can be painful. That is why I close my eyes in front of the truth.” Park Soo Ha

 

Image

Image

7.19

7.19 saya datang terlalu pagi. Hari ini dingin. Saya memakai sweter merah muda milik Ibu saya dan celana jeans hitam ke tempat kerja. Kakak saya mengatakan saya seperti mau berangkat kuliah dengan setelan seperti itu, ditambah lagi saya memakai tas ransel biru kesayangan saya yang saya miliki sejak SMA. Ya memang begitu. Kadang saya berpakaian rapi ke tempat kerja, namun kadang juga saya memakai pakaian casual. Namun sepertinya memakai baby doll dan meringkuk di kasur lebih nyaman dan menyenangkan.

Tentang Menulis

Tidak menulis membuat saya seperti kehilangan diri. Dunia ilmiah membuat saya merasa lemah. Otak saya sekarang sepertinya tidak bersahabat. Short term memory. Ingatan seperti tamu yang singgah sebentar lalu pergi. Tanpa pamit. Karena itu tidak bisa tidak dunia imajinasi dan kreativitas rasanya lebih cocok untuk saya lakoni. Tapi nasib memaksa saya untuk terus berada dalam lajur ilmiah. Begitukah?

Dengan pekerjaan saya sekarang, tiap bulan saya mendapatkan gaji yang cukup besar. Saya bandingkan dengan honor menulis di majalah yang sekitar 300-400 ribu. Jika mau sama dengan penghasilan saya sekarang. Berarti dalam satu bulan saya harus mengirim sekitar 10 naskah cerpen dan kesepuluh cerpen itu harus dimuat. Mungkin mudah untuk penulis senior yang sekelas Seno Gumira, Guntur Alam yang cerpennya sering muncul di surat kabar nasional. Cerpen sastra honornya lumayan besar. Kompas konon sampai 1 jt. Dan menembus kompas rasanya masih jauh dengan kemampuan saya sekarang. Selama ini saya hanya mampu menembus majalah remajà. Well. Tidak apa-apa. Semuanya memerlukan proses. Tapi sepertinya kemampuan menulis saya tidak berkembang sekarang. Pekerjaan yang ilmiah ini cukup menguras waktu saya. Dan saya kehilangan moment-moment menulis, membaca cerpen, novel. Atau ini hanya semacam alibi dari kemalasan saya?
Kenapa tidak menyisihkan, misalnya 1 jam saja setiap hari untuk menulis. Entah menumpahkan curhatan sejenis ini, atau menumpahkan imajinasi?
Mengganti 1 jam tidur yang sia-sia dengan 1 jam yang lebih bermanfaat.
Well. Let’s try!